May 15, 2011

Salam Tabik

“Adakah yang kau lihat adalah tiga pasang lengan malaikat yang bisa berganti gigi susu, menari ci..luk..ba, berkejaran di bawah pendopo tak terurus, sampai memakan rumput yang mereka bilang asam? Aku menaruhnya hingga di kerongkongan, sampai pada lambung. Itu pada pertengahan, sebuahnya. Hah, mati fikirku. Tidak tahu lagi meracau macam apa.”

Tentang masa lewat yang hampir mengepak usang. Tentang nikmatnya buai indah sebuah mimpi kecil. Tentang sepetak tanah lapang beserta rumput. Tentang sungai dengan riuh riak airnya. Tentang bukit. Tentang jalanan berbatu. Tentang makhluk bebas yang adalah kita beserta hasrat mengumpul.

Biar telah lalu, teman! Segala rekam tentang perjalanan tanpa batas kita masih tetap tersimpan pada ruang kepala. Mungkin sangat terlambat dalam menjawab pertanyaanmu, tapi bukan berarti tak layak bila kujawab sekarang. Ya, aku melihat, dan aku sangat ingat, bahkan gambar tiga bocah ompong itu sedang terpampang di depan muka.

“Kita bukan sepasang, kita tak pernah bisa satu pasang!” Entah berapa kali aku mendengar kau berteriak macam itu waktu itu. Aku sangat mengerti teman, kau selalu mengatasnamakan dirimu sebagai manusia dengan misteri hormonal yang sulit dibaca. Kau bangga dengan identitas abu-abu. Tetapi, adakah kau sadar, kalimatmu boomerangmu?

Kita adalah sepasang dengan tangan berkait saat mengantri karcis kereta pada loket stasiun. Aku masih ingat pelukmu ketika kita sedang bersepeda. Bahuku ini bahkan pernah kau jadikan sandaran kepala ketika sedang duduk santai pada sebuah taman. Apa artinya? Kita melengkapi. Segala kilah selalu kutunggu jika kau sempat. Hahaha, lucu bukan?

Aku tak menggugat, tak ada guna, toh ini hanya sebatas bumbu-bumbu ingatan yang sedang kumasak ulang. Aku lapar. Otak menuntut produktivitas ketika tangan malas bergerak. Jari lemas sedang jurnal sudah penuh cerita usang. Untung saja pertanyaanmu yang hampir usang itu belum benar-benar terbuang. Jadilah racikan baru demi puas mata si pengunjung jurnal. Semoga saja puas.

Kini kulihat, kau sedang asyik berpicisan dengan seorang laki-laki. Apa artinya? Konyol teman! Lehermu tersayat oleh boomerang yang kau lempar sendiri. Kau bukan anti berpasang, kau hanya seonggok hasrat yang tenggelam dalam bara benci karena trauma masa kecil. Kau pesakitan. Semua sudah kubaca ketika sebilah pedang telah menancap pada zona vitalmu. Kau perempuan, kau menikmati keperempuananmu.

Tetapi, setidaknya bolehlah aku berterimakasih atas kebersamaan yang singkat yang mengantar kita pada jalur bebas sebagai makhluk. Yang mengubah kita sejenak menjadi sapi, telanjang seenaknya dalam memamah rumput. Mimpi kecil yang lucu, teman. Selalu aku jadikan tolak ukur dalam menempuh kehidupan selanjutnya yang lebih baru.

Mungkin terakhir pintaku sebelum semuanya benar-benar mengepak usang. Bangunlah sebuah simbol demi mengenang tiga bocah lugu itu, mereka sangat lucu, jangan lekas-lekas kau hapus. Karena aku tak pernah sudi menghapus, bahkan sebuah monumen beserta patung sudah aku bangun tepat di halaman rumah. Patung mereka, bukan kita.


Salam tabik...

No comments:

Post a Comment