July 26, 2012

Guru Lintas Species


Pada suatu ketika, pernah aku singgah lumayan lama pada sebuah kota di Kalimantan Timur. Buku harianku tak pernah salah, di sana tercatat: 28 Juli 2011, aku, bersama empat rekan satu rombongan, tiba di Samarinda dalam rangka menjalankan tugas dari organisasi perlindungan orangutan yang kami relawani. Begitu sampai, aku beserta rekan langsung diantar ke pondok singgah, sekaligus markas dari Centre for Orangutan Protection (COP). Kebetulan, pondokan ini terletak di area Kebun Raya Universitas-Mulawarman Samarinda (KRUS); area hutan lindung yang luasnya 300 hektar, dengan keaneka-ragaman flora dan fauna di dalamnya. Persinggahan ini kemudian menuai banyak cerita, salah satunya adalah tentang ‘sekolah hutan’ atau forest school.

Bicara tentang sarana pendidikan, sekolah di hutan bukanlah hal baru di ranah edukasi dalam negeri.  Coba kita tengok ke belakang, pernah diberitakan dalam banyak media; Tarida Herawati adalah satu dari sekian pendidik yang berjasa dalam mengenalkan berbagai pelajaran bebas-kurikulum kepada masyarakat pedalaman Mentawai. Hal yang sama juga pernah dipraktikkan Butet Manurung, beliau tergerak untuk merintis ‘sekolah rimba’ bagi anak-anak Suku Anak Dalam. Sarana tersebut mereka cipta berdasarkan kepedulian murni terhadap golongan tertentu dari lingkup masyarakat nusantara yang belum dapat mengenyam pendidikan layaknya masyarakat kota.

Tetapi, apakah model pendidikan yang sama bisa diaplikasikan ke makhluk hidup lain?

Jawabannya bisa. Aku mengalami langsung sebuah praktik didik yang melibatkan saudara 'sepupu' kita sesama primata, orangutan, sebagai peserta.

Berawal dari perkenalanku dengan seorang perawat satwa bernama Junaedi (entah bagaimana asal-usulnya, beliau lebih suka dipanggil dengan nama Dayat). KRUS memang dilengkapi dengan fasilitas mini zoo, dan Om Dayat telah bekerja di kebun binatang ini sejak tahun 2001.

Om Dayat tergolong orang yang mudah akrab, tidak segan lagi bercakap sambil nyerocos menceritakan hal-hal yang juga banyak, biarpun perkenalan kami masih berusia hitungan jam. Beliau juga begitu bangga ketika menceritakan kemampuan-kemampuannya seperti lihai merawat kuda, gesit masuk-keluar kandang buaya, dan sangat suka mendampingi orangutan bersekolah.

Aku heran ketika mendengar istilah ‘orangutan bersekolah’. Om Dayat yang mulai menangkap keherananku lalu menawarkan sebuah ajakan, “Ayo, tanggal 30 kamu ikut forest school!”, mungkin beliau enggan menjelaskan kegiatan tersebut secara verbal. Aku membalas angguk tanda setuju.

Hari yang dinanti-nanti pun tiba. Tanggal 30 Juli 2011 pagi hari, aku bergegas menuju enclosure menemui Om Dayat dan Reza. Di sana, mereka sudah siap dengan siswa-siswa yang akan dibimbing. Pingpong, Antak dan Oki adalah tiga orangutan jantan peserta forest school hari itu.

Tempat yang dipilih untuk forest school adalah pepohonan rimbun yang berada tidak begitu jauh dari enclosure, agar mudah dikontrol. Sembari berjalan menuju ke sana, Reza yang menjabat sebagai captivity specialist di COP kemudian menjelaskan kepadaku tentang maksud dari sekolah hutan ini.

Rumah orangutan adalah hutan hujan tropis. Tempat lain yang dibuat mirip dengan habitat aslinya, seperti enclosure misalnya, tidak menjamin kenyamanan mereka dalam berperilaku alami. Bosan dan stres pun akan menghantui mereka yang sudah lama terkurung di dalam kandang. Untuk mengurangi efek buruk ini, metode penyegaran seperti forest school dan enrichment kemudian dibentuk. Metode tersebut juga berlaku bagi orangutan-orangutan yang akan dilepasliarkan, mereka perlu dilatih untuk bertahan hidup sebelum kembali ke alam liar.

