May 18, 2011

Happy Tuesday (Selamat Selasa)!

Apakabar hingar-bingar urban? Ada hal baru apalagi? Fenomena apa yang sedang hilir-mudik? Semoga yang elok adalah tetap berita baik.

Dan, yang juga baik adalah pembuka hari ini, adalah tetamu yang hanya seorang yang singgah pada zona pribadi setelah aku undang, pada sebuah jejaring. Benar-benar orang baru dan tak tahulah aku siapa-siapa dia itu. Berusaha selalu adil sudah sejak dalam pikiran, dia aku anggap sebagai si baru yang baik, aku yakin dia baik.

“Hei, selamat datang! Telah aku suguhi kamu sepiring kecil prosa sebagai kudapan. Tetapi, maafkan si fakir ini, tak ada sisa orson untuk kering dahagamu.”

Tak lama kemudian dia menyerahkan sebuah bungkusan yang katanya sebagai buah tangan. Aku sikapi dengan terimakasih dalam-dalam. Ternyata isinya adalah semangkuk sajak. Wah, sudah dari pandangan pun terlihat lezat apalagi setelah dirasa. Benar saja, sajak-sajak itu lezat dengan aroma bumbu yang pekat-pekat menerjang lubang hidung.

Rangkuman perjalanan dalam mangkuk itu kusantap habis tanpa bersisa. Dia pandai juga memasak. Tepat sekali, bertepatan dengan keadaan sebenarnya yang mana aku mulai bosan dengan si dua tukang masak yang selalu hadir pagi dan sore dengan macam hidangan yang itu-itu saja. Aku sangat ingin merasakan yang baru, sudah kucicip sedikit yang baru. Andai aku dapat menyewa dia untuk sementara waktu.

Tak mau terus larut pada aroma sisa dalam mangkuk itu, komunikasi dua arah lalu berjalan begitu saja, adu racau tentang apa-apa, apa saja, hingga matahari membentuk garis imajiner tegak lurus ke kepala. Namun sayang, setelah itu harus segera aku tutup forumnya. Dengan sedikit mengusir, ku jelaskan bahwa si fakir ini hendak menunaikan tugas harian. Kumohonkan setubi maaf dengan janji sebuah pertemuan lain kali.

Singkat saja untuk hari ini. Memetik perbincangan kemarin, perlu kiranya pemahaman lebih tentang antropologi filosofi, aku lupa siapa pencetusnya, adalah tentang tujuannya yang berisi sebentuk motivasi dalam melawan sisi buruk diri. Dan, sisi lain tubuh si fakir ini telah didorong oleh sekumpulan alphabet klasik darinya, kemarin. Terimakasih bijak si fakir yang adalah aku.

Tentang kehidupan urban dan segala fenomenanya, sudah bisa sedikit-sedikit aku sisihkan, bukan tak peduli. Tetapi hari ini, aku berhasil mendayung perahu hingga lain pulau dan menombak tiga ekor ikan di zona karang. Luar biasa kepulauan dengan segala teriknya. Selamat Selasa yang sebentar lagi akan berubah Rabu.

17 Mei 2011

No comments:

Post a Comment