April 19, 2012

Tiga Bulan di Tanah Borneo

Bagian yang ini mungkin akan lebih tepat kusebut sebagai pelengkap yang kurang lengkap, karena sebenarnya sudah sempat aku menuliskan sebagian tentang Borneo, baik tersurat maupun tersirat, tahun lalu, dan memang belum tuntas benar. Kali ini aku berusaha (sedikit) merangkum semuanya. Pertama kali aku menuliskan kisahnya dalam rekam petualangan seru menuju Muara Wahau dalam tulisan Ironi Yang Sekadar dan berlanjut kemudian dengan tulisan-tulisan lain di jejaring sosial sampai kepada prosa-prosa berbau romansa yang manisnya melebihi gula-gula (hahaha, khusus reroman ini, aku kecewa dengan cara menulisku kala itu).

Pertama-tama, sedikit aku akan melanjutkan cerita awal, yang lebih inspiratif dan bermakna tentunya, tentang perjalanan jauh ke utara Borneo yang menurutku dapat mewakili kondisi Kalimantan Timur pada umumnya. Potret penjajahan baru sudah dapat terwakilkan dengan melihat kondisi Muara Wahau yang sebenarnya. Sebuah kecamatan di Kutai Timur tersebut sebenarnya sudah cukup kaya untuk dibilang makmur, kekayaan alamnya berlimpah. Namun sayang, ulah korporasi membuat hasil bumi tersebut tak berjaminan untuk dapat dinikmati seluruh warga lokalnya. Sedikit buktinya, fasilitas pendidikan yang hanya seadanya, kondisi jalan jauh dari layak lintas, dan pemberdayaan masyarakat yang lebih kepada pembodohan (berkaitan pula dengan kurangnya fasilitas pendidikan). Warga lokal ibarat zombie yang diberdayakan oleh dukun Voo Doo berkedok korporasi. Apa saja mereka lakukan demi kemajuan perusahaan, tapi tak sadar bila sedang di-brainwash, yang berakibat buruk bagi kelangsungan lingkungan mereka. Ya, eksploitasi berlebih tanpa kenal welas asih, terhadap alam.

Setelah 10 hari ber-ironi di Muara Wahau, aku dan rekan akhirnya pulang ke Samarinda, pada awal minggu ke-2 Agustus 2011. Rutinitas kembali seperti sediakala, seperti berganti jaga mengurus Uci dan Icel, dua bayi orangutan yang ada di klinik (sekaligus basecamp tempat kami tinggal). Mereka adalah dua bayi orangutan yang berhasil direscue oleh Centre for Orangutan Protection, yatim-piatu, yang entah bagaimana ceritanya (selain sebatas hasil rescue), aku lupa sejarahnya, sudah ada di klinik jauh sebelum kedatangan kami ke Samarinda pada penghujung Juli 2011. Mereka jugalah yang kemudian memberi pengalaman baru bagiku di dunia primata. Dua bayi orangutan ini adalah primata endemik Indonesia yang pertama-kali kusentuh, kugendong, dan kuciumi layaknya anak sendiri. Kebenaran teori bahwa 97 persen DNA orangutan mirip dengan manusia berhasil aku buktikan langsung setelah hari demi hari menjaga keduanya di klinik. Layaknya bayi manusia, mereka menangis sekuatnya ketika kehabisan susu, buang kotoran, maupun saat terjaga dari tidur. Selain itu, mereka memang sangat butuh perhatian lebih, seorang bayi tidak bisa lepas dari ibunya, oleh karenanya, banyak waktu digunakan untuk menggendong mereka sembari mengajak bermain.

Ada beberapa rutinitas lain yang juga aku kerjakan dengan beberapa rekanan. Menjadi tutor orangutan-orangutan muda yang ada di enclosure pada tiap forest school sudah aku tulis di sini dan di sini, school visit ke sekolah-sekolah di kota Samarinda ada di sini, dan membuat mainan-mainan baru (enrichment) untuk semua orangutan yang ada di Kebun Raya Unversitas-Mulawarman Samarinda juga aku rangkum di sini.

Akhirnya, setelah hampir 3 bulan berkegiatan di tanah Borneo, masa tugas berakhir, aku dan rekanan harus kembali ke Jawa pada pertengahan Oktober 2011, meninggalkan kawan-kawan baru, dari Animal Keeper sampai warga di sekitar kebun raya. Apa yang sudah aku lakukan di sana, kesemuanya, adalah pengalaman-pengalaman baru yang membuat jalur hidupku kembali beraneka tahun lalu. Banyak kesan, dari yang bahagia sampai sesedihan, dan entah mengapa, sampai saat ini, angan selalu terngiang akan kenangan-kenangan dari tanah kaya tersebut. Tiap-tiap ceritanya seakan memanggil: “Kembalilah ke sini!”.

Di sela perjalanan menuju Muara Wahau


Uci dan Icel.


Forest School.
Membuat enrichment.
Bermain bersama anak-anak sekitar basecamp.


The Team.

No comments:

Post a Comment