October 7, 2011

Senang Dalam Himpunan

Sudah tengah malam, Moron masih saja beradu tawa dengan ketiga rekannya dan tidak peduli akan siapa saja yang tidur di ruangan. Makin dini hari, tawa makin menjadi. Pukul dua pagi barulah Moron rebah di pembaringan, tetapi masih saja sulit tidur karena sisa tawa masih terngiang-ngiang. Baru pejam sejenak, tiba-tiba panitia pelatihan melakukan bangun paksa.

“Bangun.. Bangun!! Ayo kumpul semua di lapangan!”

“Ada apa ini? Jurit malam? Hell-ooo, kami bukan siswa SMA!” Keluh Moron dalam hati.

Tidak ikhlas Moron bangun dari pembaringan, jalan gontai ia, seperti orang mabuk. Di lapangan sudah berkumpul seluruh peserta pelatihan, membentuk lingkaran besar. Tidak seperti yang sudah-sudah, tidak ada hitung-menghitung untuk menentukan ganjil-genap, semuanya bebas memilih siapa saja untuk jadi partner dalam himpunan. Dalam kepala Moron hanya berisi kata tidur, tidur, dan tidur, bagaimana cepat tidur. Tapi entah kenapa, kata-kata itu lenyap seketika pada saat Lucy melintas di depannya. Moron menguntitnya hingga kemudian mereka berada dalam satu kelompok.

Akhirnyaaaaaaa…

Hari-hari sebelumnya di dalam pelatihan, Moron dan Lucy tidak pernah tertakdir berada dalam satu kelompok kegiatan yang sama. Hasil dari hitung-menghitung angka selalu saja lawan kata, Moron ganjil dan Lucy genap, atau sebaliknya. Ketika diberi kebebasan dalam menentukan partner kelompok, Moron tidak mau buang kesempatan. Dan ya, memang nasib sedang baik.

Kegiatan pagi buta itu ternyata bukanlah jurit malam seperti prediksi sebelumnya. Seluruh peserta pelatihan diajak untuk melakukan semacam simulasi rescue yang dilakukan dini hari. Dalam kelas yang lalu-lalu telah disinggung tentang bagaimana rumitnya menentukan macam perlengkapan yang harus dibawa ketika ada kegiatan rescue. Sebuah ajang uji konsentrasi.

Setelah puluhan menit, tidak ada dialog antara Moron dan Lucy, entah canggung entah bingung entah memang sedang fokus pada penyelia yang mulutnya (mungkin) berbusa. Sampai kegiatan berakhir dan kembali menuju pembaringan, tetap tidak ada komunikasi dua arah yang terucap dari keduanya, sepatah pun. Tetapi, Moron lebih suka senyum-senyum sendiri. Dalam hatinya,

“Yes!!!”

1 comment: