May 11, 2012

When I Was.. THIN


Tulisan iseng kali ini hadir berkat sebuah foto yang tidak sengaja saya temukan dalam folder lama, jarang sekali  saya sentuh dan sempat terlupakan. Satu yang mewakili kumpulan kala di mana massa tubuh membuat saya selalu tampil percaya diri, waktu hijau dulu. Berbeda dengan sekarang, angka 85 kg "berat" badan adalah mimpi buruk yang ngga buruk-buruk amat sih sebenernya, tetapi cukup membuat kekurangnyamanan dalam bepergian ketika seluruh pakaian ekstra besar masih belum selesai dicuci olah mba-mba laundry.

Sebuah rekam visual yang (bisa dikatakan) mewakili masa cemerlang, setidaknya begitu, karena cerita kejayaan sebagai anak muda hadir lewat ukuran tubuh yang hanya sebatas itu. Ada  dua cerita, mewakili kisah-kisah (jaya) lain, yang masih lekat di kepala. Pertama, ketika mewakili sekolah dalam seleksi paskibraka tingkat propinsi. Dalam sesi terakhir penilaian individu, cabang atletik, saya berlari melesat gesit berada nomor dua di belakang rival yang seorang siswa Taruna Nusantara. Praktis langsung saya dapatkan sebuah tiket masuk menjadi anggota "pasukan 17". Sedikit kecewa, selain lagi-lagi gagal mengalahkan sang rival dalam seleksi yang lebih tinggi (paskibraka tingkat nasional), tubuh yang lebih jangkung dari rekan-rekan sepelatihan membuat pembina urung memilih saya masuk ke dalam pasukan elit (pasukan delapan). Tetapi cukup lumayan, karena prestasi tersebut membuat kantung saya terisi uang saku berlimpah.

Kedua, di bidang olahraga. Sang pelatih basket di sekolah langsung menempatkan saya pada posisi small forward dalam seleksi tim untuk kejuaran regional, tubuh saya dinilai tidak cukup besar untuk menjadi power forward dan center. Tetapi, selang beberapa pertandingan, tiba-tiba saya diberi keleluasaan untuk memainkan ketiga peran itu sekaligus. Menurut beliau, saya cukup mahir melakukan rebound dan kuat beradu fisik ketika menjaga daerah pertahanan. Lewat kemampuan itu pula saya dikirim untuk mengikuti seleksi tim PON propinsi dan masuk binaan salah satu klub basket nasional di Solo (meski hanya bertahan satu minggu), keduanya gagal saya maksimalkan. Beruntungnya, saya masih mempunyai cukup penggemar di sekolah, perempuan-perempuan unyu adik kelas. Hahaha...

Keduanya (meskipun ngga oke-oke amat) selalu membuat saya senyum-senyum sendiri ketika mengingatnya, betapa saat-saat itu adalah masa suka-suka penuh percaya diri dan prestasi(?). Berbeda dengan sekarang di mana  saya seringkali dipusingkan oleh tanggung jawab ini-itu dan kekurangpedean ketika tampil dengan perut buncit menggembul. Tetapi, tidak ada salahnya  sekali-kali "atret" atau mundur ke belakang untuk sekadar mengenang masa jaya kan? Karena hidup itu sendiri, menurut saya, bukan yang melulu menuntut "move on".



Ternyata, saya cukup pantas disebut seksi, waktu kurus dulu. Hahaha... modyaaaaaaaaar!

4 comments:

  1. seksi? iya aja dah biar cepet.

    ReplyDelete
  2. Widih Abas, pasti waktu SMA digandrungi wanita2 hahahahaha. sayang sekarang digandrungi lelaki2 :P

    ReplyDelete
  3. hahahaha, asem ik.. perempuan, nya, bukan wanita :p

    ReplyDelete
  4. sama aja, daripada dari dulu di gandrungi pria. jadi model pliss

    ReplyDelete