October 4, 2011

Suatu Malam di Hukilau

“Halo, Lucy. Aku sudah sampai Hukilau, kamu mau oleh-oleh apa?”

“Mmmmhh”

“Kenapa diam?”

“Ehhhhh!”

“Okay, kamu sayang aku tidak?”

“I don’t know..”

Aroma bebakaran makin menusuk hidung turun ke perut, lapar. Moron sendiri tidak serta merta langsung mematikan ponsel lalu bergabung dengan sejawatnya yang sedang asyik melahap daging kecap, ia tahan dahulu laparnya. Lucy sedang bimbang, hatinya kacau, bebannya segunung.

“Aku bingung, situasinya sangat sulit. Euphoria baru-baru ini memang sangat menyenangkan. Kamu baik tapi dia sakit, dan obat penenang itu ada di aku. Aku gak mau jadi orang jahat pada intinya.”

Moron diam sejenak setelah mendengar racauan Lucy. Ia tidak kaget, karena hal tersebut sangat sesuai dengan prediksinya.

“Hmmm.. Okay, kita masih bisa berteman. Cukup adil bukan?”

Moron tidak mau menambah beban perempuan itu lebih berat lagi. Punggung Lucy sudah bungkuk, dan Moron tidak mau membuatnya menjadi patah. Berkaca pula pada relasi mereka yang masih hijau, Moron pun tidak perlu berlama-lama dalam mencari solusi. Satu dua kali ucap dan berakhir.

“Sorry…”

“Mumpung kamu belum berubah jadi monster jahat. Jadi, lebih baik kamu jadi superhero aja, hehe.”

“Maksudnya?”

Yaaaaa, tolonglah orang yang lebih butuh. Daripada maksain diri untuk membagi fokus, malah bisa double jahatnya nanti. I’m okay kok.”

“Thanks ya, sorry...”

“Hehe… Nite nite”

Ponsel masuk ke saku, Moron bergegas pergi ke kumpulan temannya yang berbakar tadi, mengusir lapar.


***




Tiap individu mempunyai ceritanya sendiri-sendiri.

Salam ceria…

No comments:

Post a Comment