October 8, 2011

Putri Tidur Terpejam di Sebelah

Sisa senyum masih saja menempel di muka. Kedua sisi pipi seperti ditarik, tinggal pasang make-up lalu datang ke pesta ulang tahun balita, jadi badut.

“Aku mau kok jadi badut buat kamu, Lucy.” Wah ini jelas sangat freak.

Tidak…tidak. Moron tidak segila itu. Sebangun dari tidur yang ternyata tidak bisa dibilang pagi, ia langsung ke kamar mandi untuk antre. Ternyata ada pula beberapa peserta lain yang juga antre mandi. Pukul 08.30 Moron sudah wangi (mungkin) dan langsung bergabung dengan yang lain di meja makan.

Di pendopo sudah disiapkan sebuah kelas mini. Seusai makan pagi, para peserta langsung digiring ke sana. Kembali dijabarkan berbagai citra positif dari sebuah NGO yang sekaligus sebagai pelaksana pelatihan tersebut, sangat inspiratif. Pasti seisi kelas ada yang sangat ingin menjadi staff-nya suatu saat, tetapi Moron tidak, entah Lucy.

Kelas selesai menjelang tengah hari, yang juga sebagai penanda tidak ada lagi kelas-kelas berikutnya sampai entah kapan. Yang jelas, esok harinya seluruh peserta boleh pulang ke kediaman masing-masing. Hari itu berubah menjadi hari santai seketika. Senyum masih awet di pipi, Moron asyik merokok sambil seduh kopi, menunggu makan siang.

“Ada yang punya gunting kuku?”

“Aku punyaaaaa, sebentar ya!” Moron langsung menyambar pertanyaan Lucy, padahal posisi pria itu lumayan jauh dari jangkau pandang miopi, hahaha.

Setelah makan, semuanya lalu berkumpul di lapangan. Saatnya ber-out bond ria. Bermain lumpur dan polo air sampai sore. Hari yang menyenangkan, walau pada akhirnya bingung bagaimana mencuci baju. T-shirt putih kesayangan Moron berubah warna menjadi cokelat.

Malamnya, ada sebuah interview singkat per peserta, menentukan sesiapa yang layak ditugaskan ke lapangan dengan berbagai bidang. Setelah santap, Moron mendapat giliran tanya-jawab.

“Kamu ingin ditugaskan di mana? “

“Kalimantan, Mas. Saya tertarik di bidang edukasi.”

“Okay, Senin kamu langsung berangkat. Mampir dulu ke Malang sambil menunggu tiket kapal.”

(Speechless) Moron langsung menjabat tangan si pewawancara. Sesingkat itu, tetapi ia berusaha sekali untuk tidak pamer kesenangan, padahal Kalimantan adalah salah satu mimpinya, dan mimpi itu segera menjadi nyata.

Apakabar Lucy? Moron belum peduli.

Ketika yang lain sedang asyik berkumpul suka-suka di pendopo, bermain musik, berbagi canda, santap ini santap itu, minum ini minum itu. Moron malah asyik autis dengan laptopnya di pembaringan. Bukan di ranjang yang malam sebelumnya ia pakai untuk alas tidur, kali itu ia berada di ruang lain. Makin larut, satu per satu individu yang ada di pendopo kembali ke lapak tidur masing-masing.

“Lah, lo kok di sini?”

“Udah mager gue, lo cari lapak lain dah!”

Moron kembali memasang headset dan mendengarkan musik dengan volume keras, padahal yang didengarkan hanya sebatas lagu berformat akustik.

“Hey…!”

Headset dicabut dari laptop, sedikit sumringah.

“Hey… Lho kamu tidur di situ toh?”

“Iya, di sini. Gimana, kamu ditugasin di mana?”

“Kalimantan... Kamu?”

“Udah tepat banget pembagiannya. Aku di Malang.”

“Keren…”

“Eh, itu KOC ya? Suka…”

“Iya, hehe…”

“Yaudah, aku tidur duluan ya…”

“Oh, okay…” Hati Moron makin sumringah.

Suara musik dari laptop sengaja dikurangi agar efek lullaby bisa dinikmati. Lalu dipilih lagu-lagu yang sangat lembut, agar suasana makin tenang. Moron senang bukan main, sesekali ia mengintip mimik tidur sang putri yang ada di sebelahnya.

Infeksi, tapi surga sementara (Dasar freak!!!)

No comments:

Post a Comment