October 28, 2011





Teman adalah salah satu dari sekian banyak obat yang berfungsi sebagai 'penenang'.
Mujarabnya tidak perlu diragukan lagi.




Photo by Upy Asriva



Dari basah sampai kering, menikmati gemerlap lampu kota sampai remang pedesaan. Sederas titik-titik air yang tumpah pagi buta ini, segala ingatan tentang perjalanan tengah malam itu masih saja membanjiri kepala. Entah. Sepertinya memang enggan mencari kain pel.


October 24, 2011

Biru

Kotak persegi membuat sepasang maya berubah menjadi makhluk setengah nokturnal. Tidak tidur dari tengah malam menjelang pagi, tidak tidur pula di siang hari. Tubuh memang selalu dirasa kurang fit, stamina tidak sesuper makhluk lain dengan pola tidur normal. Namun, hari-hari selalu dilalui dengan semangat dan senyum yang tidak pernah menjauh dari muka.

Relasi Moron dan Lucy mulai naik level, dari yang hanya sekadarnya lalu berubah menjadi tidak hanya sekadar (walau belum besar). Gambar-gambar Lucy tersusun acak pada desktop komputer Moron. Satu dua kali klik tertampil wajah yang menyejukkan. Lucy adalah sosok lembut yang selalu dirindukan, dan Moron sangat menyadari itu. Tak heran ia berani membajak foto-foto Lucy dari akun jejaring sosialnya.

Keduanya mulai berbagi suara ketika Moron berinisiatif menghubungi Lucy lewat media selular. Rindunya menggebu saat itu, butuh obat mujarab yang lebih dari sekadar gambar dan pesan tulis singkat. Keegoisan lelaki (kadang) memang susah dibendung.

“Halo…”

“Halo, Moron!”

“Hehe, akhirnya…”

“Hahaa…”

Sempat kaku di awal, akibat Moron yang masih nervous. Tapi perlahan mengalir lancar begitu saja, cerita ini dan itu, bual ini dan itu, bertukar pengalaman dan kisah yang konyol sampai sesedihan. Keduanya merasa sangat nyaman.

“Lucy, mari kita hadapi skenario alam ini bersama-sama. Kamu mau?”

“Ya, kita coba.”

“Kamu adalah hal sederhana yang menarik, dan aku suka kamu.”

“Aku juga.”

“Thanks…”

Petrichor muncul di mana-mana, dandelion menari-nari, angin tenang menyapa kulit, hujan hadir setelah kemarau panjang, dan semesta menyambut ramah sepasang baru dengan kesenangan yang baru pula. Biru, dayu, menggebu.

October 13, 2011

Kotak Persegi

Menghitung hari adalah pekerjaan yang buang-buang waktu. Kenapa harus dihitung? Sang Hidup yang Maha Kejut akan selalu memberi surprise yang tidak terduga, yang kemudian membuatmu tersenyum melihat laju waktu yang ternyata bisa sekilat.

Dalam durasi yang memang sekilat itu, entah sudah berapa macam etalase jendela yang dilewati. Mencoba kenangi pun tak apa sebenarnya, namun ketika terdapat missing pada otak, lebih baik pandang saja ekspetasi di depan untuk kemudian bereksistensi (halah).

Tidak terasa Moron sudah menghabiskan sebulan pertamanya di Kalimantan, pengalaman ini dan itu tentu saja sudah ia dapatkan. Merasai segala aroma baru yang ditawarkan pulau kaya tersebut.

Apakabar kelanjutan komunikasinya dengan Lucy?

Entah

Entah

Entaaaaaaaaaaaah

Tetapi tidak seentah itu juga realitanya. Ada kotak persegi dengan jaringan nirkabel yang menghubungkan segala racau antar keduanya di malam hari. Dan Lucy tetap menjadi Mrs. Cold. Bagaimana dengan Moron? Ya, ia tetap bermuka tembok, untung sudah dibaluri cat berwarna merah hati.

“Selamat malam, Lucy!”

“Malam…”

“Kok belum tidur?”

“Ngga tau nih, susah aja.”

“Sudah coba musik?”

“Maksudnya?”

“Ya, musik untuk obat tidur. Pilih yang selembut mungkin sebagai lullaby.”

“Okay, makasih yah.”

“ :D “

Entah sudah berapa malam dengan percakapan itu dan itu saja. Rekomendasi musik, klip musik, dan cerita rekam sehari-hari yang masih sekadarnya kemudian hanya menjadi topik monoton yang mau tidak mau selalu diangkat.

Semuanya sedikit berubah ketika seorang teman Moron yang juga teman Lucy membeberkan rahasia yang hanya sedikit pula.

“Ron, lo suka Lucy?”

“Menurut lo?”

“Ya makanya gue nanya. Denger dari cerita-cerita Lucy, gerak-gerik lo ya ke arah situ.”

“Hahaha… Seriusan lo, Lucy bilang gitu?”

“Ya serius!”

Jaket bercerita tentang suka pada dua hari.

Ujung malam terakhir, putri tidur terpejam di sebelah, pada ruang sepi tapi ramai.

Nah, siapa bingung?

Tak ada sesiapa lain kecuali si besar yang ciut oleh paras lelah di hadapan.

Infeksi.

Tapi surga sementara.

“Menurut lo?”

“Kan, lo emang suka sama Lucy. Yaaa, tinggal usaha lo gimana. So far positif sih.”

“Heheeeeeeeh… Dia bilang apa lagi?”

“Ra ha si yak…”

“Huuuuu…”

Moron makin sumringah, ia merasa menjadi seorang komunikator yang sedikit berhasil. Segala pesan berhasil ia sampaikan dengan tepat kepada recipient yang adalah Lucy, walau hanya melalui media sederhana. Kotak persegi.

Watch things on V-C-R’s, with me and talk about big love. I think we’re superstars, you say you think we are the best thing.

(The XX – VCR)

October 10, 2011

Mrs. Cold

Sampai dini hari (lagi) Moron tak tidur. Ia asyik menikmati surga kecil yang ada di sebelahnya. Tawanya hampir pecah melihat mulut Lucy menganga apalagi ketika perempuan itu mengigau. Semuanya ia rekam pada catatan harian.

17 Juli 2011,

02:13 Seandainya saja ada nyamuk seekor, secepatnya akan ku tangkap, kemudian aku masukkan ke mulutnya. Segera ia akan bangun lalu marah-marah, pasti seru. :D

02:56 Ia tertawa dalam tidur. Pasti sedang mimpi indah.

Moron bangun pukul tujuh pagi lebih sedikit. Lucy sudah tak ada di sebelahnya. Ia pun pindah ke ruang asalnya, melipat sleeping bag, mengumpulkan pakaian-pakaian yang baru ia cuci kemarin dan langsung memasukkannya ke dalam ransel. Hari terakhir di penginapan.

“Jaket kamu nih, Ron! Thanks ya…”

“Iya, sama-sama…” (mau dipakai terus juga boleh) Hahaha dasar moron!

Selesai mandi dan sarapan, seluruh peserta berkumpul di lapangan untuk berfoto bersama. Setelah itu masing-masing masuk ke dalam truck dan jeep yang sudah disediakan panitia. Kembali ke basecamp lalu ada beberapa yang pulang ke kediaman masing-masing. Hanya Moron dan tim Kalimantan-nya yang tidak ikutan pulang.

Sore hari, Moron dan timnya mengantar kepulangan Lucy dan beberapa peserta lain. Sepertinya kurang lengkap bila hanya say goodbye secara lisan. Moron mencatat nomor ponsel Lucy, lalu mengetik pesan singkat basa-basi:

“Gimana enjoy kan di kereta, dapet kursi kan ya?”

