May 9, 2011

Tutur Singkat Tentang seRumput Yang Memang Singkat

Berlari dan berlari, melintasi gunung sampai laut hingga akhirnya terdampar pada sebuah pulau. Sepi adalah kudapan sehari-hari ditambah lauk semilir angin dan bau amis pesisir pantai. Tentang khayalan-khayalan juga mimpi yang sebelumnya bebas hilir mudik dalam urat-urat kepala, semua itu sedang aku usahakan lebur dalam sebuah fase yang disebut pengasingan. Begitulah, aku asing di tempat ini, sampai aku harus berkenalan dengan sebatang pohon kelapa yang menjulang di halaman.

Adalah sebuah skenario semesta yang tidak terprediksi pangkal ujungnya. Dengan penuh semangat pula aku manfaatkan sebagai media lari, lari dari buai khayal akan segarnya rumput hijau. Rumput segar tersebut, yang hijaunya menari-nari pada setiap lini masa yang aku ikuti, berpuluh hari lalu, adalah sebuah adiksi yang sekonyong-konyong memantik mimpi liarku akan nikmatnya menghisap sari batangnya.

Pernah seorang sahabat memberi petuah hujat berujung nasihat, menghendaki aku untuk segera memadamkan api yang mulai aku buat kecil-kecil. Sebelum besar, lebih baik cepat-cepat dipadamkan agar bekasnya tidak begitu kentara, ujarnya waktu itu. Tetapi aku yang batu ini tidak menggubris sama sekali, bahkan semakin gesit menciptakan modus sebagai bahan bakar.

Belum juga sempat api menjadi besar, hujan deras datang memadamkannya. Bahkan kemudian, angin kencang membawa terbang rumput beserta akarnya sampai titik pandang terjauh. Ah, kecewa dalam hati, padahal sedang nikmat-nikmatnya memanasi rona hijaunya dan indera penciuman pun mulai bergerilya menuju aroma tubuhnya. Di sebelah, sahabatku tertawa menghakimi. Sesuai dengan prediksinya, niat setulus apapun dan segiat-giatnya tetapi tanpa etika sudah pasti tak berujung gemilang. Aku menggeram penuh gerutu.

Memang dan memang, rumput tersebut bukan serumput yang hidup pada lahan bebas cabut. Tapi dan tapi, aku dengan hasrat yang penuh gelora-gelora dahsyat ini berusaha menghapus garis batas yang ada. Aku makhluk bebas, adakah penting sebuah etika? “Makan saja kebebasanmu, bumi kita bumi etika!” Jawab sahabatku ketus. Ah, sebegitunya dia tak berpihak. Toh serumput itu kini telah pergi jauh terhempas angin, perlu teropong untuk mengintip rona hijaunya, kilahku saat itu.

“Hei sahabat, aku membeli teropong!” Hahaha… Aku sepaket dengan keras kepala.

“Aku hendak mengintipnya, sahabat!” Kepala mengeras melebihi batu.

Sekilatnya sahabatku mengambil pemukul kasti, diayunkannya keras-keras, mutlak kepalaku jadi obyek sasaran. Aku lari sekenanya, terjadi kejar-kejaran anak kucing, kucing-kucingan, berputar-putar mengitari harmoni. Kemudian, dalam engah, lari-larian kami terhenti, dan segera setelah itu aku ajukan penawaran:

“Aku butuh waktu, dan bila mungkin, aku harus meninggalkan tempat ini sementara, demi menghapus rona hijaunya yang sudah menyandu.”

Sahabatku memberi isyarat setuju dan menyilakan aku mencari tujuan pergi. Ya, tidak harus aku berpusing dan berlama-lama mencari destinasi, karena skenario yang sekarang tiba-tiba datang menawarkan arah laju. Terhempaslah aku kemudian hingga sampai di pulau ini, asing, sepi, pulau tempatku menuliskan tuturan ini. Jauh, teropong dengan lensa kaliber besar pun tidak mampu menjangkau hijau si rumput tadi.

Sekarang, baru seumur jagung aku hidup dalam pengasingan, dan semuanya terkapar di dasar yang menghampar sari-sari jalannya skenario. Mimpi dan khayalan segera mengepak, pula aku berusaha membuang kata-kata rumit dan sebentuk obsesi indah. Aku melebur begitu saja. Tetapi, candu akan rona si rumput hijau masih membekas, meski tanpa obsesi juga mimpi. Hahaha, maafkan aku! Masih ada kata rumit, sahabat! Proses adalah serumit yang jelas rumit, sahabat!

Dan terakhir, khusus tertuju kepada engkau, adiksi. Bagaimana kabarmu? Ah, pasti sedang terbuai dalam wangi bau petrichor. Selamat menikmati. Semoga tidak lekas engkau jadi santapan sapi.

…, deafen me with words of sweetest ecstasy.

Alone i will care,

alone i will care.

(Blueboy – Stephanie)

6 Mei 2011

No comments:

Post a Comment