August 8, 2011

Ironi Yang Sekadar

“Tentang catatan perjalanan. Tentang penjajahan baru dan juga potret klasik dari sebuah proses yang sering kita sebut sebagai “pembangunan”. Karena: Aneka ironi adalah negeri kita. Negeri kita adalah (juga) pentas komedi.”

Cerita kali ini hanyalah semata-mata rekam sekadar. Sekadar perjalanan yang makin membuka mata bahwa negeri kita adalah gudang ironi. Tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan para petualang sponsor yang menghabiskan sebagian lini masanya di jalan, yang mendapatkan segudang penghargaan atas travel writingnya, bahkan mendadak kemudian menjadi selebriti dadakan. Perjalanan saya hanya sekedar yang sekedar, sekedar trip dari Samarinda ke Muara Wahau (Kalimantan Timur), yang kembali menyadarkan saya akan indahnya disposisi, perpindahan kualitas hidup saya dari sangat bodoh menjadi sedikit bodoh.

Hari ketiga di bulan kedelapan pada tahun ganjil keenam setelah millennium, berangkat dari Samarinda menggunakan sepeda motor, dan pukul 07.00 ternyata bukanlah waktu yang terlalu pagi. Saya menjadi juru laju kuda besi, dibantu oleh rekan yang menjadi pengatur navigasi. Pada awalnya, “sirkuit balap” menjadi arena suka-suka saya melaju motor dengan kecepatan tinggi, sampai akhirnya tiba di Bontang pun masih layak disebut pagi. Pukul 08.30, dengan kembali mengulang kata sekedar, kami memang berhenti sejenak untuk istirahat sekadar, sekadar merenggangkan otot yang kaku.

Sangatta adalah destinasi berikutnya. Karena saya dan rekan adalah muda yang bersemangat, fokus kami sangat sekali terlalunya pada kota yang menjadi induk kota-kota kecil yang ada di Kutai Timur tersebut. Tidak tahu-menahu waktu adalah imbasnya, entah pukul berapa kami sampai di Sangatta, sebuah keteledoran tipikal untuk sebuah catatan perjalanan. Pun akhirnya kembali kami berhenti, sembari mengambil bekal finansial pada sebuah mesin anjungan tunai. Yang miris pun sebenarnya sudah mulai saya temui pada serangkai yang satu ini, tentang sarana transportasi yang kita sebut jalan raya. Betapa tidak, telah saya sebut “sirkuit balap” pada serangkai perjalanan yang pertama dari Samarinda menuju Bontang, yang berarti kondisi jalan masih sangat layak dan halus. Namun kali ini, dari Bontang ke Sangatta adalah mimpi buruk, lubang di sana-sini. Padahal, wilayah ini sangatlah kaya, ada beberapa perusahaan tambang besar dan sawit berdiri di sana. Mengapa bisa seperti ini? Lagak tawa pasti sudah disiapkan oleh kalian putra dan putri nusantara, karena kembali saya mengangkat pertanyaan yang sudah-sudah. Namun kembali akan saya utarakan sebuah alibi: Ini hanya catatan saya yang sekedar, sesuai dengan apa yang saya lihat ketika memang sedang sekedar lewat.

Selanjutnya, tidak berlama-lama kami singgah di kota Sangatta. Tujuan selanjutnya adalah benar-benar Muara Wahau. Menjelang siang, kembali saya pacu laju membelah kumpulan debu. Kondisi jalan lebih luar biasa, luar biasa mimpi buruk yang benar-benar mega. Permukaan jalan adalah mimik bulan mini, bahkan dalam lubang bisa mencapai lebih dari setengah roda. Banyak truk berat saling beriringan, baik itu truk ekspedisi maupun truk perusahaan, sungguh luar biasa si pengemudi. Ruas jalan Bengalon namanya, sebuah ruas yang ramai kegiatan tambang di kanan kiri. Kembali sebuah pengalaman baru saya temui, adalah pengalaman melihat lubang-lubang raksasa yang bila diisi air jutaan kubik bisa kita sebut sebagai danau, adalah lubang yang dihasilkan alat-alat berat pencari batubara.

Ada inisiatif entah dari siapa, ada sebagian lubang di sepanjang jalan yang ditutupi dengan tanah, maksud baiknya adalah tentu untuk memperlancar lalu-lintas. Namun, tidak semata-mata masalah berhenti sampai di situ. Bagaimana jika hujan turun? Sudah barang tentu jalanan akan menjadi momok bagi pengendara, kami pun mengalaminya. Masih dalam ruas jalan yang sama, tiba-tiba hujan turun, tidak begitu deras, tapi cukup membuat kubangan dan licin jalan. Kami akhirnya jatuh juga ke dalam kubangan karena ulah saya yang arogan, yang coba-coba melaju motor kembali kencang. Perjalanan kami pun terhambat sementara. Meski tidak ada luka yang berarti, butuh waktu lama untuk memperbaiki body sepeda motor dan menyalakan mesin. Kami melanjutkan perjalanan menjelang sore.

Sebagian realita yang telah disebut sudah barang tentu kembali membangkitkan pertanyaan, sekali lagi sangat klasik, yang membuat kita menjadi sok kritis, yang membuat kita kembali menggugat penguasa tentang serba-serbi keadilan, yang juga kembali membahas tentang hak dan kewajiban yang tidak ada pangkal ujungnya. Banyak perusahaan besar yang mengeruk kekayaan Kalimantan, namun tidak ada timbal baliknya sama sekali terhadap kesejahteraan isinya. Meski hanya sekedar jalan, sepertinya mereka tidak mau ambil peduli. Jangan pula coba-coba bertanya kepada pemerintah, siapa mereka kita sudah tahu. Dan ke mana kemudian kita akan melaju? Cukup berhenti menjadi generasi apatis? Sayangnya kami tidak, karena perjalanan belum benar-benar berhenti.

Sedikit Cerita dari Kudung

Masih di poros yang sama, jalur utama Sangatta – Muara Wahau yang makin hancur luar biasa. Belum juga dekat dengan tujuan utama, sepeda motor kami kembali bermasalah. Pecah roda belakang, tromol pun hancur. Habis sudah, karena tidak ada bengkel di sekitar. Kudung nama daerahnya. Apa yang kami lakukan kemudian bukan berarti menyalahkan kondisi jalan, menyalahkan pemerintah pun sia-sia, apalagi menghujat perusahaan, malah buang-buang waktu untuk sekedar lelucon. Lelucon bagi mereka-mereka yang adalah pengusaha badut-badut pesta mega besar. Ah, sial! Saya apatis? Kami hipokrit? Kami panik? Kami? Tidak sedangkal itu.

Dengan tenang kami turun ke pemukiman kecil warga, sangat kecil, sembari berharap ada orang baik yang bersedia menampung kami sementara. Dan semesta memang amat sangat baik, adalah sebuah keluarga yang amat mulia dalam mendermakan kediamannya untuk kami tumpangi sementara. Sampai hari berubah dari remang menjadi gelap, belum juga ada truk yang bersedia mengangkut kami beserta kendaraan. Kami memang harus bermalam di sana.

Mereka yang baik itu adalah Pak Min, Bu Min, dan Pak soleh. Mengajak kami makan malam dengan hidangan (yang kata mereka) ala kadarnya, tetapi bagi kami sangat luar biasa. Setelahnya, bincang-bincang pun menjadi sesuatu yang juga menarik. Tentang pemerintah (lagi), tentang kekayaan bumi Kalimantan, dan tentang segala daya upaya dalam mengeruk isinya. Dari banyak bincang yang kami angkat tersebut, ada beberapa hal yang sangat menarik yang kemudian saya rangkum menjadi begini:

“Betapa amat sangat cerdiknya pembangun sistem yang ramai berkepentingan di bumi kaya ini. Pertama, logging adalah pintu masuk utama, mereka kaya raya oleh kayu-kayu yang mereka angkut. Kedua, lahan kosong berganti sawit. Sawit yo wit adalah salah kaprah. Memang, sawit adalah pohon, tetapi tidak berarti keseimbangan kembali tercipta.. Demi sawit hutan dikorbankan, yang artinya segala macam unsurnya pun ikut lenyap. Apakabar dunia? Ketiga, sawit tak produktif, lahan kembali kosong. Belum berhenti, karena masih ada mesin uang yang bisa digali. Adalah barang tambang.”

Cukup manis modus-modusnya. Ibarat dongeng, obrolan tersebut berhasil membuat kami terlelap kemudian. Esok paginya, kami pun akhirnya mendapatkan tumpangan dari sebuah truk besar. Susah payah kami menaikkan sepeda motor ke atas truk, tetapi dibayar dengan kursi yang (tampak) nyaman bagi kami berdua. Tidak serta-merta perjalanan pun menjadi nyaman pula, kondisi jalan ternyata lebih buruk bagai lintasan off road. Tetapi, paling tidak kami tetap bersyukur karena masih bisa melanjutkan perjalanan. Tiga jam kemudian sampailah kami di Muara Wahau. Berhenti untuk sementara sebuah rangkaian perjalanan, dan… Wow!!! Muncul realita baru yang membuat kami, terutama saya, mendadak tertawa. Benar-benar lautan sawit. Ironis.

Di balik hancur leburnya sarana transportasi, ada perusahaan sawit besar berdiri kokoh di sana, di Muara Wahau.

(Bersambung)

1 comment: