December 3, 2012

Halo, Dunia!


Halo, Dunia.

Apakah engkau resah menanti jejamah dan raba tanganku beberapa minggu belakangan? Hari-hari berat, Dunia. Sulit menyapamu ketika kepala masih dibebani setumpuk besi karat, berat. Ada sekian macam drama tentang kehidupan pulau tropis yang kini makin kentara kerasnya.

Ada dia Si Bayi, cecunguk kecil yang lupa daratan setelah diberi posisi yang bagus. Manis dan tampak bertanggung jawab di hadapan orang-orang dewasa. Tapi di belakang, tak ada kerjanya. Busuk!

Ada pula dia Si Tua. Bermuka dua (juga). Hidupnya mengambang di antara Si Baik dan Si Jahat, dia pandai membagi kantungnya sama rata demi keping emas dari keduanya. Setan!

Kasihan Si Baik, terombang-ambing ke sana ke mari bagai debu yang tak mengerti arah laju, kecuali bila digiring oleh sang angin. Jalan berkelok yang ia lalui makin dipersulit oleh lubang di sana-sini. Bahkan Si Jahat dengan liciknya telah menggiring Si Baik ke tepian jurang. Sekali dorong, hancur kebaikan yang telah ia ramu tiga ratus hari ke belakang.

Ya, memang sangat sulit berkelakuan baik di bumi tropis ini. Banyak kekonyolan yang bahkan mega lucunya, hingga tawa dapat seketika berubah menjadi tangis.

Begitulah berat hari-hariku belakangan, Dunia. Aku hidup pada kubu yang penuh konflik, susah mencari fokus akan utopia yang telah kuracik. Aku bagai seonggok sampah di tengah lapangan, pasrah menunggu kesadaran sosok yang rela memungut dan menempatkanku ke tujuan akhir, ke tempat sampah.

Namun, tiba-tiba muncul sosok baru yang juga baik. Lewat kotak ajaib, ia kirimkan bongkahan es ke ruang kepala. Tak disangka, kepalaku berubah dingin seketika. Putus asa belum juga jadi menenggelamkan angan, justru angan yang perlahan bangkit ke permukaan. Tak jadi buruk kondisiku, Dunia. Bahkan kini, aku siap menjamah tiap jengkal tubuhmu dengan stamina tinggi.

Betul, memang lucu bumi kita.
Arena parodi konyol mega tawa,
juga tangis,
miris.
Namun, masih tetap ada keindahan
yang terselip di beberapa lini.
  

Penuh cinta,
Jiwa.

November 21, 2012



Sudah kamu rasakan mabuknya? Kini pulanglah! Tidak lama lagi kita akan bertemu, dan luapanmu akan aku cacah di tempat yang kamu utarakan sebagai taman paling indah.


September 5, 2012

Remember September





Years go by and time just seems to fly, dan ya, kita masih bermain dalam kereta yang sama. Memanjat dinding gerbong hingga ke atap, berlari di atasnya, berkejar-kejaran, tanpa mau turun ketika kereta berhenti di stasiun singgah.

"Kapan kiranya jalur baru dibangun? Menuju laut."

"Kenapa laut? Bosan tidur di bordes?"

"Bosan dengan asin peluhmu tepatnya."

"Sial..."


August 8, 2012


'Dalam banyak hal, hierarki memang harus sesering mungkin dicederai, agar si empunya hierarki tadi menyadari bahwa dirinya orang yang tidak becus kerja, orang yang tidak penting dan bukan siapa - siapa.'

- Hardi Baktiantoro -

July 26, 2012

Guru Lintas Species


Pada suatu ketika, pernah aku singgah lumayan lama pada sebuah kota di Kalimantan Timur. Buku harianku tak pernah salah, di sana tercatat: 28 Juli 2011, aku, bersama empat rekan satu rombongan, tiba di Samarinda dalam rangka menjalankan tugas dari organisasi perlindungan orangutan yang kami relawani. Begitu sampai, aku beserta rekan langsung diantar ke pondok singgah, sekaligus markas dari Centre for Orangutan Protection (COP). Kebetulan, pondokan ini terletak di area Kebun Raya Universitas-Mulawarman Samarinda (KRUS); area hutan lindung yang luasnya 300 hektar, dengan keaneka-ragaman flora dan fauna di dalamnya. Persinggahan ini kemudian menuai banyak cerita, salah satunya adalah tentang ‘sekolah hutan’ atau forest school.

Bicara tentang sarana pendidikan, sekolah di hutan bukanlah hal baru di ranah edukasi dalam negeri.  Coba kita tengok ke belakang, pernah diberitakan dalam banyak media; Tarida Herawati adalah satu dari sekian pendidik yang berjasa dalam mengenalkan berbagai pelajaran bebas-kurikulum kepada masyarakat pedalaman Mentawai. Hal yang sama juga pernah dipraktikkan Butet Manurung, beliau tergerak untuk merintis ‘sekolah rimba’ bagi anak-anak Suku Anak Dalam. Sarana tersebut mereka cipta berdasarkan kepedulian murni terhadap golongan tertentu dari lingkup masyarakat nusantara yang belum dapat mengenyam pendidikan layaknya masyarakat kota.

Tetapi, apakah model pendidikan yang sama bisa diaplikasikan ke makhluk hidup lain?

Jawabannya bisa. Aku mengalami langsung sebuah praktik didik yang melibatkan saudara 'sepupu' kita sesama primata, orangutan, sebagai peserta.

Berawal dari perkenalanku dengan seorang perawat satwa bernama Junaedi (entah bagaimana asal-usulnya, beliau lebih suka dipanggil dengan nama Dayat). KRUS memang dilengkapi dengan fasilitas mini zoo, dan Om Dayat telah bekerja di kebun binatang ini sejak tahun 2001.

Om Dayat tergolong orang yang mudah akrab, tidak segan lagi bercakap sambil nyerocos menceritakan hal-hal yang juga banyak, biarpun perkenalan kami masih berusia hitungan jam. Beliau juga begitu bangga ketika menceritakan kemampuan-kemampuannya seperti lihai merawat kuda, gesit masuk-keluar kandang buaya, dan sangat suka mendampingi orangutan bersekolah.

Aku heran ketika mendengar istilah ‘orangutan bersekolah’. Om Dayat yang mulai menangkap keherananku lalu menawarkan sebuah ajakan, “Ayo, tanggal 30 kamu ikut forest school!”, mungkin beliau enggan menjelaskan kegiatan tersebut secara verbal. Aku membalas angguk tanda setuju.

Hari yang dinanti-nanti pun tiba. Tanggal 30 Juli 2011 pagi hari, aku bergegas menuju enclosure menemui Om Dayat dan Reza. Di sana, mereka sudah siap dengan siswa-siswa yang akan dibimbing. Pingpong, Antak dan Oki adalah tiga orangutan jantan peserta forest school hari itu.

Tempat yang dipilih untuk forest school adalah pepohonan rimbun yang berada tidak begitu jauh dari enclosure, agar mudah dikontrol. Sembari berjalan menuju ke sana, Reza yang menjabat sebagai captivity specialist di COP kemudian menjelaskan kepadaku tentang maksud dari sekolah hutan ini.

Rumah orangutan adalah hutan hujan tropis. Tempat lain yang dibuat mirip dengan habitat aslinya, seperti enclosure misalnya, tidak menjamin kenyamanan mereka dalam berperilaku alami. Bosan dan stres pun akan menghantui mereka yang sudah lama terkurung di dalam kandang. Untuk mengurangi efek buruk ini, metode penyegaran seperti forest school dan enrichment kemudian dibentuk. Metode tersebut juga berlaku bagi orangutan-orangutan yang akan dilepasliarkan, mereka perlu dilatih untuk bertahan hidup sebelum kembali ke alam liar.

Begitu sampai di lokasi, Oki langsung bergegas menuju pohon Ara yang tingginya lebih dari 15 meter. Ia memanjat penuh semangat, pindah dari dahan satu ke dahan lain. Sesampainya di puncak, ia memetik satu per satu buah Ara. Buah hijau sebesar gundu tersebut kemudian dimakannya secara perlahan.

“Umur Oki baru 4 tahun, tapi dia pintar. Suka manjat pohon sampai tinggi, pintar bikin sarang, dan sudah bisa mencari makanan sendiri.” ujar Om Dayat.

Materi yang diajarkan memang sebatas hal-hal dasar seperti memanjat pohon, mengenali jenis-jenis makanan di hutan, dan membuat sarang. Untuk mengenali makanan, mereka diajarkan bagaimana mencari buah dan sarang serangga, mengupas kulit pohon, dan memilih daun-daun muda.

Setelah lumayan lama memperhatikan Oki, aku beranjak mendekati Antak. Ia tampak diam saja sambil memeluk pohon, tidak banyak bergerak. Ketika jarak kami hanya tinggal selangkah, ia langsung menyergapku dari depan, kemudian pindah ke punggung, dan memelukku.

“Antak ini penakut, dia nggak pernah mau manjat pohon sampai tinggi. Dia juga paling suka digendong. Jadi harus sabar ngajarinnya.” jelas Reza.

Sangat susah untuk melepaskan cengkeraman kuat Antak. Dengan lagak marah, Reza langsung merangkul orangutan penakut itu dan memindahkannya kembali ke pohon.

“Nah, yang paling susah diajarin itu si Pingpong. Dia orangutan paling manja, udah kita anggap kaya' anak sendiri. Dia juga ngga pernah mau jauh dari orang, mungkin karena dulunya peliharaan. Jadi, harus lebih sabar dan bener-bener kita dampingi.” tambah Reza lagi.

Di tempat lain, Om Dayat tampak sibuk melepaskan genggaman erat Pingpong pada kakinya. Ia tidak pernah mau memanjat pohon dan lebih memilih berjalan-jalan di tanah sambil mencari kaki siapa saja untuk digelayuti. Perawat satwa ini kemudian memindahkan Pingpong ke pohon dan memberinya beberapa lembar daun muda. Cerita Reza ada benarnya juga, butuh pendekatan khusus untuk membimbing orangutan yang baru berumur 3 tahun tersebut.

Kelas ditutup setelah memakan waktu dua jam pelajaran, kami pun bergegas pulang. Sadar oleh suara aba-aba, Oki kemudian turun dari pohon dan berlari cepat ke jalan setapak menuju enclosure, Om Dayat sedikit berlari mengikutinya. Reza berjalan di depanku sambil menggendong Antak. Aku menyusul paling belakang, berjalan terakhir sembari menggandeng Pingpong.

Reza dan Om Dayat adalah dua dari sekian banyak contoh pendidik yang ideal. Kriteria yang mereka miliki pun sebenarnya sangat umum, yaitu; mengandalkan kerja keras, keikhlasan dan kesabaran dalam membimbing Pingpong dkk untuk menjadi sosok yang siap bila suatu saat nanti dilepasliarkan kembali ke rimba raya.

Praktik yang timbul dari kepedulian terhadap satwa tersebut dapat juga dijadikan sebagai bahan refleksi yang paling sederhana. Meskipun terkesan klise, ketulusan dan kesungguhan dalam mendidik, serta mengenali karakter dari murid-murid peserta didik, adalah etos yang wajib diaplikasikan ke model pendidikan berbentuk apapun.

(Photo courtesy of Centre for Orangutan Protection)

Daftar Istilah:

Enclosure: Kandang besar yang dibuat alami, penuh pepohonan dan dibuat semirip mungkin dengan habitat asli dari satwa yang hidup di dalamnya.

Enrichment: Bisa disebut ‘pengkayaan’, adalah media untuk membuat sibuk satwa-satwa yang hidup dalam penangkaran, pusat rehabilitasi, maupun kandang; agar perilakunya tidak monoton. Contohnya dengan memasang tali di dalam kandang orangutan, agar satwa ini dapat bergelantungan layaknya di hutan.

Captivity Specialist: Ahli penangkaran, atau orang yang memiliki keahlian khusus dalam merawat satwa yang tidak tinggal di habitat aslinya.

Mini Zoo: Kebun binatang dengan koleksi satwa terbatas, tidak sebanyak kebun binatang komersial seperti Ragunan misalnya.

July 24, 2012

Postcard: Geliat 'Bocah-bocah POP!' Skotlandia Dalam Rangkum Singkat Kronologi


Postcard Records (Glasgow, 1979 – 1981)

Di penghujung dekade 1970-an, di saat punk dianggap sudah runtuh, ketika grup musik penggeraknya yang tadinya sangat kokoh berjalan di jalur independen kemudian tersandung oleh iming-iming uang berlimpah dari label rekaman besar (major label); datanglah Alan Horne dengan mimpi sederhananya, berusaha meneruskan etos punk lewat jalur post-punk dengan balutan musik pop independen yang cerdas. Beliau yang baru berumur 19 tahun kala itu membentuk sebuah label rekaman (record label) independen yang kini dikenal dengan nama Postcard Records, bermarkas di kota Glasgow (Skotlandia) dan berdiri pada tahun 1979. Dalam dua tahun yang singkat, Alan berhasil merilis beberapa karya yang terus menginspirasi khalayak pop-underground di pelosok dunia sampai sekarang. Tanpa Postcard Records, kemungkinan besar tak akan lahir “C86”, The Smiths,  Sarah Records (salah satu label rekaman indie yang sangat memegang teguh etos do-it-yourself dan sangat anti-korporasi), dan indie(pop) itu sendiri.

Pada awalnya, Alan tertarik dengan grup musik bernama Nu-Sonics yang dipimpin oleh teman satu sekolahnya, Edwyn Collins. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua sepakat memproduksi sebuah single yang kemudian diberi judul ‘Falling and Laughing’. Nu-Sonics lalu berganti nama menjadi Orange Juice pada tahun 1979, dan single tersebut dirilis pada bulan April 1980; sekaligus menjadi produk pertama yang dikeluarkan oleh  Postcard Records.


Dengan mengusung tema cinta dan kemurnian ‘Falling and Laughing’ menandai sebuah pergeseran baru, dan tentu saja sangat berbeda dengan apa yang sering disuarakan oleh grup musik post-punk pada umumnya kala itu. Lagu tersebut juga dilengkapi karakter suara yang lebih cerah, sangat bertolak belakang dengan jenis-jenis irama gelap yang dihasilkan oleh grup musik seangkatannya, Joy Division misalnya; dan single ini disebut-sebut sebagai cikal bakal dari indie(pop), jenis musik yang diusung ‘C86 movement’ enam tahun kemudian.

Pada bulan September 1980, Postcard kembali merilis sebuah single dari Orange Juice berjudul ‘Blue Boy’; sebuah rilisan yang dibuat dalam paket ganda dengan single lain ‘Radio Drill Time’ karya grup musik post-punk asal kota Edinburgh, Josef K. Berbeda dengan Orange Juice yang lebih ceria, nada-nada yang dihasilkan Josef K cenderung berkarakter gelap, bisa disetarakan dengan aksi post-punk asal Manchester, Joy Division. Perbedaan ciri khas ini tidak menimbulkan persaingan sama sekali, kedua grup musik tersebut malah bergerak dalam satu payung yang sama, yaitu Postcard Records. Edinburgh kemudian menjadi kota kedua setelah Glasgow yang menandai sebuah pergerakan skena post-punk di Skotlandia.

Jelang tutup tahun, Postcard juga merilis aksi lain dari negara berbeda. The Go-Betweens yang berkebangsaan Australia dirilis singlenya pada bulan November 1980, berjudul ‘I Need Two Heads’; menyusul kemudian ‘It’s Kinda Funny’ (Josef K) dan ‘Simply Thrilled Honey’ (Orange Juice) pada bulan Desember. Dua single yang terakhir disebut adalah rilisan yang menutup aktivitas Postcard Records di tahun 1980.


Menginjak ke tahun berikutnya, Postcard mewakilkan dua punggawanya untuk berkontribusi dalam kompilasi legendaris milik Rough Trade Records dan majalah New Musical Express, ‘C81’; kaset yang dirilis pada Januari 1981 ini mencantumkan lagu berjudul Blue Boy milik Orange Juice dan ‘Endless Soul’ karya Josef K. Dua bulan berikutnya, singlePoor Old Soul’ dari Orange Juice diluncurkan pada bulan Maret, merupakan rilisan pertama Postcard di tahun 1981. Pada bulan April tahun yang sama, giliran Aztec Camera (grup musik yang juga tercatat dalam kompilasi 'C81') dirilis singlenya, berjudul ‘Just Like Gold’; berasal dari daerah suburban Glasgow yaitu South Lanarkshire, grup musik ini dipimpin oleh Roddy Frame yang masih berusia 16 tahun kala itu. Frame adalah remaja jenius karena berhasil menghasilkan karya dengan kedalaman emosional yang jauh melampaui usianya. Rekaman tersebut dirilis berbarengan dengan single milik Josef K ‘Sorry For Laughing’. Postcard kembali memperlihatkan dominasi Orange Juice dan Josef K dengan mengeluarkan single dari keduanya pada bulan Mei, ‘Chance Meeting’ (OJ) dan ‘Wan Light’ (JK).


Setelah berkali-kali merilis single, Alan Horne akhirnya menyetujui kumpulan lagu milik Josef K untuk dijadikan satu album rekaman penuh. Proses produksi sudah dilakukan sejak bulan April 1981, dan peluncurannya dilakukan pada bulan Juli tahun yang sama, berisi sepuluh lagu dengan judul album ‘The Only Fun In Town’; merupakan satu-satunya album penuh yang pernah dikeluarkan oleh Postcard Records. Setelah peluncuran album tersebut, label ini kembali merilis single dari Aztec Camera pada bulan Agustus 1981, berjudul ‘Mattress Of Wire.

Single dari Aztec Camera tersebut menjadi rekaman terakhir yang diluncurkan Postcard Records; label rekaman ini dibubarkan oleh Alan Horne setelah ditinggalkan punggawa-punggawanya. Josef K pecah setelah merilis album penuh pertamanya, diikuti kepindahan Orange Juice dan Aztec Camera ke label rekaman yang lebih besar, Polydor (Polygram) dan Sire Records (Warner Bros.). Alan sendiri kemudian pindah ke Inggris dan menjadi salah satu orang penting di London Records (Universal Music).

Berdiri selama hampir dua tahun dan hanya mengeluarkan 13 rilisan (satu album penuh dan 12 single) belum bisa dikatakan sebagai torehan maksimal dari sebuah label independen, apalagi ketika harus berhenti kiprahnya akibat bagian terpenting dari label justru ‘menjual diri’ ke label rekaman atau korporasi yang lebih besar. Tidak ada bedanya dengan para pendahulunya di skena punk seperti Sex Pistols dan The Clash. Etos do-it-yourself telah mereka telan mentah-mentah untuk kemudian dimuntahkan begitu saja, misi awal tidak dapat dijalankan dengan sempurna. Bisa jadi, mereka adalah golongan pemuda yang sangat realistis. Namun, yang perlu diingat lagi dan layak diapresiasi dari Postcard adalah: Perjalanan singkat yang dilalui label ini setidaknya telah mempengaruhi pergerakan musik pop ‘bawah tanah’ Britania Raya di tahun-tahun berikutnya ~ dalam mencari jati diri. Lewat slogan The Sound of Young Scotland, post-punk diperbaharui dengan unsur-unsur pop 60-an dan Northen Soul; menjadi inspirasi grup musik sekelas The Smiths, dan memantik sebuah pergerakan bersejarah di ranah permusikan Britania Raya lewat fenomena ‘C86’ (di mana indie kemudian disepakati sebagai sebuah genre musik). Orange Juice, Josef K, Aztec Camera, dan Postcard Records adalah satuan kolektif yang memiliki peran penting dalam perubahan wajah musik Skotlandia dan Inggris Raya pada umumnya.
 





Sumber:
Evans, Paul David, “Label of Love: Postcard Records” dalam The Guardian, 1 November 2008.
Hasted, Nick, “How an NME Cassette Launched Indie Music” dalam www.independent.co.uk, 27 Oktober 2006.
Hutlock, Todd, “The Sound of Young Scotland: A Bluffer’s Guide” dalam www.stylusmagazine.com, 2 Juli 2005.
Obst, Anthony, “The Birth of Indie: 5 British Labels and Their Legacies” dalam The iCrates Magazine, 5 April 2012. 
Petridis, Alexis, “Josef K, Entomology” dalam The Guardian, 15 Desember 2006.
Postcard Records, “Discography 1980 – 1981” dalam www.myspace.com/postcardrecords, 4 Januari 2007.
Thornton, Steve, “Postcard Records” dalam www.twee.net, 1995.  

Gambar:
http://crossedcombs.typepad.com/recordenvelope/2007/11/postcard-record.html
http://thep5.blogspot.com/2009/03/orange-juice-falling-and-laughing.html
http://lyricstranslate.com/en/aztec-camera-lyrics.html
http://www.stylusmagazine.com/articles/weekly_article/the-sound-of-young-scotland-a-bluffers-guide.htm


July 22, 2012

Kadang aku balik bertanya: "Hey, apakah semuanya akan baik-baik saja?"


July 10, 2012

Dingin Yang Suram: Sebuah Mini-Mixtape Untuk Dataran Tinggi Bernama Dieng

1. WhisperDesire – Di Atas Batas (Antara Pedang dan Cahaya Terang)
 

2. Ampop – Nature Is Not a Virgin
 

3. Lazy Room – Kering, Dingin, Berangin
 

Genre: indiepop, dreampop                DOWNLOAD
 

Sungguh, baru aku sadari; ternyata, bernyanyi sambil mengulang terus bait demi bait lirik lagu favorit dapat pula menggugah kenang akan petualangan berkesanmu. Meskipun yang diperoleh tidaklah selalu kesan yang baik.

