July 3, 2012

Dieng Culture Festival III (2012): Serangkai Kombinasi Antara Pesta Rakyat, Upacara Sakral, dan Kebiasaan Klise.


Rasa ingin tahuku tentang Dieng sebenarnya sudah muncul sejak zaman kanak-kanak dahulu. Aku yang tinggal di Sumatera sama sekali tidak mengenali tempat tersebut, tetapi namanya sering terbaca ketika sedang bermain monopoli edisi Indonesia. Seiring waktu berjalan, rasa ingin tahu tersebut sedikit terjawab ketika ibu memberi hadiah sebuah kamus pengetahuan umum (baca: RPUL), tetapi tidak semata-mata membuat aku puas. Setelah tahu benar bahwa Dieng adalah tempat wisata yang menyajikan panorama alam, hasrat piknik pun timbul. Sadar akan kecakapan diri yang masih ala kadarnya, hasrat itu harus aku pendam, tetapi tidak bermaksud menghilangkan. Aku yakin suatu saat nanti akan terbuka kesempatan bagiku untuk menginjakkan kaki ke sana.


Maju ke depan, belasan tahun kemudian. Tepatnya pada Oktober 2009, bosan dengan rutinitas mengajari baca-tulis para buta aksara di Wiradesa (Pekalongan), membuat aku dan seorang rekan memutuskan untuk “kabur sejenak” ke Jogja. Bosan pula dengan jalur pulang melewati Batang-Weleri-Parakan-Temanggung-Secang-Magelang, kami mengubah jalur dengan memanfaatkan jalan alternatif menuju Jogja melewati Kajen-Kalibening-Karangkobar-Dieng-Wonosobo-Purworejo. Kami berhenti di Dieng. Badan pegal akibat duduk lama di atas kuda besi membuat kami tak punya pilihan lain, kami harus berisitirahat di sana. Tetapi hanya singgah sejenak karena langit sore memaksa kami untuk cepat-cepat melanjutkan perjalanan kembali. “Oh, ini yang namanya Dieng...” ucapku kala itu. Ucap dalam hati yang sebenarnya bermakna sarkas, sekaligus, ergh, sinis. Aku hanya melihat hamparan lahan pertanian kentang pada lereng bukit di sekitar jalan utama, bukit gundul, dan bukan pemandangan keindahan alam seperti yang tergambar dalam RPUL. Aku tak lagi terobsesi untuk benar-benar berwisata ke wilayah tersebut.


Tetapi kenyataan berkata lain. Aku memutuskan untuk kembali mengunjungi Dieng baru-baru ini, atau tiga tahun pasca kunjung singgah pertama, karena ngiler ingin melihat event mayor yang bertajuk Dieng Culture Festival secara langsung. Gelaran ini sudah aku saksikan di televisi sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2010. Perlu digaris-bawahi, aku datang untuk berwisata budaya. Aku berangkat Jumat siang, 29 Juni 2012, ditemani tiga kawan dekat menggunakan mobil pribadi, dan sampai di Dieng sekitar pukul 7 malam. Ternyata tak mudah mencari penginapan jelang event besar yang diselenggarakan selama dua hari tersebut, 30 Juni – 1 Juli 2012. Banyak homestay atau rumah singgah yang sudah dipesan dari jauh-jauh hari. Untung saja nasib baik masih berpihak kepada kami. Penginapan berhasil kami dapatkan setelah sebelumnya dioper ke sana-kemari oleh calo hotel yang menjajakan jasanya, satu malam dihargai Rp 300.000,-. Mahal memang, tetapi kami sudah terlalu lelah untuk mencari ruang tidur yang lebih murah.


Dieng Culture Festival, yang pada tahun 2012 ini adalah kali ketiga diselenggarakan, direncanakan dibuka pada hari Sabtu (30/6) mulai pukul 7 pagi. Tetapi rundown lagi-lagi hanya menjadi formalitas, kebiasaan bangsa Indonesia yang suka molor membuat gelaran tersebut baru benar-benar dimulai sekitar pukul 10 pagi. Acara dibuka dengan jalan sehat disertai pembubuhan tanda tangan pada kain putih panjang sebagai tanda peduli lingkungan. Pula karena kebiasaan bangsa kita yang masih acuh pada semboyan “buanglah sampah pada tempatnya”, peduli lingkungan tetap menjadi sebuah mitos. Petisi hanya menjadi sekadar petisi, tidak diikuti aksi yang benar-benar nyata karena masih banyak sampah berserak di mana-mana.


Acara dilanjutkan dengan minum Purwaceng bersama di depan Pendopo Soeharto-whitlam. Ribuan gelas disediakan bagi pengunjung. Minuman tersebut adalah ramuan kuno yang dapat meningkatkan kebugaran, katanya. Tak tanggung-tanggung, aku meminum tiga gelas sekaligus. Sayangnya, lagi-lagi karena kebiasaan klise seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, gelas berbahan kertas bekas Purwaceng itu terlihat berserak acak dari lahan parkir sampai ke lapangan pusat gelaran. Pengunjung seakan kurang peduli, banyak dari mereka yang kemudian mengkonsentrasikan diri pada stand-stand kerajinan lokal, hasil bumi, dan jajanan yang disusun dalam sebuah bazaar, di lapangan. Sementara itu, di atas panggung terlihat panitia sedang sibuk menyebutkan nomor doorprize yang jumlahnya tak sedikit, ada 400 hadiah siap dibagi.




