April 27, 2011

Hujan

Tidak sekedar memberi rintik, hujam derasnya pun dapat membuat luluh si tanah. Apa istimewanya? Menurut logikaku, sebuah perputaran zat cair yang rumit dengan berbagai fase yang dilaluinya adalah nilai pokok yang membuatnya tampak cemerlang. Ya, muntahannya bahkan dapat mengundang suara ribut gemuruh di atasnya, mencekam, kadang-kadang. Dan, petrichor adalah hal paling manis, hasil kolaborasinya dengan si tanah. Pantas saja tanah tak mau kehilangan. Diakah romeo jilid dua? Atau, Gnomeo?

April 20, 2011

Tanah

Melalui proses pedogenesis, terbentuklah sebuah tubuh alam yang terdiri dari beberapa horizon, disebut tanah. Setiap horizon mengkisahkan proses kimiawi, biologi, dan fisika yang telah dialami solum. Solum atau tubuh tanah adalah batuan yang melapuk dan mengalami berbagai proses yang berlanjut-lanjut, terbentuk dari campuran bahan organik dan mineral. Bagian kerak bumi ini sangat vital peranannya karena menopang kehidupan seluruh makhluk yang ada di dalam dan permukannya, dengan menyediakan hara dan air yang penting pula fungsinya.

Singkatnya, tanah mempunyai sahabat bernama waktu. Pada negeri tropis, tanah dan waktu selalu berjalan beriringan. Telah disebutkan bahwa tanah terbentuk dari bahan-bahan yang telah termodifikasi sedemikan rupa akibat dinamika faktor iklim, organisme, dan topografi seiring berjalannya waktu. Pergerakan ini selalu dipengaruhi oleh waktu, tak ada waktu tak ada pergerakan sehingga tidak ada pula dinamika dari para faktor yang kemudian membentuk jenis tanah. Itu artinya, peran waktu pun sangat vital bagi tanah itu sendiri, bahkan waktu pula yang berjasa mempertemukan dirinya dengan hujan, kekasihnya.

Pada suatu ketika, aku pernah berkesempatan singgah ke negeri tropis. Dari dahan yang kucengkeram, kuperhatikan dengan seksama seluruh kegiatan tanah dari hari ke hari sampai berhari-hari. Sangat menarik, bagaimana dia menghibur diri dengan cacing tanah, saling beradu canda sehingga mengundang angin untuk bergabung, oleh desusnya yang sepoi kadang kencang membuat sebagian permukaan tanah menari-nari di udara, itulah yang disebut debu. Semarak hari-harinya makin menjadi ketika kaktus mulai tumbuh dan rubah ikut menemani segala kegiatannya, tanah menghadiahkan air melimpah kepada dua rekannya itu pada musim kering. Kadang-kadang, pula aku memperhatikan dia tampak serius berbincang dengan sepasang batu dan lumut, entah apa yang sedang mereka perbincangkan. Sejauh yang aku lihat, sepertinya batu dan lumut adalah tempat bagi tanah untuk berkeluh kesah, tampak dari rona senang dan sedih yang muncul silih berganti ketika mereka sedang berbincang.

Berdasarkan rekam gerak tanah yang aku perhatikan tersebut, pada suatu malam, aku memutuskan untuk meluncur ke bawah. Pada sebuah taman yang agak terang oleh lampu-lampu raksasa malam, aku memulai perkenalanku dengan si tanah. Sedikit canggung di awal, namun karena sebuah dongeng yang kami baca secara bersamaan, tak lama kemudian kami larut ke dalam bahak tawa sampai sesedihan. Ya, kami seperti teman baru yang cepat akrab.

Hari berganti hari sampai puluhan hari, kami sering bertukar jurnal di sela kesibukan kami masing-masing, meski pertemuan masih dapat dihitung dengan jari. Ketika aku sudah beranjak pergi dari negeri tropis pun masih banyak kisah yang sering kami ceritakan bergantian, udara menjadi perantara. Sampai akhirnya ada sebuah kisah yang dapat meningkatkan bulir-bulir empati berlebih dariku kepada si tanah, kisah suram.

Lewat perantara udara pula tanah menceritakan kisah itu. Kisah perseteruannya dengan waktu. Bermula ketika waktu sedang melaksanakan kewajibannya untuk menggeser musim basah menjadi musim kering. Bukan semena-mena, waktu hanya bekerja sesuai dengan apa yang telah diporsikan semesta. Tanah kemudian meluapkan emosi bahkan sampai meledak-ledak. Dia menuntut waktu untuk segera membalikkan musim, dia ingin musim basah, dia ingin selalu bersama hujan kekasihnya sepanjang hari.