Ingatanku masih belum berpaling dari Dieng Culture Festival 3 yang telah digelar beberapa waktu lalu (30 Juni – 1 Juli 2012). Sebuah gelaran dalam gudang ironi, di antara fakta-fakta ‘buruk’ yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Alih-alih mendapatkan kenikmatan maksimal ketika berkunjung ke sana, aku malah merasa miris. Ya, semua mengetahui bahwa kondisi lingkungan di dataran tinggi tersebut sudah bisa dikatakan kritis. Sebuah event dalam rangka memelihara warisan budaya harusnya diikuti dengan aksi nyata dalam menjaga lingkungan. Kolaborasi antara panorama alam yang lestari dengan agungnya warisan budaya adalah sesuatu yang sangat indah, menurutku.

Perlahan ‘ku mulai lepas semua keluh kesah… - WhisperDesire

Ritual pencukuran rambut gembel telah berhasil menarik ribuan wisatawan, termasuk aku. Promo besar-besaran dan mahal dari Visit Jateng 2013 tentu saja berbuah manis, jangankan wisatawan lokal, ratusan wisatawan mancanegara pun tampak hadir menikmati festival budaya yang digelar selama dua hari tersebut. Tetapi, dibalik sesuatu yang baik juga terlampir sesuatu lain yang bertolak belakang.

30 Juni 2012, festival dibuka dengan jalan sehat yang oleh panitia diselipkan sebuah tema besar, peduli lingkungan. Kain putih panjang digelar untuk kemudian ditandatangani oleh seluruh peserta yang berpartisipasi, sebagai bentuk sumbang petisi. Benar prediksiku, kekurang-pekaan masyarakat terhadap kelestarian lingkungan memang tidak bisa diperbaiki dengan hanya sekadar petisi. Jalan sehat yang diakhiri dengan minum purwaceng bersama tersebut dikotori dengan sampah berserak di mana-mana. Tidak hanya di seputaran Pendopo Soeharto-Whitlam, tetapi di semua jalur yang sudah dipakai. Ya, lagi-lagi sampah, sebuah permasalahan mendasar yang sangat sulit dicarikan jalan keluar paling efektif, di negara kita.

Aku dibuat gregetan oleh fakta itu. Keluh yang sebelumnya hanya membanjiri kepala, lalu lepas begitu saja bahkan sering keluar sebagai umpatan. “Nyampah doang Loe semua!!!” Gelas kertas bekas minum purwaceng aku punguti sebisanya, hanya sebisanya. Kedua tanganku tak mampu membersihkan sampah yang jumlahnya sangat banyak itu, lebih dari hitungan ribu.

Kucoba memejam mata, menahan bara ini.
Tak akan ‘ku biarkan, senjata terbuka.
Terasa lelah, hilang kenyataan.
‘Kan ‘ku bilang, pada semua… - WhisperDesire

Keluh juga tak bisa berhenti begitu saja, aku berjalan cepat menuju sekretariat festival di sebelah gerbang masuk Kompleks Candi Arjuna (Pandawa?). Kutemui seorang perempuan berkalungkan id panitia, “Mba, harusnya, mic itu dipakai buat mengumumkan ke semua orang yang ada di sini untuk ‘jangan buang sampah sembarangan’!”, kemudian aku melengos pergi.

Sebuah festival budaya telah dinodai oleh perilaku tak berbudaya. Atau, jangan-jangan, perilaku buang sampah sembarangan itu bisa dihitung sebagai sesuatu yang berbudaya? Lalu, siapa yang salah?

Room full of liars, economical desires… - Ampop

Bukan hanya sampah, ada fakta lain yang juga membuatku miris. Sebuah media online memaparkan, “Kerusakan lingkungan Dieng mulai terjadi sejak tahun 1980-an dan degradasi hutan memicu kerusakan hutan terparah terhitung mulai 1998. Tingkat erosi tinggi, antara lain faktor pertanian tanaman kentang yang semusim, menyebabkan rentannya bahaya tanah longsor dan berkurangnya tingkat kesuburan tanah.”(I)

Kentang mengalami booming di Dieng sejak dekade 80-an. Pada masa itu, kentang adalah tanaman primadona, mudah ditanam dan cepat dipanen. Siapa yang tidak tertarik? Warga Dieng yang sebelumnya hanya bertani kobis, kacang, tembakau, dan pitrem (sejenis bunga lili putih); mulai berbondong-bondong menanami kelas umbi-umbian yang memiliki kadar karbohidrat cukup tinggi tersebut, apalagi didukung oleh permintaan pasar yang juga tinggi. Seiring perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan; di mana french fries, baked potato, mashed potatoes, dan beberapa olahan lain dari kentang menjadi jenis makanan yang mempengaruhi kelas sosial(II) ~ makan kentang biar gaul, dan semacamnya; membuat pembabatan hutan untuk lahan kentang kemudian marak terjadi di wilayah Dieng, sebagai wilayah produsen kentang yang baru. Puluhan tahun kemudian, terhitung sampai 2005, sudah lebih dari 900 hektare hutan lindung di Wonosobo habis dibabat(III), dan tentu saja terus bertambah hingga sekarang. Malahan, sebuah media juga menyebutkan baru-baru ini, sekitar 7.758 hektare lebih lahan di Dieng sudah menjadi kritis.(IV)

