June 23, 2012

Me-"Native Narrative"-kan LAF Garden





Rangkain paragraf berikut merupakan buah tulis yang sekadar, kurang informatif, kronologi hanya seadanya dan tidak dilengkapi rekam visual di dalamnya. Tidak layak disebut sebagai "narasi dari satu peristiwa", pun belum layak disebut sebagai sebuah review dari konser/acara musik/gig. Saya hanya ingin menunjukkan kekaguman kepada sebuah grup musik kesukaan yang akhirnya "mampu juga" menelurkan sebuah album penuh. Tabik saya haturkan kepada kamu wahai pembaca.

Ini tentang sebuah showcase, yang berhajat adalah Lazy Room, sebuah grup musik shoegaze/dreampop asal Yogyakarta. Bertempat di taman kecil Langgeng Art Foundation (LAF), pada tanggal 22 Juni 2012, Jogja, malam hari  ~ dalam rangka melaunching secara resmi Native Narrative yang dirilis oleh Patetico Records (USA) dan didistribusikan di Indonesia oleh Paperplane Recording (Yogyakarta). Gelaran ini berhasil membuat saya kagum, meskipun tidak semegah dan sehingar-bingar Mogwai di Dago Tea House, Bandung, ujung tahun 2011 lalu.

Malam itu dibuka oleh Belkastrelka. Sedikit mundur dari jadwal, duo electropop asal Yogyakarta ini baru naik panggung pukul 8 lebih, tetapi sukses menjadi pengantar nuansa dreamy dengan membawakan lagu-lagu dari album pertama mereka yang berjudul “Penyusup Misterius dan Suara-Suara Aneh dari Kamar”. Sementara itu, LAF mulai penuh pengunjung, sebagian dari mereka memilih duduk di atas rumput taman dan sebagian yang lain memilih berdiri atau duduk pada bangku-bangku cafe(?) sembari menikmati soft-drink yang disediakan panitia.

Jelang pukul 9 malam, giliran Lazy Room yang mengambil-alih kendali ~ mereka kompak berseragam hitam-hitam. Introduction digeber pertama kali, dilanjutkan seluruh lagu yang terdapat pada album Native Narrative, termasuk My Eyes, Behind Her, dan lagu yang baru benar-benar saya dengarkan, Waiting Upon a Pillow. Mereka menyuguhkan sebuah kombinasi apik, kolaborasi post-rock dan dreampop "mengawang" (tak jauh beda dengan Korine Conception, Ansaphone, ataupun The Milo) dengan visual art yang berusaha menceritakan/menggambarkan sirat makna dari tiap-tiap lagunya, dilengkapi pula oleh suguhan film dokumenter durasi pendek berisi penjelasan masing-masing personil tentang tema besar yang mereka usung tersebut.

Menjelang akhir, segerombol mulai "berdesak" naik ke atas panggung, menyusul Lazy Room yang telah memainkan 3/4 bagian dari Take Me Home, lagu terakhir yang diperkaya oleh petikan okulele Wafiq "Ogi" Giotama (Answer Sheet). Mereka yang datang secara tiba-tiba itu adalah para kru, panitia, rekan si empu hajat, dan beberapa pengunjung (termasuk saya) ~ berbagi panggung dan berbaur, kemudian bersingalong meneriakkan penggalan lirik laa laa laa lala lalalala , di bawah cahaya lampu yang sengaja dibuat berkedap-kedip. Rangkaian acara selesai dengan keintiman. Layak kenang.


Selamat Lazy Room!!!


Take Me Home:


Waiting Upon a Pillow: 


*"Native Narrative hanya bisa dimengerti maksudnya setelah mendengar seluruh isi lagunya." Terang salah satu personil Lazy Room.

No comments:

Post a Comment