Seakan tidak terima, waktu kemudian mengadukan tindak semena-mena tanah kepada raja semesta, kemudian beliau menyampaikan kepada hujan perihal sikap egois kekasihnya itu. Atas kehendak semesta, kemudian turun hujan di musim kering. Mengetahui itu, tanah menyambutnya dengan gegap gempita, tercitra kepuasan dari mimiknya. Namun tanah baru menyadari, kedatangan kekasihnya yang tiba-tiba itu ternyata membawa pesan tentang gabungan kemarahan semesta, waktu dan hujan kekasihnya. Tanah kelimpungan melihat hujan marah, bahkan petrichor yang selama puluhan bulan menjadi simbol kasih-kasihan mereka pun enggan muncul.

Aku tak bisa berbuat banyak, hanya empati yang bisa aku persembahkan, bahkan doa pun sebenarnya samar, entah didengar entah tidak oleh raja semesta. Segera setelah mendengar kisah itu, aku memutuskan kembali ke negeri tropis, bermaksud mengawasi si tanah, bukan menghampiri.

Sekarang, aku masih berada di negeri tropis. Aku masih mencengkeram dahan yang sama seperti hari-hari lalu di mana aku sering memperhatikan rekam kegiatan si tanah, dan lewat dahan ini pula, sekarang, aku sedang memperhatikan gerak tanah sedang menyulam seribu maaf dan berharap asanya dapat didengarkan hujan juga raja semesta. Semuanya serba mungkin, dan semoga pula tanah segera kembali akur dengan waktu yang kemudian melahirkan dinamika baru dan lapisan-lapisan baru yang gembur.

Salam ceria dari aku, si burung hantu

Tanah, Hujan, dan Petrichor

Alkisah pada sebuah negeri tropis megawarna, tanah dan hujan adalah sepasang yang sedang larut dalam gelora romantisme yang menggebu-gebu. Hasil mesra cumbu mereka setiap hari selalu menghasilkan petrichor yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri, seluruh isinya menyambut dengan suka cita aroma itu, sangat khas.

Namun, selayaknya negeri tropis, tiap tahun dua musim selalu silih berganti, musim basah dan kering. Kini giliran musim kering yang menguasai negeri. Tanah dan hujan, sepasang yang telah menghabiskan waktu bersama kurang lebih dua ratus hari, kini dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka harus berpisah. Sedih bukan main sampai kepalang. Hujan pergi dan menghilang, tanah larut dalam kegalauan luar biasa, bersedih-sedihan.

Ya, tidak percaya waktu cepat sekali berlalu mengingat sepanjang paruh tahun itu aroma-aroma petrichor selalu menjadi simbol picisan kedua pasangan tersebut, wanginya adalah wujud kemeriahan pertemuan mereka. Tanah kesepian, walaupun sebenarnya banyak rekan yang bersedia menemani di sekitarnya. Ada batu di sana, dengan lumut sebagai mahkota permanen, siap memberi kesejukan dengan hijaunya. Ada cacing yang siap beratraksi bahkan berparodi dengan sentuhan komedinya yang khas yakni lenggak lenggok akrobatik disertai gerak melubangi tanah yang tentu dapat menuaikan efek geli pada tubuh tanah itu sendiri. Namun, tanah tetap tidak menggubris kedua rekannya tersebut, dia masih larut pada kesedihan, seakan mustahil akan lahir riak tawa.

Tanah tidak bergairah, bahkan untuk menghisap air yang berada hampir di pusat bumi pun enggan, meranalah seluruh makhluk hidup di permukaan. Mereka butuh air, dan ketika musim kering tiba, hanya air tanah yang menjadi andalan. Apa jadinya ketika tanah enggan mencurahkan airnya ke permukaan? Seluruh isi negeri kebingungan, kaktus makin keriput dan lunglai, rubah yang sering menghisap air dari batangnya pun lemah karena dehidrasi. Keadaan menjadi kritis seluruhnya akibat kegalauan si tanah.

Melihat kekacauan di negeri tersebut, tentu saja raja semesta tidak tinggal diam, beliau mengirim utusannya ke bumi untuk kemudian berdialog dengan si tanah. Turunlah satu malaikat bersayap, melesat cepat dari langit turun ke bawah bagai kilat, lalu dijumpainya tanah yang masih murung.

“Hei tanah, segera utarakan keluhanmu dengan segera pula akan aku sampaikan pada raja semesta!”