Inilah kita, mengambil semua… - Lazy Room

Tidak heran bila Dieng kemudian sering dilanda bencana. Pembabatan kawasan hutan mengakibatkan tingkat erosi yang tinggi. Akibat lainnya adalah degradasi, yaitu tanah longsor dan banjir lumpur. “Wilayah pegunungan kok bisa banjir.”, nyatanya bisa. Lumpur yang ikut turun bersama air dari lereng bukit kemudian masuk ke telaga, terjadi pengendapan di dasarnya sehingga daya tampung menjadi kecil. Curah hujan yang tinggi tidak bisa ditampung semua, jadilah air meluap.(V) Kemudian, belasan desa di sana dinyatakan rawan longsor, mayoritas adalah desa di wilayah Kejajar.(VI) Sebagai contoh adalah desa Tieng, yang pada penghujung 2011 lalu dilanda bencana tersebut, puluhan rumah rusak berat dengan belasan korban jiwa.(VII)

Bencana-bencana itu membuat pemerintah daerah setempat naik bicara, baik Banjarnegara maupun Wonosobo. Lewat pidato-pidatonya, mereka, menyarankan para petani Dieng untuk segera mengganti kentang dengan tanaman lain yang lebih ramah lingkungan. Tetapi, pidato hanya sekadar pidato, ucap hanya sekadar ucap; pada prateknya, pemerintah daerah masih saja menyewakan lahannya kepada penduduk untuk ditanami kentang.(VIII) Mereka yang menyarankan, mereka pula yang melanggar; semua demi motif ekonomi. Lucu.

Bagaimana nasib Dieng di masa mendatang? Bisakah kamu prediksi? Baiklah kawan, kita semua sudah tahu jawabannya. Dataran tinggi ini hanya tinggal menunggu waktu, waktu untuk ‘pensiun’; karena nantinya, aku yakin, hanya bukit-bukit cadas saja yang tersisa. Lalu, apakah tulisan ini dibuat untuk melarang kamu yang akan pergi ke Dieng? Tidak, datanglah kamu ke sana, buktikan sendiri. Dan, jangan lupa untuk memutar mixtape yang sudah kubagi, rasakan suramnya.

Seiring rangkak mentari dari balik puncak Sikunir, Dieng semakin dekat dengan masa paling gelap. Benda tajam siap memangkas sisa hutan di sana, demi uang baru. Benar-benar di atas batas, antara pedang dan cahaya terang.



 
Sumber:

Sebuah Pelajaran Berharga dari Dieng dalam www.suaramerdeka.com. Selasa, 30 Agustus 2005.

Butuh Gerakan Masyarakat untuk Menyelamatkan Kawasan Dieng dalam www.nationalgeographic.co.id. Selasa, 3 Juli 2012.

Hery Santoso, MENUJU CARA PRODUKSI DAN KONSUMSI BARU: Resistensi dan Perubahan Gaya Hidup Para Petani Lokal di Dataran Tinggi Dieng dalam http://it.scribd.com.

Pemkab Sewakan Tanah di Dieng Untuk Tanam Kentang dalam http://www.e-wonosobo.com. Selasa, 10 Januari 2012.

Muhammad Raffi, Belasan Desa di Dieng Rawan Longsor dalam www.greenradio.fm. Jumat, 3 Februari 2012.

*FYI, perubahan hebat di dataran tinggi Dieng ini dipicu oleh masuknya tanaman kentang yang pada dekade 80-an dibawa oleh orang-orang Pangalengan (Jawa Barat) ke wilayah tersebut. (Hery Santoso)

July 7, 2012


Kehilangan barang begitu akrab menimpa saya. Beberapa benda, dari yang idaman sampai yang 'mungkin' tak begitu bernilai. Cermin akan saya gunakan untuk benar-benar BERKACA bila kehilangan itu disebabkan oleh keteledoran typical yang memang sudah menjadi kebiasaan buruk, saya rela serela-relanya. Tetapi, bila hilangnya barang tersebut disebabkan oleh orang lain ~ dicuri, diambil paksa, hilang oleh kelalaian orang yang saya beri tanggung jawab; butuh waktu lama untuk benar-benar MERELAKAN.

Saya sudah berhasil mengikhlaskan mini compo kesayangan yang hilang dicuri orang. Barang bernilai masa sekolah menengah pertama dulu, hadiah dari sang ayah yang benar-benar saya jaga sampai usia kuliah 12 semester. Saya sudah memaafkan si pencuri laptop dan telepon genggam yang saya beli dengan jerih payah sendiri, dua bulan lalu. Saya sudah tidak begitu memikirkan hilangnya iPod, dompet, dan jam tangan yang dicuri cerdik oleh si tukang copet atau pengutil atau apalah itu. Butuh waktu tak sedikit untuk menarik sumpah serapah beserta sejuta maki terhadap orang iseng di kereta ekonomi jurusan Jogja - Jakarta, lima tahun lalu, yang sudah tega mengambil camcorder hadiah ulang tahun ke-20, juga dari sang ayah.

Setelah beberapa masa setelah kisah-kisah suram tersebut, kemalangan masih tak mau menjauh juga. Kali ini, giliran jaket favorit yang turut hilang, akibat kelalaian si tukang laundry. Jaket bermotif biru-abu-hitam yang saya beli pada sebuah toko outdoor ternama, dengan niat penuh ketika SMA; merupakan hasil tekun mengumpulkan keping demi keping recehan dan beberapa lembar angpao lebaran. Jaket penghalau dingin saat daki gunung pertama, pelindung kulit dari terik pantai Karimun dan debu Kalimantan. Jaket dengan banyak cerita yang selalu saya jaga dengan usaha.

