October 24, 2011

Biru

Kotak persegi membuat sepasang maya berubah menjadi makhluk setengah nokturnal. Tidak tidur dari tengah malam menjelang pagi, tidak tidur pula di siang hari. Tubuh memang selalu dirasa kurang fit, stamina tidak sesuper makhluk lain dengan pola tidur normal. Namun, hari-hari selalu dilalui dengan semangat dan senyum yang tidak pernah menjauh dari muka.

Relasi Moron dan Lucy mulai naik level, dari yang hanya sekadarnya lalu berubah menjadi tidak hanya sekadar (walau belum besar). Gambar-gambar Lucy tersusun acak pada desktop komputer Moron. Satu dua kali klik tertampil wajah yang menyejukkan. Lucy adalah sosok lembut yang selalu dirindukan, dan Moron sangat menyadari itu. Tak heran ia berani membajak foto-foto Lucy dari akun jejaring sosialnya.

Keduanya mulai berbagi suara ketika Moron berinisiatif menghubungi Lucy lewat media selular. Rindunya menggebu saat itu, butuh obat mujarab yang lebih dari sekadar gambar dan pesan tulis singkat. Keegoisan lelaki (kadang) memang susah dibendung.

“Halo…”

“Halo, Moron!”

“Hehe, akhirnya…”

“Hahaa…”

Sempat kaku di awal, akibat Moron yang masih nervous. Tapi perlahan mengalir lancar begitu saja, cerita ini dan itu, bual ini dan itu, bertukar pengalaman dan kisah yang konyol sampai sesedihan. Keduanya merasa sangat nyaman.

“Lucy, mari kita hadapi skenario alam ini bersama-sama. Kamu mau?”

“Ya, kita coba.”

“Kamu adalah hal sederhana yang menarik, dan aku suka kamu.”

“Aku juga.”

“Thanks…”

Petrichor muncul di mana-mana, dandelion menari-nari, angin tenang menyapa kulit, hujan hadir setelah kemarau panjang, dan semesta menyambut ramah sepasang baru dengan kesenangan yang baru pula. Biru, dayu, menggebu.

No comments:

Post a Comment