May 30, 2011

Selamat Ulang Tahun, Tiga Puluh.

Bila kelipatan tiga dari sepuluh adalah angka baik, maka yang baik pula adalah semua yang termasuk ke dalam himpunan kecil itu. Pula bila kumpulan minggu kelima dari sebuah himpunan besar yang disebut tahun adalah bulan luar biasa, maka beruntunglah tiap-tiap anggotanya karena disejajarkan dengan orang-orang luar biasa.

Namun, apalah artinya sebuah kata “bila”. Segala ramal baik adalah buah pikir yang hanya dapat memantik mimpi-mimpi kecil, bukan berarti tidak harus dipercaya, percaya pun sah-sah saja, tetapi segala sesuatunya sangat bergantung kepada proses alam. Dan semua yang sedang hidup dalam lajur tersebut adalah juga bagian dari prosesnya. Klise memang.

Yang juga klise, rekam jejak lini hidup yang telah lalu pun belum tentu layak jadi bahan refleksi, kecuali bila ada terselip beberapa yang positif yang sudah barang tentu sempurna untuk dijadikan cermin. Dan yang juga mutlak adalah semua hidup pada bilangan-bilangan yang disimbolkan oleh detik, menit dan seterusnya yang intinya adalah sama yaitu waktu. Terjadi metamorfosa pada dua, tiga dan beberapa bilangan waktu yang telah dilewati, sadar tak sadar, dan tidak dapat ditebak apakah prosesnya sempurna atau tidak.

Karena kita adalah ulat, kita memulai hidup dengan berjungkit atau merayap dari dahan ke dahan dan menyantap daun. Masa hidup akan banyak dihabiskan untuk bergerak dari satu pohon ke pohon lain, kemudian mencari tempat yang paling nyaman untuk berkepompong. Fase sebelum menjadi kepompong tersebut merupakan proses yang paling berat, di mana kita dituntut untuk mandiri menyantap daun dan berkamuflase demi melindungi diri dari bahaya predator.

Pula karena memang banyak pemangsa berkeliaran di sekitar, yang selalu siap siaga memicingkan mata dalam memantau gerak setiap mangsa yang lewat. Lengah sedikit, kita yang ulat ini akan lumpuh oleh paruh-paruh besar mereka yang berbahaya. Ya, kita adalah mangsa mereka. Maka, kita harus dituntut jeli ketika memanfaatkan potensi lahiriyah dalam berkamuflase demi melancarkan metamorfosa menjadi kepompong lalu kupu-kupu.

Setelah itu, tak mungkin lagi kita dapat berubah menjadi benda hidup berciri lain. Mutlak dengan menjadi kupu-kupu adalah akhir dari fase hidup. Predator masih mengancam, selain itu, umur pun tak jauh-jauh panjang. Tetapi lebih mulia mengakhiri hidup sebagai kupu-kupu daripada hanya sekedar mati konyol sebagai ulat. Karena setidaknya kita telah berhasil melewati metamorfosa yang paling sempurna.

***

Kepada kamu yang mewakili sesiapa lain yang juga merupakan anggota dari himpunan yang telah disebut, hari ini adalah pengulangan sekaligus perayaan dari momentum awal bilangan waktumu yang telah kamu lewati berkali-kali. Tak ada yang paling istimewa dari sekedar angka, baik satuan maupun puluhan, karena semesta telah memberi fungsi masing-masing pada setiap bilangannya dengan sangat adil. Dan entah macam apa segala gerak usahamu, sempurna hidup adalah ketika kita sudah berhasil melewati fase berat sebagai ulat. Dalam tidur panjang yang nyaman dalam bungkus kepompong, bakal kupu adalah sesuatu yang mutlak akan kita dapati. Karena tujuan utama hidup kita adalah kupu-kupu, sempurna dan elok dengan segala coraknya.

Berpesta poralah sejenak demi mengenang awal keanggotaanmu ke dalam himpunan. Setelah itu segeralah berposisi kembali sebagai ulat yang selalu siap siaga dan pintar memilih daun untuk disantap. Dan terakhir, ada sebentuk doa baik yang sebenarnya klise tapi tidak sepele: Semoga menjadi kupu-kupu.

***

Selamat ulang tahun, tiga puluh…Kecuali tak terhalang hujan dan jarak, tuturan ini sangat ingin sekali kurangkum menjadi sebuah bingkisan lisan.

Barakuda, 30 Mei 2011

May 27, 2011

Jumpa Lagi, Dunia!

Halo, dunia! Apa kau resah menanti jejamah dan raba-raba tanganku yang hilang beberapa hari belakangan? Aku baik dunia, tak ada aku orgasme oleh lain-lain yang menggiurkan, entah itu tetek atau bengek. Bahkan sekumpul kawan baru, empat gadis bersaudara yang sempat bertamu kemarin dengan pakaian serba minim, seksi luar biasa, tak membuat hasratku sekonyong-konyong terpantik dengan segera, tak terpengaruh malah, meski efek dari reramu fermentasi sudah menguasai rongga. Hahaha…! Terserah lah bila kau hendak bertanya-tanya.

