March 12, 2012

Karimunjawa

Karimunjawa mungkin hanya sebuah tempat yang biasa saja bagi sebagian orang, karena Raja Ampat lah yang sedang tenar sebagai tempat berkesan. Namun bagiku, tempat itu (Karimunjawa) memberi banyak pengalaman yang mengesankan. Membantu sebuah organisasi yang bergerak di bidang kesejahteraan satwa aku lakoni demi sifat hausku akan pengalaman yang tak habis-habis.

Akhir Maret 2011 aku berangkat bersama teman-teman dekat yang juga merupakan animal rights enthusiast. Belasan jam kami arungi untuk mencapai kepulauan indah tersebut. Karena ini merupakan pengalaman pertama, aku begitu antusias ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau utama bagian dari kepulauan tersebut, Pulau Karimun, yang merupakan pusat bagi pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Menumbuhkan kesadaran konservasi adalah misi utama yang kami bawa. Karimun adalah daerah berpotensi, pariwisatanya berkembang pesat sejalan dengan perekonomiannya. Kami datang untuk menyadarkan warga yang tidak sadar akan hal tersebut.

Ada beberapa kegiatan yang aku dan teman-teman programkan di wilayah tersebut. Bersih pantai kami koordinasi setiap minggu, edukasi tentang konservasi kami lakukan bergantian di sekolah-sekolah, dan juga aksi langsung dalam hal perlindungi satwa.

Organisasi yang menaungi kami membuat semacam tempat rehabilitasi bagi Lumbalumba (program utama) dan monyet ekor panjang endemic di wilayah tersebut, juga dibuat tempat penangkaran bagi penyu sisik. Sayangnya, program rehabilitasi Lumbalumba tidak berjalan dengan maksimal. Uang banyak terbuang sia-sia untuk membuat kandang rehabilitasi (sea pen) yang tak kunjung diisi. Pemerintah hanya setengah-setengah dalam membantu. Sedangkan para mafia sirkus sangat keras kepala, enggan menyerahkan Lumbalumba ilegalnya untuk direhab untuk kemudian dilepas-liarkan. Tak heran, karena inilah Indonesia.

Namun, pencapaian maksimal dari program lain sudah cukup menghibur lara kami akan kegagalan program utama. Puluhan monyet yang dipelihara warga berhasil kami kembalikan ke habitat aslinya, juga ratusan tukik (anakan penyu) berhasil kami selamatkan dan bisa berenang bebas di laut menyusul induknya.

Kedekatan kami dengan warga setempat juga menambahkan kesan mendalam. Kami menyewa sebuah resort untuk dijadikan basecamp di Pulau Kemujan, sangat berdekatan dengan Pulau Karimun karena hanya dibatasi oleh terusan sempit mirip anakan sungai. Anak-anak kecil di sekitar basecamp selalu menemani kami ketika senggang, kami suka beradu ketangkasan dalam berenang dan menyelam di laut. Orang tua mereka pun tak kalah ramah, ada beberapa yang sering mampir dan berbagi cerita dengan kami ketika baru pulang dari melaut.

Tak disangka, tiga bulan ternyata telah dilalui begitu saja, terkesan singkat karena berjalan sekejap. Minggu kedua Juni 2011 aku dan teman-temanku akhirnya pulang ke Jogja diiringi perasaan haru karena harus meninggalkan sahabat-sahabat baru.









Hal-hal yang belum sempat ku tulis di tahun 2011


Tak terasa, sudah usang aku punya media. Tentang hari lalu, jemari sepertinya malu dalam puluhan hitung mundur. Kepala kering kemarau panjang walau belum tahunan. Pohon otak enggan berbuah mungkin perlu disiram. Hambat apa kira-kira yang mempengaruhi?

Ada banyak kisah yang tidak terangkum, dan tidak sedikit pula yang hilang oleh sebuah kata sifat, sebut saja malas. Banyak sekali malas yang malas pula aku sebutkan satu per satu. Aku PEMALAS, hal ini yang layak disebut sebagai hambatan.

Tahun 2011 telah berlalu begitu saja. Ada beberapa pencapaian yang sangat layak dikenang sepanjang masa, karena memang bisa dicapai dengan usaha sedemikian rupa. Namun, hanya satu target yang lagi-lagi sulit untuk digapai, ya, tentang pendidikan, kelulusan dari jenjang universitas kembali menjadi hanya sekadar wacana. Di luar itu, yang aku raih adalah hal-hal yang (mungkin) bisa dibilang begitu positif.

Jiwa petualangku belum juga luntur, begitu juga sifat keras kepala yang masih saja menjauhkan aku dari niat mulia mengetik skripsi. Tapi boleh kiranya bila yang kukenang adalah yang positif-positif saja. Berikut akan kurangkum sedikit dari petualanganku selama mengarungi 2011 yang untung saja masih tersimpan baik di kepala, karena yang sedikit ini yang paling berkesan.

Berbeda dengan tahun 2010 yang mana aku berpetualang ke ibukota hanya dengan berpedoman orientasi uang belaka, tahun 2011 lalu aku murni menjadi pekerja sukarela. Uang tabungan hasil kerja keras hasil menjajakan tenaga di ibukota aku gunakan untuk menopang segala kebutuhan selama berpetualang tahun lalu.

Tahun 2012 memang telah melaju begitu cepat, tapi tak ada kata terlambat untuk berkilas balik. Berikut ceritanya:


- Karimunjawa
- Borneo

March 10, 2012



Kemalasan susah diakui oleh diri sendiri akibat kesombongan maha tinggi. Jiwa masih saja enggan untuk membuat sesuatu, kendati pun raga menyiratkan sinyal kuat untuk bergerak maju.