Pentas kesenian juga ditampilkan dalam event ini. Dan, yang menarik untuk disimak adalah kesenian Rudad, sebuah seni beladiri yang menggabungkan budaya Islam dengan pencak silat. Para pendekar dengan seragam merah-putih saling unjuk jurus dalam satu barisan, diiringi oleh tabuhan rebana dan senandung shalawat. Pelepasan balon raksasa juga menandai kemeriahan hari itu, dilanjutkan dengan pertunjukkan wayang dan pesta kembang api malam harinya. Festival di hari pertama telah selesai.


Pada hari kedua, enam orang bocah sudah disiapkan untuk dipotong rambut gimbalnya. Rambut tersebut dipercaya sebagai turunan dari leluhur sekaligus penguasa Dieng, Ki Tumenggung Kolodete. Beliau adalah orang berpengaruh dari desa Tegalsari, Kretek. Cerita lokal mengkisahkan, pencalonan dirinya sebagai lurah ditolak oleh Kerajaan Mataram, sehingga membuat beliau malu lalu mengasingkan diri ke Dieng. Sebagai bukti cintanya terhadap dataran tinggi tersebut, beliau memohon kepada Dewata untuk tidak menghentikan garis keturunannya. Dewata menjawab dengan selalu menyisipkan anak-anak berambut gimbal pada keturunan-keturunan Tumenggung Kolodete sampai sekarang, mereka disebut anak gembel. Selain itu, terdapat pula mitos lain yang menyebutkan bahwa gimbal yang tumbuh di rambut anak-anak itu adalah sebuah simbol kesialan. Ki Tumenggung Kolodete ketiban sial tidak bisa menjadi lurah akibat rambut gimbalnya. Oleh karena itu, agar kesialan tidak ikut menimpa keturunan-keturunan beliau, ritual pencukuran rambut gimbal diselenggarakan secara turun temurun, sekaligus sebagai ajang tolak bala.

Upacara sakral ini dimulai dengan kirab yang dimulai dari rumah sesepuh adat setempat, Mbah Naryono. Arak-arakan dipermanis oleh gadis-gadis cantik yang menari lentik dengan irama musik Tek-tek (paduan alat musik dari bambu) sebagai latar, dilanjutkan dengan tari Rampak Yagso, Lengger, dan Singo Barong. Di depan, para sesepuh adat memimpin jalannya kirab, diikuti enam anak gembel yang didampingi orang tuanya masing-masing. Kirab lalu berhenti di komplek sumur Sendang Sedayu. Prosesi awal yang disebut jamasan akan dimulai. Anak-anak gimbal digiring ke arah sumur kuno tersebut untuk kemudian dibasahi rambutnya dengan air yang sudah dicampur dengan kembang tujuh rupa, air dari Sendang Buana, Tuk Kencen, Tuk Sibido, Tuk Bimalukar, Goa Sumur, Kali Pepek, dan air Sendang Sedayu itu sendiri.





Selesai jamasan, anak-anak gimbal kembali diarak menuju pusat kompleks Candi Pandawa. Sementara itu, mahar dan sesaji sudah tertata rapi di depan Candi Arjuna, bangunan utama dari kompleks yang digunakan sebagai arena cukur rambut gimbal. Keenam anak tersebut kemudian dicukur rambutnya di tangga candi oleh pejabat pemerintahan Banjarnegara seperti bupati, wakil bupati, dan kepala kepolisian yang didampingi oleh sesepuh adat. Tampak lancar di awal. Beberapa anak gembel yang dicukur rambutnya tidak malu berinteraksi, ekspresi wajah lucunya kadang dihadiahi riuh tepuk tangan oleh pengunjung. Namun, dipertengahan, terdapat satu anak wanita gimbal yang menangis ketika akan dicukur dan sulit untuk ditenangkan. Akhirnya, anak itu tetap dipotong rambut gimbalnya meski masih dalam keadaan tersedu-sedu. Prosesi dilanjutkan dengan ngalap berkah, di mana para pengunjung dipersilakan berebut nasi tumpeng di Telaga Warna. Ada mitos yang menyebutkan bahwa sesiapa yang berhasil mendapatkan nasi tersebut akan selalu dilimpahi keberkahan. Acara sakral ini kemudian ditutup dengan pelarungan rambut-rambut yang telah di potong ke Sungai Serayu yang bermuara di Laut Selatan.


Rangkaian prosesi pencukuran rambut gimbal selesai, sekaligus sebagai tanda berakhirnya Dieng Culture Festival III yang digelar selama dua hari. Sebuah gelaran yang sangat menarik. Aku sangat bangga kepada mereka yang terus memelihara kebudayaan nenek moyang hingga sekarang. Seharusnya, akan semakin lengkap keindahannya bila didukung oleh panorama alam yang benar-benar asli dan lestari, bukan bukit gundul lahan ladang kentang. Para pengunjung yang katanya peka budaya itupun harusnya malu ketika membuang sampah sembarangan. Semoga festival ini akan terus dilaksanakan dan tidak hilang spiritnya dihapus alam yang mulai marah.

4 comments:

  1. Adiiit, makasih tulisannya, jadi tau cerita DCF tahun ini. Nyesel kemarin gak bisa datang kesana, keknya jauh lebih rame dari tahun kemaren yak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, sama-sama, Sha. Wah, kalo disuruh ngebanding-bandingin sama yg tahun lalu aku gak tau sha. Aku baru dapet kesempatan dateng ke DCF ya yang ketiga baru2 ini. Dua gelaran sebelumnya gagal dateng gara2 "sok sibuk" terus, hahaha. Untung tahun ini seloooo :))

      Delete
  2. janjane wingi iso lho nebeng nginep neng TPL cah-cah antro:P

    ReplyDelete
    Replies
    1. angkatan piro sek? mengko raono sing kenal.. hahaha

      Delete