Oh my God!!!!!!!! Saya sangat dan sangat benci kehilangan, apalagi yang hilang adalah barang berkesan dan tidak didapatkan secara instan. Boleh saya menggugat? Walaupun, yang sebenarnya, skenario Tuhan tak bisa dan tak boleh digugat. Hahahaha. Betapa kecil dan kerdilnya saya. 

July 3, 2012

Dieng Culture Festival III (2012): Serangkai Kombinasi Antara Pesta Rakyat, Upacara Sakral, dan Kebiasaan Klise.


Rasa ingin tahuku tentang Dieng sebenarnya sudah muncul sejak zaman kanak-kanak dahulu. Aku yang tinggal di Sumatera sama sekali tidak mengenali tempat tersebut, tetapi namanya sering terbaca ketika sedang bermain monopoli edisi Indonesia. Seiring waktu berjalan, rasa ingin tahu tersebut sedikit terjawab ketika ibu memberi hadiah sebuah kamus pengetahuan umum (baca: RPUL), tetapi tidak semata-mata membuat aku puas. Setelah tahu benar bahwa Dieng adalah tempat wisata yang menyajikan panorama alam, hasrat piknik pun timbul. Sadar akan kecakapan diri yang masih ala kadarnya, hasrat itu harus aku pendam, tetapi tidak bermaksud menghilangkan. Aku yakin suatu saat nanti akan terbuka kesempatan bagiku untuk menginjakkan kaki ke sana.


Maju ke depan, belasan tahun kemudian. Tepatnya pada Oktober 2009, bosan dengan rutinitas mengajari baca-tulis para buta aksara di Wiradesa (Pekalongan), membuat aku dan seorang rekan memutuskan untuk “kabur sejenak” ke Jogja. Bosan pula dengan jalur pulang melewati Batang-Weleri-Parakan-Temanggung-Secang-Magelang, kami mengubah jalur dengan memanfaatkan jalan alternatif menuju Jogja melewati Kajen-Kalibening-Karangkobar-Dieng-Wonosobo-Purworejo. Kami berhenti di Dieng. Badan pegal akibat duduk lama di atas kuda besi membuat kami tak punya pilihan lain, kami harus berisitirahat di sana. Tetapi hanya singgah sejenak karena langit sore memaksa kami untuk cepat-cepat melanjutkan perjalanan kembali. “Oh, ini yang namanya Dieng...” ucapku kala itu. Ucap dalam hati yang sebenarnya bermakna sarkas, sekaligus, ergh, sinis. Aku hanya melihat hamparan lahan pertanian kentang pada lereng bukit di sekitar jalan utama, bukit gundul, dan bukan pemandangan keindahan alam seperti yang tergambar dalam RPUL. Aku tak lagi terobsesi untuk benar-benar berwisata ke wilayah tersebut.


Tetapi kenyataan berkata lain. Aku memutuskan untuk kembali mengunjungi Dieng baru-baru ini, atau tiga tahun pasca kunjung singgah pertama, karena ngiler ingin melihat event mayor yang bertajuk Dieng Culture Festival secara langsung. Gelaran ini sudah aku saksikan di televisi sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2010. Perlu digaris-bawahi, aku datang untuk berwisata budaya. Aku berangkat Jumat siang, 29 Juni 2012, ditemani tiga kawan dekat menggunakan mobil pribadi, dan sampai di Dieng sekitar pukul 7 malam. Ternyata tak mudah mencari penginapan jelang event besar yang diselenggarakan selama dua hari tersebut, 30 Juni – 1 Juli 2012. Banyak homestay atau rumah singgah yang sudah dipesan dari jauh-jauh hari. Untung saja nasib baik masih berpihak kepada kami. Penginapan berhasil kami dapatkan setelah sebelumnya dioper ke sana-kemari oleh calo hotel yang menjajakan jasanya, satu malam dihargai Rp 300.000,-. Mahal memang, tetapi kami sudah terlalu lelah untuk mencari ruang tidur yang lebih murah.


Dieng Culture Festival, yang pada tahun 2012 ini adalah kali ketiga diselenggarakan, direncanakan dibuka pada hari Sabtu (30/6) mulai pukul 7 pagi. Tetapi rundown lagi-lagi hanya menjadi formalitas, kebiasaan bangsa Indonesia yang suka molor membuat gelaran tersebut baru benar-benar dimulai sekitar pukul 10 pagi. Acara dibuka dengan jalan sehat disertai pembubuhan tanda tangan pada kain putih panjang sebagai tanda peduli lingkungan. Pula karena kebiasaan bangsa kita yang masih acuh pada semboyan “buanglah sampah pada tempatnya”, peduli lingkungan tetap menjadi sebuah mitos. Petisi hanya menjadi sekadar petisi, tidak diikuti aksi yang benar-benar nyata karena masih banyak sampah berserak di mana-mana.


Acara dilanjutkan dengan minum Purwaceng bersama di depan Pendopo Soeharto-whitlam. Ribuan gelas disediakan bagi pengunjung. Minuman tersebut adalah ramuan kuno yang dapat meningkatkan kebugaran, katanya. Tak tanggung-tanggung, aku meminum tiga gelas sekaligus. Sayangnya, lagi-lagi karena kebiasaan klise seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, gelas berbahan kertas bekas Purwaceng itu terlihat berserak acak dari lahan parkir sampai ke lapangan pusat gelaran. Pengunjung seakan kurang peduli, banyak dari mereka yang kemudian mengkonsentrasikan diri pada stand-stand kerajinan lokal, hasil bumi, dan jajanan yang disusun dalam sebuah bazaar, di lapangan. Sementara itu, di atas panggung terlihat panitia sedang sibuk menyebutkan nomor doorprize yang jumlahnya tak sedikit, ada 400 hadiah siap dibagi.