Tak berbalas hingga esok harinya. Moron selalu mengecek ponsel, tetap tak ada pesan masuk. Sampai akhirnya pesan yang ditunggu datang juga ketika ia sudah sampai di Malang hari lusanya. Terpampang jelas di layar, Lucy yang mengirim pesan itu.

“Sorry baru bales, dapet tempat duduk kok akhirnya.”

“Kirain bakal berdiri sepanjang jalan, kereta ekonomi kan selalu begitu kondisinya. Jadi, langsung ke Jakarta apa stay di Bandung dulu?”

“Langsung ke Jakarta.”

Moron enggan membalasnya lagi, tanggapan Lucy terlalu dingin. Tapi senyumnya tetap merekah, sepertinya sudah sepaket dengan ia punya pipi. Tanda afeksi.

Aku belum menyerah, Mrs. Cold… Hihi :p

October 8, 2011

Putri Tidur Terpejam di Sebelah

Sisa senyum masih saja menempel di muka. Kedua sisi pipi seperti ditarik, tinggal pasang make-up lalu datang ke pesta ulang tahun balita, jadi badut.

“Aku mau kok jadi badut buat kamu, Lucy.” Wah ini jelas sangat freak.

Tidak…tidak. Moron tidak segila itu. Sebangun dari tidur yang ternyata tidak bisa dibilang pagi, ia langsung ke kamar mandi untuk antre. Ternyata ada pula beberapa peserta lain yang juga antre mandi. Pukul 08.30 Moron sudah wangi (mungkin) dan langsung bergabung dengan yang lain di meja makan.

Di pendopo sudah disiapkan sebuah kelas mini. Seusai makan pagi, para peserta langsung digiring ke sana. Kembali dijabarkan berbagai citra positif dari sebuah NGO yang sekaligus sebagai pelaksana pelatihan tersebut, sangat inspiratif. Pasti seisi kelas ada yang sangat ingin menjadi staff-nya suatu saat, tetapi Moron tidak, entah Lucy.

Kelas selesai menjelang tengah hari, yang juga sebagai penanda tidak ada lagi kelas-kelas berikutnya sampai entah kapan. Yang jelas, esok harinya seluruh peserta boleh pulang ke kediaman masing-masing. Hari itu berubah menjadi hari santai seketika. Senyum masih awet di pipi, Moron asyik merokok sambil seduh kopi, menunggu makan siang.

“Ada yang punya gunting kuku?”

“Aku punyaaaaa, sebentar ya!” Moron langsung menyambar pertanyaan Lucy, padahal posisi pria itu lumayan jauh dari jangkau pandang miopi, hahaha.

Setelah makan, semuanya lalu berkumpul di lapangan. Saatnya ber-out bond ria. Bermain lumpur dan polo air sampai sore. Hari yang menyenangkan, walau pada akhirnya bingung bagaimana mencuci baju. T-shirt putih kesayangan Moron berubah warna menjadi cokelat.

Malamnya, ada sebuah interview singkat per peserta, menentukan sesiapa yang layak ditugaskan ke lapangan dengan berbagai bidang. Setelah santap, Moron mendapat giliran tanya-jawab.

“Kamu ingin ditugaskan di mana? “

“Kalimantan, Mas. Saya tertarik di bidang edukasi.”

“Okay, Senin kamu langsung berangkat. Mampir dulu ke Malang sambil menunggu tiket kapal.”

(Speechless) Moron langsung menjabat tangan si pewawancara. Sesingkat itu, tetapi ia berusaha sekali untuk tidak pamer kesenangan, padahal Kalimantan adalah salah satu mimpinya, dan mimpi itu segera menjadi nyata.

Apakabar Lucy? Moron belum peduli.

Ketika yang lain sedang asyik berkumpul suka-suka di pendopo, bermain musik, berbagi canda, santap ini santap itu, minum ini minum itu. Moron malah asyik autis dengan laptopnya di pembaringan. Bukan di ranjang yang malam sebelumnya ia pakai untuk alas tidur, kali itu ia berada di ruang lain. Makin larut, satu per satu individu yang ada di pendopo kembali ke lapak tidur masing-masing.

“Lah, lo kok di sini?”

“Udah mager gue, lo cari lapak lain dah!”

Moron kembali memasang headset dan mendengarkan musik dengan volume keras, padahal yang didengarkan hanya sebatas lagu berformat akustik.

“Hey…!”

Headset dicabut dari laptop, sedikit sumringah.

“Hey… Lho kamu tidur di situ toh?”

“Iya, di sini. Gimana, kamu ditugasin di mana?”

“Kalimantan... Kamu?”

“Udah tepat banget pembagiannya. Aku di Malang.”

“Keren…”

“Eh, itu KOC ya? Suka…”

“Iya, hehe…”

“Yaudah, aku tidur duluan ya…”

“Oh, okay…” Hati Moron makin sumringah.

Suara musik dari laptop sengaja dikurangi agar efek lullaby bisa dinikmati. Lalu dipilih lagu-lagu yang sangat lembut, agar suasana makin tenang. Moron senang bukan main, sesekali ia mengintip mimik tidur sang putri yang ada di sebelahnya.

Infeksi, tapi surga sementara (Dasar freak!!!)

October 7, 2011

Senang Dalam Himpunan

Sudah tengah malam, Moron masih saja beradu tawa dengan ketiga rekannya dan tidak peduli akan siapa saja yang tidur di ruangan. Makin dini hari, tawa makin menjadi. Pukul dua pagi barulah Moron rebah di pembaringan, tetapi masih saja sulit tidur karena sisa tawa masih terngiang-ngiang. Baru pejam sejenak, tiba-tiba panitia pelatihan melakukan bangun paksa.

“Bangun.. Bangun!! Ayo kumpul semua di lapangan!”

“Ada apa ini? Jurit malam? Hell-ooo, kami bukan siswa SMA!” Keluh Moron dalam hati.

Tidak ikhlas Moron bangun dari pembaringan, jalan gontai ia, seperti orang mabuk. Di lapangan sudah berkumpul seluruh peserta pelatihan, membentuk lingkaran besar. Tidak seperti yang sudah-sudah, tidak ada hitung-menghitung untuk menentukan ganjil-genap, semuanya bebas memilih siapa saja untuk jadi partner dalam himpunan. Dalam kepala Moron hanya berisi kata tidur, tidur, dan tidur, bagaimana cepat tidur. Tapi entah kenapa, kata-kata itu lenyap seketika pada saat Lucy melintas di depannya. Moron menguntitnya hingga kemudian mereka berada dalam satu kelompok.

Akhirnyaaaaaaa…

Hari-hari sebelumnya di dalam pelatihan, Moron dan Lucy tidak pernah tertakdir berada dalam satu kelompok kegiatan yang sama. Hasil dari hitung-menghitung angka selalu saja lawan kata, Moron ganjil dan Lucy genap, atau sebaliknya. Ketika diberi kebebasan dalam menentukan partner kelompok, Moron tidak mau buang kesempatan. Dan ya, memang nasib sedang baik.

Kegiatan pagi buta itu ternyata bukanlah jurit malam seperti prediksi sebelumnya. Seluruh peserta pelatihan diajak untuk melakukan semacam simulasi rescue yang dilakukan dini hari. Dalam kelas yang lalu-lalu telah disinggung tentang bagaimana rumitnya menentukan macam perlengkapan yang harus dibawa ketika ada kegiatan rescue. Sebuah ajang uji konsentrasi.

Setelah puluhan menit, tidak ada dialog antara Moron dan Lucy, entah canggung entah bingung entah memang sedang fokus pada penyelia yang mulutnya (mungkin) berbusa. Sampai kegiatan berakhir dan kembali menuju pembaringan, tetap tidak ada komunikasi dua arah yang terucap dari keduanya, sepatah pun. Tetapi, Moron lebih suka senyum-senyum sendiri. Dalam hatinya,

“Yes!!!”