April 20, 2011

Tanah, Hujan, dan Petrichor

Alkisah pada sebuah negeri tropis megawarna, tanah dan hujan adalah sepasang yang sedang larut dalam gelora romantisme yang menggebu-gebu. Hasil mesra cumbu mereka setiap hari selalu menghasilkan petrichor yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri, seluruh isinya menyambut dengan suka cita aroma itu, sangat khas.

Namun, selayaknya negeri tropis, tiap tahun dua musim selalu silih berganti, musim basah dan kering. Kini giliran musim kering yang menguasai negeri. Tanah dan hujan, sepasang yang telah menghabiskan waktu bersama kurang lebih dua ratus hari, kini dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka harus berpisah. Sedih bukan main sampai kepalang. Hujan pergi dan menghilang, tanah larut dalam kegalauan luar biasa, bersedih-sedihan.

Ya, tidak percaya waktu cepat sekali berlalu mengingat sepanjang paruh tahun itu aroma-aroma petrichor selalu menjadi simbol picisan kedua pasangan tersebut, wanginya adalah wujud kemeriahan pertemuan mereka. Tanah kesepian, walaupun sebenarnya banyak rekan yang bersedia menemani di sekitarnya. Ada batu di sana, dengan lumut sebagai mahkota permanen, siap memberi kesejukan dengan hijaunya. Ada cacing yang siap beratraksi bahkan berparodi dengan sentuhan komedinya yang khas yakni lenggak lenggok akrobatik disertai gerak melubangi tanah yang tentu dapat menuaikan efek geli pada tubuh tanah itu sendiri. Namun, tanah tetap tidak menggubris kedua rekannya tersebut, dia masih larut pada kesedihan, seakan mustahil akan lahir riak tawa.

Tanah tidak bergairah, bahkan untuk menghisap air yang berada hampir di pusat bumi pun enggan, meranalah seluruh makhluk hidup di permukaan. Mereka butuh air, dan ketika musim kering tiba, hanya air tanah yang menjadi andalan. Apa jadinya ketika tanah enggan mencurahkan airnya ke permukaan? Seluruh isi negeri kebingungan, kaktus makin keriput dan lunglai, rubah yang sering menghisap air dari batangnya pun lemah karena dehidrasi. Keadaan menjadi kritis seluruhnya akibat kegalauan si tanah.

Melihat kekacauan di negeri tersebut, tentu saja raja semesta tidak tinggal diam, beliau mengirim utusannya ke bumi untuk kemudian berdialog dengan si tanah. Turunlah satu malaikat bersayap, melesat cepat dari langit turun ke bawah bagai kilat, lalu dijumpainya tanah yang masih murung.

“Hei tanah, segera utarakan keluhanmu dengan segera pula akan aku sampaikan pada raja semesta!”

“Aku rindu hujan wahai malaikat, sangat rindu, aku tidak siap kehilangan suka cita kami, tolong kirimkan dia padaku!”

“Tapi sekarang belum saatnya musim basah.”

“Aku tidak peduli wahai malaikat, aku ingin hujanku, tidak bisa ditawar kecuali raja semesta ingin melihat seluruh makhluknya sekarat.”

Malaikat tidak dapat berbuat banyak mendengar ancaman itu, melesat cepat dia kembali ke langit. Langsung dia temui raja semesta dan saat itu juga disampaikannya tuntutan si tanah tadi. Tanpa ekspresi apa-apa raja semesta langsung menciptakan nomulus nimbus berlapis-lapis di atas negeri tersebut. Langit gelap seketika, lalu hujan datang di sertai petir dan guruh menderu-deru.

Tanah kegirangan menyambut hujan, namun anehnya, tak ada semerbak petrichor yang muncul ketika kristal-kristal hujan mulai menjamah seluruh permukaan tanah. Gelora rindu si tanah seperti tidak digubris oleh hujan, dan tidak selang berapa lama, hujan pergi begitu saja tanpa berpamit. Tanah kaget bukan kepalang, dan berkecamuk pertanyaan, apa gerang yang sedang terjadi? Seharusnya pertemuan itu bakal luar biasa, menurut prediksinya. Tanah murka.

“Kenapa kau renggut kesenanganku wahai raja semesta?!!!”

Raja semesta tak menggubris, bahkan seluruh isinya pun tidak peduli. Kaktus sibuk menghisap sisa-sisa air hujan sekenanya untuk cadangan, rubah tidak mau pergi jauh-jauh dari kubangan, dan batu asyik berbincang dengan sinar matahari. Makin kesepian hidup si tanah, dan galaunya semakin luar biasa melebihi yang sudah-sudah.

Tiba-tiba malaikat kembali turun ke bumi, menghampiri si tanah yang sedang murung.

“Raja semesta sedang menghukummu, hargailah porsi yang sudah ditetapkan!”

Tentu saja sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi tanah. Sikapnya yang hanya ingin menang sendiri ternyata berdampak sangat negatif bagi dirinya juga semua yang ada di sekitarnya. Raja semesta murka, bahkan hujan pun marah. Tanah menyadari, seharusnya dia bisa lebih bersabar dan ikhlas dalam menerima setiap fase yang diporsikan semesta. Kepergian hujan merupakan kesedihan, dan seharusnya pula dia tidak menganggap itu sebagai tahapan yang tidak berkesudahan. Masih banyak yang perlu dipertanggungjawabkan kepada semesta ketimbang menghabiskan waktu larut ke dalam sedih. Mengingat fase adalah fase, selalu silih berganti.

Tanah di negeri tropis tersebut berusaha kembali berposisi sesuai porsi. Dia curahkan air tanah ke permukaan untuk si kaktus dan si rubah. Keluh kesah dia tumpahkan pada batu dan lumut, lalu bermain bersama cacing untuk menghibur diri. Sepanjang musim kering ini, dia banyak merajut maaf dan sering dia kirimkan lewat udara, berharap raja semesta dapat menyampaikannya langsung pada hujan.

Benar saja, tak terasa masa berselang dan sudah mencapai paruh tahun berikutnya. Musim basah. Commulus sampai cirrus mulai berkumpul menghiasi negeri tropis itu dari atas. Guruh dan guntur bersuara bak tetabuhan penanda pesta. Tak lama kemudian rinai-rinai hujan mulai turun membasahi apa saja yang ada di bumi. Semarak. Tanah bertemu kembali dengan hujan kekasihnya, petrichor menari-nari di udara sembari menyebar aroma yang dinikmati seisi negeri. Mutlak, hujan telah memaafkan kebodohan tanah yang telah lalu.

Segera ketika hujan berhenti, perpisahan sejenak dengan si tanah berbuah manis dengan munculnya pelangi yang bagai bianglala menghiasi langit setelahnya. Tumbuh pula dandelion di seluruh pelosok negeri, bunga-bunga kecilnya bertaburan semarak ditiup angin, menandakan spirit pesta akan selalu ada setiap hari. Karena ini musim basah, tanah dan hujan akan kembali bertemu, sesegera mungkin. Romantisme tiada tara.

2 comments:

  1. "Tanah bertemu kembali dengan hujan kekasihnya, petrichor menari-nari di udara sembari menyebar aroma yang dinikmati seisi negeri. Mutlak, hujan telah memaafkan kebodohan tanah yang telah lalu"

    :)

    ReplyDelete
  2. Happy Ending.
    Haaa

    Eh, ini ijin share ya, Mas Adit. :)

    ReplyDelete