Pentas kesenian juga ditampilkan dalam event ini. Dan, yang menarik untuk disimak adalah kesenian Rudad, sebuah seni beladiri yang menggabungkan budaya Islam dengan pencak silat. Para pendekar dengan seragam merah-putih saling unjuk jurus dalam satu barisan, diiringi oleh tabuhan rebana dan senandung shalawat. Pelepasan balon raksasa juga menandai kemeriahan hari itu, dilanjutkan dengan pertunjukkan wayang dan pesta kembang api malam harinya. Festival di hari pertama telah selesai.


Pada hari kedua, enam orang bocah sudah disiapkan untuk dipotong rambut gimbalnya. Rambut tersebut dipercaya sebagai turunan dari leluhur sekaligus penguasa Dieng, Ki Tumenggung Kolodete. Beliau adalah orang berpengaruh dari desa Tegalsari, Kretek. Cerita lokal mengkisahkan, pencalonan dirinya sebagai lurah ditolak oleh Kerajaan Mataram, sehingga membuat beliau malu lalu mengasingkan diri ke Dieng. Sebagai bukti cintanya terhadap dataran tinggi tersebut, beliau memohon kepada Dewata untuk tidak menghentikan garis keturunannya. Dewata menjawab dengan selalu menyisipkan anak-anak berambut gimbal pada keturunan-keturunan Tumenggung Kolodete sampai sekarang, mereka disebut anak gembel. Selain itu, terdapat pula mitos lain yang menyebutkan bahwa gimbal yang tumbuh di rambut anak-anak itu adalah sebuah simbol kesialan. Ki Tumenggung Kolodete ketiban sial tidak bisa menjadi lurah akibat rambut gimbalnya. Oleh karena itu, agar kesialan tidak ikut menimpa keturunan-keturunan beliau, ritual pencukuran rambut gimbal diselenggarakan secara turun temurun, sekaligus sebagai ajang tolak bala.

Upacara sakral ini dimulai dengan kirab yang dimulai dari rumah sesepuh adat setempat, Mbah Naryono. Arak-arakan dipermanis oleh gadis-gadis cantik yang menari lentik dengan irama musik Tek-tek (paduan alat musik dari bambu) sebagai latar, dilanjutkan dengan tari Rampak Yagso, Lengger, dan Singo Barong. Di depan, para sesepuh adat memimpin jalannya kirab, diikuti enam anak gembel yang didampingi orang tuanya masing-masing. Kirab lalu berhenti di komplek sumur Sendang Sedayu. Prosesi awal yang disebut jamasan akan dimulai. Anak-anak gimbal digiring ke arah sumur kuno tersebut untuk kemudian dibasahi rambutnya dengan air yang sudah dicampur dengan kembang tujuh rupa, air dari Sendang Buana, Tuk Kencen, Tuk Sibido, Tuk Bimalukar, Goa Sumur, Kali Pepek, dan air Sendang Sedayu itu sendiri.





Selesai jamasan, anak-anak gimbal kembali diarak menuju pusat kompleks Candi Pandawa. Sementara itu, mahar dan sesaji sudah tertata rapi di depan Candi Arjuna, bangunan utama dari kompleks yang digunakan sebagai arena cukur rambut gimbal. Keenam anak tersebut kemudian dicukur rambutnya di tangga candi oleh pejabat pemerintahan Banjarnegara seperti bupati, wakil bupati, dan kepala kepolisian yang didampingi oleh sesepuh adat. Tampak lancar di awal. Beberapa anak gembel yang dicukur rambutnya tidak malu berinteraksi, ekspresi wajah lucunya kadang dihadiahi riuh tepuk tangan oleh pengunjung. Namun, dipertengahan, terdapat satu anak wanita gimbal yang menangis ketika akan dicukur dan sulit untuk ditenangkan. Akhirnya, anak itu tetap dipotong rambut gimbalnya meski masih dalam keadaan tersedu-sedu. Prosesi dilanjutkan dengan ngalap berkah, di mana para pengunjung dipersilakan berebut nasi tumpeng di Telaga Warna. Ada mitos yang menyebutkan bahwa sesiapa yang berhasil mendapatkan nasi tersebut akan selalu dilimpahi keberkahan. Acara sakral ini kemudian ditutup dengan pelarungan rambut-rambut yang telah di potong ke Sungai Serayu yang bermuara di Laut Selatan.


Rangkaian prosesi pencukuran rambut gimbal selesai, sekaligus sebagai tanda berakhirnya Dieng Culture Festival III yang digelar selama dua hari. Sebuah gelaran yang sangat menarik. Aku sangat bangga kepada mereka yang terus memelihara kebudayaan nenek moyang hingga sekarang. Seharusnya, akan semakin lengkap keindahannya bila didukung oleh panorama alam yang benar-benar asli dan lestari, bukan bukit gundul lahan ladang kentang. Para pengunjung yang katanya peka budaya itupun harusnya malu ketika membuang sampah sembarangan. Semoga festival ini akan terus dilaksanakan dan tidak hilang spiritnya dihapus alam yang mulai marah.