May 27, 2011

Jumpa Lagi, Dunia!

Halo, dunia! Apa kau resah menanti jejamah dan raba-raba tanganku yang hilang beberapa hari belakangan? Aku baik dunia, tak ada aku orgasme oleh lain-lain yang menggiurkan, entah itu tetek atau bengek. Bahkan sekumpul kawan baru, empat gadis bersaudara yang sempat bertamu kemarin dengan pakaian serba minim, seksi luar biasa, tak membuat hasratku sekonyong-konyong terpantik dengan segera, tak terpengaruh malah, meski efek dari reramu fermentasi sudah menguasai rongga. Hahaha…! Terserah lah bila kau hendak bertanya-tanya.

Hari-hari berat, dunia. Susah menyapamu ketika kepala dibebani setumpuk besi karat, benar-benar berat. Hari-hari dalam tujuh hari belakangan adalah hari-hari yang sangat menarik untuk bahan cerita. Ada satu dua macam drama tentang kehidupan pulau tropis yang kini makin kentara kerasnya. Sepele itu mendayung perahu atau menombak ikan, kini yang aku hadapi adalah permainan watak juga skenario alam tentang setia tak setia sampai adu domba. Tak kuasa aku menahan tawa melihat drama konyol pola pikir, malah sampai menangis. Bosan aku akan tutur dan elu-elu keindahan. Munafik, ya dia munafik, keindahan itu, munafik semuanya! Semuanya, dunia! Elok di luar tapi busuk setelah diselam.

Ada dia si bayi, cecunguk kecil yang lupa daratan setelah diberi posisi yang bagus. Manis dan tampak bertanggung jawab dihadapan orang-orang dewasa. Tapi di belakang, merengek-rengek sambil melempar mandat ke bocah lain, tak ada kerjanya. Busuk! Makin busuk ketika dia mulai mengadudomba sekumpulan bermain anak-anak berseragam. Racun fitnah telah dia racik dan sebarkan pada wahana bermain mereka, demi menghancurkan salah seorang dari kumpulan tersebut karena dendam pribadi. Ah, lebih mulia anjing daripadanya, cacing pitanya bahkan melebihi kadar yang dikandung babi. Ya, ANJING dan BABI, stratanya lebih tinggi dari cecunguk itu!

Ada dia si lidah panjang. Awalnya aku iba akan penampakan dan citra sehari-harinya, tapi sekarang hilang sudah segala hormatku kepadanya. Jilat sana-sini demi suap nasi. Nasi haram dia makan! Pandai silat lidah dan tak mau disalahkan ketika tertangkap berkesalahan. Giat kerjanya nir-manfaat, dunia! Ada pula dia si tua. Bermuka dua (juga). Hidupnya mengambang di antara si baik dan si jahat, dia pandai membagi kantungnya sama rata demi keping emas dari keduanya. Setan! Curah kerjaku yang tak berbayar selama ini malah dimanfaatkan olehnya untuk memperbesar pundi. Di belakangku pula, ternyata ada drama penandatanganan kontrak olehnya dengan si jahat untuk menghalang-halangi segala niat mulia si baik.

Kasihan si baik, terombang-ambing ke sana ke mari bagai debu yang tak mengerti arah laju, kecuali bila digiring oleh sang angin. Jalan berkelok yang selama ini dia lalui makin dipersulit dengan munculnya lubang di sana-sini. Bahkan si jahat dengan liciknya telah menggiring si baik ke tepian jurang. Sekali dorong, hancur kebaikan yang telah diramu tiga ratus hari ke belakang. Ya, memang benar-benar sangat susah berkelakuan baik di bumi tropis ini. Banyak kekonyolan yang bahkan mega lucunya, hingga tawa dapat seketika berubah menjadi tangis miris. Birokrasi curut! Penguasa anjing! Bangsat mereka!

Begitulah berat hari-hariku belakangan, dunia. Aku hidup pada kubu yang penuh konflik, tidak hanya konflik di luar tapi juga di dalam. Susah mencari fokus akan utopia yang telah kuracik. Mimpi-mimpi jauh dari bakal nyata, dan aku hampir putus asa. Aku bagai sampah plastik di tengah laut yang seakan habis lini masanya, kecuali bila ada kesadaran sosok yang rela memungut, lalu menempatkanku ke tujuan akhir, ke tempat sampah. Kepala panas, dunia. Sangat sekali hingga puluh-puluh derajat suhunya. Aku sangat butuh pendingin, aku butuh es untuk panas kepala. Lemari es tak ada fungsi, pergi ke kedai pun tak kuasa beli.

Tiba-tiba muncul dia si orang baru yang baik. Lewat kotak ajaib dia kirimkan bongkahan es ke ruang kepala. Beribu ucap terimakasih kuluapkan, bertubi puji kulempar sebagai basa-basi. Tak disangka dia hadir begitu saja, kepala berubah dingin seketika. Putus asa belum juga jadi menenggelamkan angan, justru angan yang perlahan bangkit ke permukaan. Tak jadi buruk kondisiku, dunia. Bahkan kini dengan stamina tinggi siap kujamah tiap jengkal tubuhmu.

Dan terakhir, sebelum semuanya benar-benar lelap pada pekat malam. Kepada dia si baru yang baik, telah kusiapkan angsa-angsa di kandang dan segera akan kukirim mereka untuk menjaga tidurnya. Semoga kebaikannya tetap lestari. Dan kepada engkau pula dunia, telah kusiapkan kapal perang besar yang sanggup mengeruk segala muntahan-muntahanmu, dan dengan kekuatan seadanya pula akan kuhadapi si jahat masokis bergergaji besi itu. Pada saatnya nanti, aku yakin sekejap segalanya dapat berubah.

Betul, lucu bumi kita.

Arena parodi konyol mega tawa,

juga tangis,

miris.

Kemujan, 25 Mei 2011

1 comment:

  1. Jadi pengangguran saja, manusia.

    Ih, kau keren Mas Adit.

    ReplyDelete