Hari-hari berat, dunia. Susah menyapamu ketika kepala dibebani setumpuk besi karat, benar-benar berat. Hari-hari dalam tujuh hari belakangan adalah hari-hari yang sangat menarik untuk bahan cerita. Ada satu dua macam drama tentang kehidupan pulau tropis yang kini makin kentara kerasnya. Sepele itu mendayung perahu atau menombak ikan, kini yang aku hadapi adalah permainan watak juga skenario alam tentang setia tak setia sampai adu domba. Tak kuasa aku menahan tawa melihat drama konyol pola pikir, malah sampai menangis. Bosan aku akan tutur dan elu-elu keindahan. Munafik, ya dia munafik, keindahan itu, munafik semuanya! Semuanya, dunia! Elok di luar tapi busuk setelah diselam.

Ada dia si bayi, cecunguk kecil yang lupa daratan setelah diberi posisi yang bagus. Manis dan tampak bertanggung jawab dihadapan orang-orang dewasa. Tapi di belakang, merengek-rengek sambil melempar mandat ke bocah lain, tak ada kerjanya. Busuk! Makin busuk ketika dia mulai mengadudomba sekumpulan bermain anak-anak berseragam. Racun fitnah telah dia racik dan sebarkan pada wahana bermain mereka, demi menghancurkan salah seorang dari kumpulan tersebut karena dendam pribadi. Ah, lebih mulia anjing daripadanya, cacing pitanya bahkan melebihi kadar yang dikandung babi. Ya, ANJING dan BABI, stratanya lebih tinggi dari cecunguk itu!

Ada dia si lidah panjang. Awalnya aku iba akan penampakan dan citra sehari-harinya, tapi sekarang hilang sudah segala hormatku kepadanya. Jilat sana-sini demi suap nasi. Nasi haram dia makan! Pandai silat lidah dan tak mau disalahkan ketika tertangkap berkesalahan. Giat kerjanya nir-manfaat, dunia! Ada pula dia si tua. Bermuka dua (juga). Hidupnya mengambang di antara si baik dan si jahat, dia pandai membagi kantungnya sama rata demi keping emas dari keduanya. Setan! Curah kerjaku yang tak berbayar selama ini malah dimanfaatkan olehnya untuk memperbesar pundi. Di belakangku pula, ternyata ada drama penandatanganan kontrak olehnya dengan si jahat untuk menghalang-halangi segala niat mulia si baik.

Kasihan si baik, terombang-ambing ke sana ke mari bagai debu yang tak mengerti arah laju, kecuali bila digiring oleh sang angin. Jalan berkelok yang selama ini dia lalui makin dipersulit dengan munculnya lubang di sana-sini. Bahkan si jahat dengan liciknya telah menggiring si baik ke tepian jurang. Sekali dorong, hancur kebaikan yang telah diramu tiga ratus hari ke belakang. Ya, memang benar-benar sangat susah berkelakuan baik di bumi tropis ini. Banyak kekonyolan yang bahkan mega lucunya, hingga tawa dapat seketika berubah menjadi tangis miris. Birokrasi curut! Penguasa anjing! Bangsat mereka!

Begitulah berat hari-hariku belakangan, dunia. Aku hidup pada kubu yang penuh konflik, tidak hanya konflik di luar tapi juga di dalam. Susah mencari fokus akan utopia yang telah kuracik. Mimpi-mimpi jauh dari bakal nyata, dan aku hampir putus asa. Aku bagai sampah plastik di tengah laut yang seakan habis lini masanya, kecuali bila ada kesadaran sosok yang rela memungut, lalu menempatkanku ke tujuan akhir, ke tempat sampah. Kepala panas, dunia. Sangat sekali hingga puluh-puluh derajat suhunya. Aku sangat butuh pendingin, aku butuh es untuk panas kepala. Lemari es tak ada fungsi, pergi ke kedai pun tak kuasa beli.

Tiba-tiba muncul dia si orang baru yang baik. Lewat kotak ajaib dia kirimkan bongkahan es ke ruang kepala. Beribu ucap terimakasih kuluapkan, bertubi puji kulempar sebagai basa-basi. Tak disangka dia hadir begitu saja, kepala berubah dingin seketika. Putus asa belum juga jadi menenggelamkan angan, justru angan yang perlahan bangkit ke permukaan. Tak jadi buruk kondisiku, dunia. Bahkan kini dengan stamina tinggi siap kujamah tiap jengkal tubuhmu.

Dan terakhir, sebelum semuanya benar-benar lelap pada pekat malam. Kepada dia si baru yang baik, telah kusiapkan angsa-angsa di kandang dan segera akan kukirim mereka untuk menjaga tidurnya. Semoga kebaikannya tetap lestari. Dan kepada engkau pula dunia, telah kusiapkan kapal perang besar yang sanggup mengeruk segala muntahan-muntahanmu, dan dengan kekuatan seadanya pula akan kuhadapi si jahat masokis bergergaji besi itu. Pada saatnya nanti, aku yakin sekejap segalanya dapat berubah.

Betul, lucu bumi kita.

Arena parodi konyol mega tawa,

juga tangis,

miris.

Kemujan, 25 Mei 2011

May 18, 2011

Happy Tuesday (Selamat Selasa)!

Apakabar hingar-bingar urban? Ada hal baru apalagi? Fenomena apa yang sedang hilir-mudik? Semoga yang elok adalah tetap berita baik.

Dan, yang juga baik adalah pembuka hari ini, adalah tetamu yang hanya seorang yang singgah pada zona pribadi setelah aku undang, pada sebuah jejaring. Benar-benar orang baru dan tak tahulah aku siapa-siapa dia itu. Berusaha selalu adil sudah sejak dalam pikiran, dia aku anggap sebagai si baru yang baik, aku yakin dia baik.

“Hei, selamat datang! Telah aku suguhi kamu sepiring kecil prosa sebagai kudapan. Tetapi, maafkan si fakir ini, tak ada sisa orson untuk kering dahagamu.”

Tak lama kemudian dia menyerahkan sebuah bungkusan yang katanya sebagai buah tangan. Aku sikapi dengan terimakasih dalam-dalam. Ternyata isinya adalah semangkuk sajak. Wah, sudah dari pandangan pun terlihat lezat apalagi setelah dirasa. Benar saja, sajak-sajak itu lezat dengan aroma bumbu yang pekat-pekat menerjang lubang hidung.

Rangkuman perjalanan dalam mangkuk itu kusantap habis tanpa bersisa. Dia pandai juga memasak. Tepat sekali, bertepatan dengan keadaan sebenarnya yang mana aku mulai bosan dengan si dua tukang masak yang selalu hadir pagi dan sore dengan macam hidangan yang itu-itu saja. Aku sangat ingin merasakan yang baru, sudah kucicip sedikit yang baru. Andai aku dapat menyewa dia untuk sementara waktu.

Tak mau terus larut pada aroma sisa dalam mangkuk itu, komunikasi dua arah lalu berjalan begitu saja, adu racau tentang apa-apa, apa saja, hingga matahari membentuk garis imajiner tegak lurus ke kepala. Namun sayang, setelah itu harus segera aku tutup forumnya. Dengan sedikit mengusir, ku jelaskan bahwa si fakir ini hendak menunaikan tugas harian. Kumohonkan setubi maaf dengan janji sebuah pertemuan lain kali.

Singkat saja untuk hari ini. Memetik perbincangan kemarin, perlu kiranya pemahaman lebih tentang antropologi filosofi, aku lupa siapa pencetusnya, adalah tentang tujuannya yang berisi sebentuk motivasi dalam melawan sisi buruk diri. Dan, sisi lain tubuh si fakir ini telah didorong oleh sekumpulan alphabet klasik darinya, kemarin. Terimakasih bijak si fakir yang adalah aku.

Tentang kehidupan urban dan segala fenomenanya, sudah bisa sedikit-sedikit aku sisihkan, bukan tak peduli. Tetapi hari ini, aku berhasil mendayung perahu hingga lain pulau dan menombak tiga ekor ikan di zona karang. Luar biasa kepulauan dengan segala teriknya. Selamat Selasa yang sebentar lagi akan berubah Rabu.

17 Mei 2011

May 15, 2011

Salam Tabik

“Adakah yang kau lihat adalah tiga pasang lengan malaikat yang bisa berganti gigi susu, menari ci..luk..ba, berkejaran di bawah pendopo tak terurus, sampai memakan rumput yang mereka bilang asam? Aku menaruhnya hingga di kerongkongan, sampai pada lambung. Itu pada pertengahan, sebuahnya. Hah, mati fikirku. Tidak tahu lagi meracau macam apa.”

Tentang masa lewat yang hampir mengepak usang. Tentang nikmatnya buai indah sebuah mimpi kecil. Tentang sepetak tanah lapang beserta rumput. Tentang sungai dengan riuh riak airnya. Tentang bukit. Tentang jalanan berbatu. Tentang makhluk bebas yang adalah kita beserta hasrat mengumpul.

Biar telah lalu, teman! Segala rekam tentang perjalanan tanpa batas kita masih tetap tersimpan pada ruang kepala. Mungkin sangat terlambat dalam menjawab pertanyaanmu, tapi bukan berarti tak layak bila kujawab sekarang. Ya, aku melihat, dan aku sangat ingat, bahkan gambar tiga bocah ompong itu sedang terpampang di depan muka.

“Kita bukan sepasang, kita tak pernah bisa satu pasang!” Entah berapa kali aku mendengar kau berteriak macam itu waktu itu. Aku sangat mengerti teman, kau selalu mengatasnamakan dirimu sebagai manusia dengan misteri hormonal yang sulit dibaca. Kau bangga dengan identitas abu-abu. Tetapi, adakah kau sadar, kalimatmu boomerangmu?

Kita adalah sepasang dengan tangan berkait saat mengantri karcis kereta pada loket stasiun. Aku masih ingat pelukmu ketika kita sedang bersepeda. Bahuku ini bahkan pernah kau jadikan sandaran kepala ketika sedang duduk santai pada sebuah taman. Apa artinya? Kita melengkapi. Segala kilah selalu kutunggu jika kau sempat. Hahaha, lucu bukan?

Aku tak menggugat, tak ada guna, toh ini hanya sebatas bumbu-bumbu ingatan yang sedang kumasak ulang. Aku lapar. Otak menuntut produktivitas ketika tangan malas bergerak. Jari lemas sedang jurnal sudah penuh cerita usang. Untung saja pertanyaanmu yang hampir usang itu belum benar-benar terbuang. Jadilah racikan baru demi puas mata si pengunjung jurnal. Semoga saja puas.

Kini kulihat, kau sedang asyik berpicisan dengan seorang laki-laki. Apa artinya? Konyol teman! Lehermu tersayat oleh boomerang yang kau lempar sendiri. Kau bukan anti berpasang, kau hanya seonggok hasrat yang tenggelam dalam bara benci karena trauma masa kecil. Kau pesakitan. Semua sudah kubaca ketika sebilah pedang telah menancap pada zona vitalmu. Kau perempuan, kau menikmati keperempuananmu.

Tetapi, setidaknya bolehlah aku berterimakasih atas kebersamaan yang singkat yang mengantar kita pada jalur bebas sebagai makhluk. Yang mengubah kita sejenak menjadi sapi, telanjang seenaknya dalam memamah rumput. Mimpi kecil yang lucu, teman. Selalu aku jadikan tolak ukur dalam menempuh kehidupan selanjutnya yang lebih baru.

Mungkin terakhir pintaku sebelum semuanya benar-benar mengepak usang. Bangunlah sebuah simbol demi mengenang tiga bocah lugu itu, mereka sangat lucu, jangan lekas-lekas kau hapus. Karena aku tak pernah sudi menghapus, bahkan sebuah monumen beserta patung sudah aku bangun tepat di halaman rumah. Patung mereka, bukan kita.


Salam tabik...

May 9, 2011

Tutur Singkat Tentang seRumput Yang Memang Singkat

Berlari dan berlari, melintasi gunung sampai laut hingga akhirnya terdampar pada sebuah pulau. Sepi adalah kudapan sehari-hari ditambah lauk semilir angin dan bau amis pesisir pantai. Tentang khayalan-khayalan juga mimpi yang sebelumnya bebas hilir mudik dalam urat-urat kepala, semua itu sedang aku usahakan lebur dalam sebuah fase yang disebut pengasingan. Begitulah, aku asing di tempat ini, sampai aku harus berkenalan dengan sebatang pohon kelapa yang menjulang di halaman.

Adalah sebuah skenario semesta yang tidak terprediksi pangkal ujungnya. Dengan penuh semangat pula aku manfaatkan sebagai media lari, lari dari buai khayal akan segarnya rumput hijau. Rumput segar tersebut, yang hijaunya menari-nari pada setiap lini masa yang aku ikuti, berpuluh hari lalu, adalah sebuah adiksi yang sekonyong-konyong memantik mimpi liarku akan nikmatnya menghisap sari batangnya.

Pernah seorang sahabat memberi petuah hujat berujung nasihat, menghendaki aku untuk segera memadamkan api yang mulai aku buat kecil-kecil. Sebelum besar, lebih baik cepat-cepat dipadamkan agar bekasnya tidak begitu kentara, ujarnya waktu itu. Tetapi aku yang batu ini tidak menggubris sama sekali, bahkan semakin gesit menciptakan modus sebagai bahan bakar.

Belum juga sempat api menjadi besar, hujan deras datang memadamkannya. Bahkan kemudian, angin kencang membawa terbang rumput beserta akarnya sampai titik pandang terjauh. Ah, kecewa dalam hati, padahal sedang nikmat-nikmatnya memanasi rona hijaunya dan indera penciuman pun mulai bergerilya menuju aroma tubuhnya. Di sebelah, sahabatku tertawa menghakimi. Sesuai dengan prediksinya, niat setulus apapun dan segiat-giatnya tetapi tanpa etika sudah pasti tak berujung gemilang. Aku menggeram penuh gerutu.

Memang dan memang, rumput tersebut bukan serumput yang hidup pada lahan bebas cabut. Tapi dan tapi, aku dengan hasrat yang penuh gelora-gelora dahsyat ini berusaha menghapus garis batas yang ada. Aku makhluk bebas, adakah penting sebuah etika? “Makan saja kebebasanmu, bumi kita bumi etika!” Jawab sahabatku ketus. Ah, sebegitunya dia tak berpihak. Toh serumput itu kini telah pergi jauh terhempas angin, perlu teropong untuk mengintip rona hijaunya, kilahku saat itu.

“Hei sahabat, aku membeli teropong!” Hahaha… Aku sepaket dengan keras kepala.

“Aku hendak mengintipnya, sahabat!” Kepala mengeras melebihi batu.

Sekilatnya sahabatku mengambil pemukul kasti, diayunkannya keras-keras, mutlak kepalaku jadi obyek sasaran. Aku lari sekenanya, terjadi kejar-kejaran anak kucing, kucing-kucingan, berputar-putar mengitari harmoni. Kemudian, dalam engah, lari-larian kami terhenti, dan segera setelah itu aku ajukan penawaran:

“Aku butuh waktu, dan bila mungkin, aku harus meninggalkan tempat ini sementara, demi menghapus rona hijaunya yang sudah menyandu.”

Sahabatku memberi isyarat setuju dan menyilakan aku mencari tujuan pergi. Ya, tidak harus aku berpusing dan berlama-lama mencari destinasi, karena skenario yang sekarang tiba-tiba datang menawarkan arah laju. Terhempaslah aku kemudian hingga sampai di pulau ini, asing, sepi, pulau tempatku menuliskan tuturan ini. Jauh, teropong dengan lensa kaliber besar pun tidak mampu menjangkau hijau si rumput tadi.

Sekarang, baru seumur jagung aku hidup dalam pengasingan, dan semuanya terkapar di dasar yang menghampar sari-sari jalannya skenario. Mimpi dan khayalan segera mengepak, pula aku berusaha membuang kata-kata rumit dan sebentuk obsesi indah. Aku melebur begitu saja. Tetapi, candu akan rona si rumput hijau masih membekas, meski tanpa obsesi juga mimpi. Hahaha, maafkan aku! Masih ada kata rumit, sahabat! Proses adalah serumit yang jelas rumit, sahabat!

Dan terakhir, khusus tertuju kepada engkau, adiksi. Bagaimana kabarmu? Ah, pasti sedang terbuai dalam wangi bau petrichor. Selamat menikmati. Semoga tidak lekas engkau jadi santapan sapi.

…, deafen me with words of sweetest ecstasy.

Alone i will care,

alone i will care.

(Blueboy – Stephanie)

6 Mei 2011

Parmi

Ketika sedang bertugas di sebuah kepulauan utara Jawa, Parmi adalah salah seorang dari tiga manusia yang mengurus segala kebutuhanku, seperti makan, cuci-mencuci, sampai seduh kopi. Dua orang yang lain bekerja dari pagi hingga siang menuju sore, sedangkan Parmi bekerja setelahnya hingga petang menuju malam. Pekerjaan Parmi tidak begitu berat, dia hanya bertugas menyuguhi aku kopi sore dan makan malam, sisanya adalah mencuci alat-alat makan kotor dan menyapu lantai yang sebenarnya tidak berdebu, hanya sebagai formalitas agar bayarannya terlihat setimpal dengan keringat yang dia buang. Namun secara keseluruhan, Parmi adalah sosok manusia baik juga kuat, lahir dan batin. Dia mempunyai dua anak perempuan yang masing-masing berumur dua dan delapan tahun.

Kisah romansa tidak selamanya berakhir ceria, begitulah kiranya lika-liku bumi tropis ini, ada juga cerita di dalamnya yang mengandung unsur sesedihan. Yang akan aku kisahkan berikut ini adalah sebuah rekam tulisan dari lisan Parmi pada suatu petang yang entah mengapa mendadak sentimentil. Setelah menyuguhiku makan malam, tiba-tiba dia bercerita tentang lika-liku hidupnya yang sebelumnya aku tak ambil peduli. Ibarat berbicara dengan kawan lama, dia tancap gas tanpa rem dalam melajukan kalimat cecurhatan dari mulutnya. Dia memulai dengan sebuah picisan yang romannya begini:

Kira-kira sepuluh tahun lalu, dia bertemu dengan seorang pemuda gagah di pesisir utara Jawa, sebut saja Joko. Reaksi kimia saling beradu tidak lama kemudian, dan akhirnya sampai pula mereka pada tahap berkasih-kasihan. Jiwa muda selalu mempunya mimpi yang menggebu, dan mereka berdua yang berkasih pun sempat mengalaminya. Rumah dengan segala perabot yang menghiasinya, anak dengan aneka rupa busana yang membalutnya, adalah sebagian dari banyak mimpi yang aku rekam dari lisan Parmi petang itu.