Begitu sampai di lokasi, Oki langsung bergegas menuju pohon Ara yang tingginya lebih dari 15 meter. Ia memanjat penuh semangat, pindah dari dahan satu ke dahan lain. Sesampainya di puncak, ia memetik satu per satu buah Ara. Buah hijau sebesar gundu tersebut kemudian dimakannya secara perlahan.

“Umur Oki baru 4 tahun, tapi dia pintar. Suka manjat pohon sampai tinggi, pintar bikin sarang, dan sudah bisa mencari makanan sendiri.” ujar Om Dayat.

Materi yang diajarkan memang sebatas hal-hal dasar seperti memanjat pohon, mengenali jenis-jenis makanan di hutan, dan membuat sarang. Untuk mengenali makanan, mereka diajarkan bagaimana mencari buah dan sarang serangga, mengupas kulit pohon, dan memilih daun-daun muda.

Setelah lumayan lama memperhatikan Oki, aku beranjak mendekati Antak. Ia tampak diam saja sambil memeluk pohon, tidak banyak bergerak. Ketika jarak kami hanya tinggal selangkah, ia langsung menyergapku dari depan, kemudian pindah ke punggung, dan memelukku.

“Antak ini penakut, dia nggak pernah mau manjat pohon sampai tinggi. Dia juga paling suka digendong. Jadi harus sabar ngajarinnya.” jelas Reza.

Sangat susah untuk melepaskan cengkeraman kuat Antak. Dengan lagak marah, Reza langsung merangkul orangutan penakut itu dan memindahkannya kembali ke pohon.

“Nah, yang paling susah diajarin itu si Pingpong. Dia orangutan paling manja, udah kita anggap kaya' anak sendiri. Dia juga ngga pernah mau jauh dari orang, mungkin karena dulunya peliharaan. Jadi, harus lebih sabar dan bener-bener kita dampingi.” tambah Reza lagi.

Di tempat lain, Om Dayat tampak sibuk melepaskan genggaman erat Pingpong pada kakinya. Ia tidak pernah mau memanjat pohon dan lebih memilih berjalan-jalan di tanah sambil mencari kaki siapa saja untuk digelayuti. Perawat satwa ini kemudian memindahkan Pingpong ke pohon dan memberinya beberapa lembar daun muda. Cerita Reza ada benarnya juga, butuh pendekatan khusus untuk membimbing orangutan yang baru berumur 3 tahun tersebut.

Kelas ditutup setelah memakan waktu dua jam pelajaran, kami pun bergegas pulang. Sadar oleh suara aba-aba, Oki kemudian turun dari pohon dan berlari cepat ke jalan setapak menuju enclosure, Om Dayat sedikit berlari mengikutinya. Reza berjalan di depanku sambil menggendong Antak. Aku menyusul paling belakang, berjalan terakhir sembari menggandeng Pingpong.

Reza dan Om Dayat adalah dua dari sekian banyak contoh pendidik yang ideal. Kriteria yang mereka miliki pun sebenarnya sangat umum, yaitu; mengandalkan kerja keras, keikhlasan dan kesabaran dalam membimbing Pingpong dkk untuk menjadi sosok yang siap bila suatu saat nanti dilepasliarkan kembali ke rimba raya.

Praktik yang timbul dari kepedulian terhadap satwa tersebut dapat juga dijadikan sebagai bahan refleksi yang paling sederhana. Meskipun terkesan klise, ketulusan dan kesungguhan dalam mendidik, serta mengenali karakter dari murid-murid peserta didik, adalah etos yang wajib diaplikasikan ke model pendidikan berbentuk apapun.

(Photo courtesy of Centre for Orangutan Protection)

Daftar Istilah:

Enclosure: Kandang besar yang dibuat alami, penuh pepohonan dan dibuat semirip mungkin dengan habitat asli dari satwa yang hidup di dalamnya.

Enrichment: Bisa disebut ‘pengkayaan’, adalah media untuk membuat sibuk satwa-satwa yang hidup dalam penangkaran, pusat rehabilitasi, maupun kandang; agar perilakunya tidak monoton. Contohnya dengan memasang tali di dalam kandang orangutan, agar satwa ini dapat bergelantungan layaknya di hutan.

Captivity Specialist: Ahli penangkaran, atau orang yang memiliki keahlian khusus dalam merawat satwa yang tidak tinggal di habitat aslinya.

Mini Zoo: Kebun binatang dengan koleksi satwa terbatas, tidak sebanyak kebun binatang komersial seperti Ragunan misalnya.

1 comment: