October 13, 2011

Kotak Persegi

Menghitung hari adalah pekerjaan yang buang-buang waktu. Kenapa harus dihitung? Sang Hidup yang Maha Kejut akan selalu memberi surprise yang tidak terduga, yang kemudian membuatmu tersenyum melihat laju waktu yang ternyata bisa sekilat.

Dalam durasi yang memang sekilat itu, entah sudah berapa macam etalase jendela yang dilewati. Mencoba kenangi pun tak apa sebenarnya, namun ketika terdapat missing pada otak, lebih baik pandang saja ekspetasi di depan untuk kemudian bereksistensi (halah).

Tidak terasa Moron sudah menghabiskan sebulan pertamanya di Kalimantan, pengalaman ini dan itu tentu saja sudah ia dapatkan. Merasai segala aroma baru yang ditawarkan pulau kaya tersebut.

Apakabar kelanjutan komunikasinya dengan Lucy?

Entah

Entah

Entaaaaaaaaaaaah

Tetapi tidak seentah itu juga realitanya. Ada kotak persegi dengan jaringan nirkabel yang menghubungkan segala racau antar keduanya di malam hari. Dan Lucy tetap menjadi Mrs. Cold. Bagaimana dengan Moron? Ya, ia tetap bermuka tembok, untung sudah dibaluri cat berwarna merah hati.

“Selamat malam, Lucy!”

“Malam…”

“Kok belum tidur?”

“Ngga tau nih, susah aja.”

“Sudah coba musik?”

“Maksudnya?”

“Ya, musik untuk obat tidur. Pilih yang selembut mungkin sebagai lullaby.”

“Okay, makasih yah.”

“ :D “

Entah sudah berapa malam dengan percakapan itu dan itu saja. Rekomendasi musik, klip musik, dan cerita rekam sehari-hari yang masih sekadarnya kemudian hanya menjadi topik monoton yang mau tidak mau selalu diangkat.

Semuanya sedikit berubah ketika seorang teman Moron yang juga teman Lucy membeberkan rahasia yang hanya sedikit pula.

“Ron, lo suka Lucy?”

“Menurut lo?”

“Ya makanya gue nanya. Denger dari cerita-cerita Lucy, gerak-gerik lo ya ke arah situ.”

“Hahaha… Seriusan lo, Lucy bilang gitu?”

“Ya serius!”

Jaket bercerita tentang suka pada dua hari.

Ujung malam terakhir, putri tidur terpejam di sebelah, pada ruang sepi tapi ramai.

Nah, siapa bingung?

Tak ada sesiapa lain kecuali si besar yang ciut oleh paras lelah di hadapan.

Infeksi.

Tapi surga sementara.

“Menurut lo?”

“Kan, lo emang suka sama Lucy. Yaaa, tinggal usaha lo gimana. So far positif sih.”

“Heheeeeeeeh… Dia bilang apa lagi?”

“Ra ha si yak…”

“Huuuuu…”

Moron makin sumringah, ia merasa menjadi seorang komunikator yang sedikit berhasil. Segala pesan berhasil ia sampaikan dengan tepat kepada recipient yang adalah Lucy, walau hanya melalui media sederhana. Kotak persegi.

Watch things on V-C-R’s, with me and talk about big love. I think we’re superstars, you say you think we are the best thing.

(The XX – VCR)

No comments:

Post a Comment