Sebuah mukadimah yang tidak menarik bukan? Cenderung lurus-lurus saja dan kurang sentimentil bila dicerna. Namun belum selesai begitu saja kisah cerianya, karena setelah itu sebagian dari mimpi-mimpi besar mereka akhirnya menjadi kenyataan. Setahun setelah pertemuan pertama, level kasih-kasihan mereka naik lewat jalur hukum agama, mereka menikah di hadapan wali, saksi juga penghulu. Masih di pesisir utara Jawa. Bahkan sebuah rumah berhasil mereka bangun kemudian meski masih ala kadarnya dan dengan perabot seadanya. Pula tidak lama setelah itu, si sulung lahir dan mereka beri nama Puji. Indah sekali bukan? Semua berawal dari mimpi, dan akhirnya mereka bisa mencicipi tuai nyata mimpinya walaupun masih dalam taraf hidup sederhana.

Tahun berganti tahun, bersama mereka bahu-membahu dalam membentuk harmoni sebuah keluarga kecil. Joko bekerja ini, Parmi bekerja itu. Penghasilan yang mereka dapat kemudian dilebur untuk sandang pangan dan membayar cicilan perabot yang belum lunas. Kebutuhan semakin bertambah ketika Puji menginjak tahun ke enam usianya. Parmi hamil untuk kedua kalinya bertepatan pula dengan Puji yang harus masuk sekolah.

Gaji Parmi sebagai pramusaji pada sebuah rumah makan rasa-rasanya belum cukup untuk menyokong penghasilan Joko yang serabutan sebagai tukang las pada proyek minyak bumi di pesisir pantai, apalagi masih banyak perabot yang belum lunas-lunas juga ditambah keperluan ibu hamil yang menuntut ini dan itu. Demi menyekolahkan Puji dan keperluan kehamilan, Parmi kemudian memutuskan berhenti bekerja sebagai pramusaji dan mengajukan lamaran pada usaha waralaba sebagai kasir. Parmi diterima, Puji berseragam putih-merah, susu ibu hamil pun berhasil terbeli.

Satu semester lebih kiranya, Parmi memutuskan berhenti dari pekerjaan barunya, dengan alasan perutnya yang semakin membesar. Heran, kenapa harus berhenti, kenapa tidak pilih cuti?

“Waktu itu aku kesel banget, Mas. Kerja, ngurus anak, apalagi kalau yang di perut udah mbrojol, makin ribet toh?”

Ya, alasannya cukup masuk akal. Tetapi dan tetapi, tidak lama setelah Parmi keluar dari pekerjaannya, proyekan Joko pun selesai, belum ada proyekan baru yang berdekatan bahkan sampai entah kapan. Dan ditaksir pula, dua sampai tiga bulan lagi setelah itu Parmi harus menjalani persalinan, tentu saja membutuhkkan biaya banyak.

Joko mulai mencari-cari pekerjaan baru, tak kunjung pula dia dapati. Sedangkan dalam periode reses tersebut tabungan mereka makin menipis, bahkan nol ketika hari persalinan tinggal hitungan minggu. Menjual perabot pun tak ada gunanya, tetap tidak bisa menutupi. Akhirnya Joko pamit untuk merantau mencari kerja di pulau lain dan meninggalkan saran kepada Parmi agar segera dia mencari pinjaman kepada siapa saja untuk biaya persalinan. Yang ada di benak Parmi adalah orang tuanya dan mertuanya.

“Joko belum ngasih kabar juga, Mas. Waktu itu udah tiga hari dia pergi, aku bel nomernya tapi ngga aktif. Mbok ya kalau ganti nomer bilang-bilang dulu.”

Begitupun seterusnya, sampai satu minggu kepergiannya, Joko tak kunjung mengabari. Parmi bahkan sampai pada titik stress dan pikirannya berkecamuk ke mana-mana. Apa mungkin Joko lari, atau mati? Ketika mengkroscek ke orang tua Joko pun mereka tidak tahu perihal ke mana perginya anak lelakinya tersebut. Bingung luar biasa sampai mengikis akal rasional.

“Saking stresnya, Mas. Aku sampe mau bunuh diri loncat dari jembatan. Tapi pas aku mau loncat, tiba-tiba ada suara Puji, ngga taunya dia ngikutin aku dari belakang. Di situ aku nagis-nangis, Mas. Akhire ngga jadi loncat aku.”

Sambil menahan isak, Parmi bercerita tentang rencananya bunuh diri bersama bakal bayi yang masih berada dalam perutnya. Untung saja Puji tampil kemudian sebagai penolong, dengan tampang lugu dia berhasil mencegah Parmi lompat dari jembatan. Haru biru. Akhirnya, Parmi mengesampingkan sebentar masalah kepergian Joko dan memutuskan fokus ke masalah persalinan. Dengan bantuan uang pinjaman dari mertuanya, akhirnya Parmi berhasil melahirkan anaknya yang kedua, Tania namanya.

Berbulan-bulan lamanya Parmi hidup menggantung, digantung Joko yang pergi entah ke mana tanpa kabar berita. Karena tidak kuat untuk tinggal lebih lama lagi di kota pesisir itu, Parmi kemudian memutuskan kembali ke rumah orang tuanya tepat setahun setelah kepergian Joko.

“Habis Tania lahir aku bener-bener ngga punya duit, Mas. Aku numpang sama mertuaku, Puji juga dibayarin sekolahnya. Tapi aku ngga enak terus-terusan diomongin ini itu sama keluarganya Joko. Akhire aku pindah ke sini sama anak-anakku ke tempat ibu-bapakku.”

Untuk menghilangkan segala kenangan suramnya bersama Joko, Parmi kembali ke kampung halamannya, pada sebuah pulau dari gugusan pulau-pulau kecil tempatku bertugas. Dan untuk mencukupi biaya makan juga biaya sekolah Puji, Parmi bekerja pada camp tempat aku menginap selama bertugas. Namun, ada saja masalah baru yang makin membuat Parmi terpuruk.

“Di sini itu janda keliatan jelek banget, kayak orang yang kotor, perempuan nakal. Padahal aku belum cerai, tapi gara-gara Joko ngga pernah keliatan, aku dikira janda.”

Pun pada tenggang waktu yang hampir sama dengan ruang berbeda, di sekolah barunya, Puji selalu ditanyai oleh teman-teman satu angkatan tentang di mana bapaknya, dia betul-betul mempunyai bapak atau tidak. Dan semakin menambah berat beban Parmi ketika anaknya tersebut mengadukan tingkah teman-temannya itu ketika sampai rumah. Selain itu, tetangga juga semakin gencar mencibir Parmi perihal pekerjaannya.

“Mereka ngga suka aku sering pulang malem, kalau aku belum pulang juga sampai jam sepuluh malem katanya mau diusir sama orang sekampung. Terus aku dituduh ada main sama temen-temen bule-mu itu, Mas. Sakit aku.”

Meski sakit hati, Parmi berusaha acuh terhadap cibiran tetangga-tetangganya tersebut. Toh memang jam kerjanya adalah dari sore sampai malam, dan itu adalah pilihan yang mau tidak mau harus dia tekuni demi kelangsungan hidup anak-anaknya. Dia pun tidak pernah mengajari kedua anaknya untuk benci kepada bapaknya, bahkan dia selalu memberi keterangan bahwa bapaknya sedang bekerja jauh di ujung sana dan akan kembali membawa uang yang banyak.

Namun, segala asa dan niat baik Parmi menjadi sirna seketika melalui pesan singkat yang tiba-tiba dikirimkan oleh Joko satu hari sebelum petang di mana dia sedang bercurhatan denganku, pertama kali setelah dua tahun, dan ditunjukkannya pesan singkat tersebut kepadaku dan ingatanku merangkumnya begini:

“Aku udah punya istri lagi, anak satu. Kamu kalau masih cinta sama aku, kamu harus rela hidup bareng sama mereka. Kalau ngga mau, urus cerai sendiri aja, itu juga kalau kamu berani.”

Pelik sekali dunia, terutama bumi manusia. Sebagai awam aku hanya bisa diam, tak ada kapasitas untuk memberi wejangan tentang masalah rumah tangga, mengurus diri sendiri pun kadang lalai. Namun melihat isak tangis Parmi yang menjadi-jadi, membuatku makin tak tega. Bagaimana cara meringankan lukanya itu? Tetapi akhirnya keluar juga sepatah dua patah kata yang berkumpul menjadi sebuah kalimat motivasi, meski aku tahu tak akan berpengaruh besar terhadapnya. Hanya ini yang bisa aku lakukan dan koarkan:

“Mba, semangat, Mba...! Mba Parmi orang hebat!”


30 April 2011

Petrichor

Di negeri tetangga, petrichor adalah sesosok muda yang telah berjasa menjinakkan rindu sisyphus kepada kekasihnya andromeda. Dikisahkan bahwa sisypus telah melakukan kesalahan fatal sehingga dia dikutuk untuk mendiami lautan, sedangkan kekasihnya, andromeda, terbang jauh ke angkasa menjadi bintang di langit.

Melihat kesedihan sisyphus yang berlarut-larut, petrichor lalu berinisiatif, dia mulai menganyam bagian-bagian tubuh sisyphus sampai ke angkasa. Di atas, petrichor mulai menjahit anyaman-anyaman tersebut menjadi sebentuk kapas, kapas raksasa sehingga dia sendiri bisa berlompatan seenaknya di atas kapas tersebut. Setiap lompatannya menghasilkan gemuruh yang bercahaya, begitu silau sehingga membangunkan seluruh bintang yang sedang tidur. Tidak lama setelah itu, mulai terbentuk titik-titik air di atas permukaan kapas yang lebar itu, titik-titik air tersebut lalu diubah oleh petrichor menjadi kristal-kristal yang dapat memantulkan cahaya bintang. Melalui jejak pantulan cahaya tersebut, akhirnya sisyphus dapat menyematkan rindunya kepada andromeda.

Namun lain cerita dengan yang terjadi di negeri tropis. Di negeri ini, petrichor sama-sama berfungsi sebagai simbol kebaikan, juga picisan. Lambang cinta kasih antara sepasang yang sedang mabuk. Mabuk apalagi? Hahaha… Rasa-rasanya geli bila aku menyebut ‘cinta melulu’. Tetapi memang benar adanya, adalah sepasang yaitu hujan dan tanah yang sedang mabuk, mabuk asmara. Bila hujan dianalogikan sebagai sisyphus, lalu siapakah tanah? Sudah pasti bukan andromeda, aku tidak mau rangkaian ini dianggap menjiplak cerita negeri tetangga. Bagaimana kalau geosmin? Sepakat, pribadiku yang lain menganggap ‘bau bumi’ lebih pantas menganalogi tanah. Berarti berbeda bukan dengan cerita tetangga sebelah? Tidak ada sisyphus dan andromeda, yang ada adalah sisyphus dan geosmin.

Rindu-rinduan tetap menjadi sebab-musabab utama ceritanya. Tanah sangat merindui hujan yang hilang ditelan waktu. Saking rindunya, tanah sampai berani menggugat semesta. Namun apadaya, malah murka yang dia dapat, murka dari semesta dan murka pula dari kekasihnya, hujan. Singkatnya, tanah mulai memaklumi segala porsi yang sudah diberikan semesta. Meningkatkan kesabaran adalah proses yang terus menerus dia pelajari sampai musim kering berlalu. Melihat perkembangan tersebut, raja semesta sedikit demi sedikit mulai mencabut segala murka yang telah beliau tumpahkan kepada tanah, hujan pun demikian. Pada saat musim basah tiba, seluruh negeri berlimpah bahagia akibat dikelilingi nuansa romantisme yang menggebu-gebu antara tanah dan hujan yang kembali berpasang.

Lalu, di manakah petrichor? Dia muncul tiba-tiba setelah cumbu pertama hujan pada tanah. Dialah simbol kebahagiaan itu, setelah lama mengendap entah menjadi apa, akhirnya dia muncul sebagai bau yang menyenangkan bagi seiisi negeri. Muka tanah yang sudah berbulan-bulan kering mulai melepas seluruh geosmin yang kemudian berpadu dengan hujan dan menghasilkan senyawa yang amat dirindukan. Senyawa itu adalah petrichor, dan sekali lagi, baunya amat menyenangkan.

Betapa indahnya petrichor, dia bahkan melebihi bunga mawar sebagai simbol cinta-cintaan. Dan ada satu lagi gejala alam yang indah pula yang muncul kemudian setelah petrichor, yaitu tumbuhnya dandelion di seluruh negeri. Bunga-bunga kecilnya yang terbang ditiup angin makin menunjukkan kemeriahan musim basah. Ya, petrichor adalah pemantik, dia yang mengawali segala gejala positif yang muncul di negeri tropis pada musim basah, dan kemunculannya adalah jejak tersendiri yang menjadi memori amat berkesan pada setiap pertemuan antara sepasang, tanah dan hujan. Petrichor adalah sesosok yang istimewa.

Namun, kedua pasangan tersebut, tanah dan hujan, harus menghadapi kenyataan bahwa kebersamaan tidaklah mutlak, ada saat-saat di mana mereka harus berpisah. Dan mereka sewaktu-waktu harus hidup pada fase tersebut, tidak ada ruang bagi hasrat cinta-cintaan mereka. Kedua sejoli tersebut harus kembali tabah menghadapi musim kering, terutama tanah, dia harus beradaptasi lagi terhadap kering yang melanda seluruh negeri. Sabar sembari memelihara asa akan hadirnya hujan bersama petrichor yang harum.

Tetapi, sekarang masih musim basah yang berarti sama dengan musim cinta, petrichor ada di mana-mana.

Kemujan, 29 April 2011