“Aku rindu hujan wahai malaikat, sangat rindu, aku tidak siap kehilangan suka cita kami, tolong kirimkan dia padaku!”

“Tapi sekarang belum saatnya musim basah.”

“Aku tidak peduli wahai malaikat, aku ingin hujanku, tidak bisa ditawar kecuali raja semesta ingin melihat seluruh makhluknya sekarat.”

Malaikat tidak dapat berbuat banyak mendengar ancaman itu, melesat cepat dia kembali ke langit. Langsung dia temui raja semesta dan saat itu juga disampaikannya tuntutan si tanah tadi. Tanpa ekspresi apa-apa raja semesta langsung menciptakan nomulus nimbus berlapis-lapis di atas negeri tersebut. Langit gelap seketika, lalu hujan datang di sertai petir dan guruh menderu-deru.

Tanah kegirangan menyambut hujan, namun anehnya, tak ada semerbak petrichor yang muncul ketika kristal-kristal hujan mulai menjamah seluruh permukaan tanah. Gelora rindu si tanah seperti tidak digubris oleh hujan, dan tidak selang berapa lama, hujan pergi begitu saja tanpa berpamit. Tanah kaget bukan kepalang, dan berkecamuk pertanyaan, apa gerang yang sedang terjadi? Seharusnya pertemuan itu bakal luar biasa, menurut prediksinya. Tanah murka.

“Kenapa kau renggut kesenanganku wahai raja semesta?!!!”

Raja semesta tak menggubris, bahkan seluruh isinya pun tidak peduli. Kaktus sibuk menghisap sisa-sisa air hujan sekenanya untuk cadangan, rubah tidak mau pergi jauh-jauh dari kubangan, dan batu asyik berbincang dengan sinar matahari. Makin kesepian hidup si tanah, dan galaunya semakin luar biasa melebihi yang sudah-sudah.

Tiba-tiba malaikat kembali turun ke bumi, menghampiri si tanah yang sedang murung.

“Raja semesta sedang menghukummu, hargailah porsi yang sudah ditetapkan!”

Tentu saja sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi tanah. Sikapnya yang hanya ingin menang sendiri ternyata berdampak sangat negatif bagi dirinya juga semua yang ada di sekitarnya. Raja semesta murka, bahkan hujan pun marah. Tanah menyadari, seharusnya dia bisa lebih bersabar dan ikhlas dalam menerima setiap fase yang diporsikan semesta. Kepergian hujan merupakan kesedihan, dan seharusnya pula dia tidak menganggap itu sebagai tahapan yang tidak berkesudahan. Masih banyak yang perlu dipertanggungjawabkan kepada semesta ketimbang menghabiskan waktu larut ke dalam sedih. Mengingat fase adalah fase, selalu silih berganti.

Tanah di negeri tropis tersebut berusaha kembali berposisi sesuai porsi. Dia curahkan air tanah ke permukaan untuk si kaktus dan si rubah. Keluh kesah dia tumpahkan pada batu dan lumut, lalu bermain bersama cacing untuk menghibur diri. Sepanjang musim kering ini, dia banyak merajut maaf dan sering dia kirimkan lewat udara, berharap raja semesta dapat menyampaikannya langsung pada hujan.

Benar saja, tak terasa masa berselang dan sudah mencapai paruh tahun berikutnya. Musim basah. Commulus sampai cirrus mulai berkumpul menghiasi negeri tropis itu dari atas. Guruh dan guntur bersuara bak tetabuhan penanda pesta. Tak lama kemudian rinai-rinai hujan mulai turun membasahi apa saja yang ada di bumi. Semarak. Tanah bertemu kembali dengan hujan kekasihnya, petrichor menari-nari di udara sembari menyebar aroma yang dinikmati seisi negeri. Mutlak, hujan telah memaafkan kebodohan tanah yang telah lalu.

Segera ketika hujan berhenti, perpisahan sejenak dengan si tanah berbuah manis dengan munculnya pelangi yang bagai bianglala menghiasi langit setelahnya. Tumbuh pula dandelion di seluruh pelosok negeri, bunga-bunga kecilnya bertaburan semarak ditiup angin, menandakan spirit pesta akan selalu ada setiap hari. Karena ini musim basah, tanah dan hujan akan kembali bertemu, sesegera mungkin. Romantisme tiada tara.

April 18, 2011

Gula-gula

Sebuah babak baru telah dimulai, cerita baru tentang gula-gula yang manisnya melebihi gula manapun yang pernah ada. Betul, gula tersebut adalah hiperbola, terlalu hiper bahkan, melebihi naskah asli dari rekam suara yang pernah ditulis. Manis sampai terlalu, sampai tak rela menghapus bekas terlalunya di bibir yang terlalu perasa ini. Adiksi berlebihan, sangat berlebihan sampai tak ada bercak prioritas yang dapat menutupi candunya. Aku menikmati nikmatnya dengan hikmad dan senikmat-nikmatnya.

Kolaborasi antara sepasang maya telah membuahkan gula-gula otak yang berkadar besar. Aku terkejut ketika pertama kali bersinggungan dengan si naskah gula. Manisnya sangat terlalu sekali lagi, jeruk pun rela tak menyesap kecutnya berhari-hari demi sesapan manis hasil sesap si gula-gula. Tetapi tunggu, ini bukanlah pesan picisan, persetan dengan manis gula-gula picisan karena hal tersebut tak lebih dari simbol-simbol berujung pamrih.

Ada banyak Louise dan Louisa di dunia ini, ada yang berpasang ada yang tidak, dan tak ada ikatan darah sama sekali. Anggap aku sebagai salah satu Louise yang sedang mengamati salah satu Louisa, masa bodoh jikalau ternyata dia sudah berpasang dengan Louise lainnya. Louisa tersebut memiliki jurnal harian yang menarik simpati. Puluhan hari aku ikuti alurnya sampai akhirnya aku putuskan untuk melanggar etika, kusentuh jurnal itu dengan komentar-komentar pujian, berujung lagi sampai berjabat tangan.

Jabat tangan adalah kode untuk membuka pintu lebar-lebar, tetapi pintu baru terbuka sedikit. Aku paksakan pergelangan tanganku memasuki celahnya, lalu kuraba sedikit demi sedikit ruangnya, dan sebentuk naskah yang hanya secuil berhasil kugenggam. Kutarik cepat tanganku lalu naskah kumasukkan ke dalam saku celana.

Sesampainya di sarang, kuambil secuil kusut naskah Louisa dari saku. Aku rapikan kembali kertasnya, dan mulai kubaca-baca isinya. Di luar dugaan isinya membiusku, selembar yang mengandung curah kuning bunga, rumput hijau dan biru langit. Aku tergoda, mungkinkah dia pengada dari pengharapan yang aku inginkan? Hahaha… Lelucon… Maaf, baru saja aku melucu, tak ada jawabannya, aku pun tak mau bermonolog dalam menjawabnya.

Tetapi aku belum terapsodi, secuil naskah itu masih berbentuk puzzle. Memang aku terbius, bius yang membuatku tenggelam dalam kembara angan yang penuh dengan hasrat. Hasrat untuk melengkapi, “Hei Louisa, aku sudi merapikan puzzle itu!”, agar rumputnya tak lagi absurd, langitnya dihiasi aurora, dan bunganya tak sebatas rekahan kuning tetapi juga merah muda.

Lalu… menanti satu dua tiga dan seterusnya hitungan hari, Louisa mulai menangkap pesan yang aku isyaratkan. Dia kembali membuka pintu, kali ini agak lebar hingga sebagian dari tubuhku dapat menyelinap masuk. Dengan setengah tubuhku aku mulai melakukan penawaran langsung kepada Louisa, tentang kapan aku bisa mendonorkan pikiran untuk merapikan puzzle itu. “Tak usah, puzzle itu sudah cukup meriah dengan carut-marutnya.” tegas Louisa. Kemudian aku beri tawaran baru, kuajak dia untuk berkolaborasi dalam melukiskan sesuatu yang baru, dan benar saja dia setuju.

Kami, aku dan Louisa, mulai menyatukan pikiran demi kertas-kertas kosong yang berserak di lantai. Aku ambil pensil lengkap dengan serutannya, dan Louisa mulai asyik mensketsakan sebuah tema yang telah kami musyawarahkan sebelumnya. Louisa mengirim sketsa pertamanya, kubalas pula dengan sketsa yang hampir sama. Terus menerus hingga memakan waktu satu purnama, hasilnya belasan sketsa berhasil kami kerjakan. Setelahnya, kami berdua pula yang menjadi kurator dari buah pikir kami. Menyenangkan.

Tak disangka, setelah disusun sedemikian rupa sketsa-sketsa itu memang saling berhubungan, dan alurnya layak menjadi satu cerita. Kami sepakat menamai kumpulan itu dengan sebutan malam. Ya malam, kami mensketsakan malam, jurnal malam, kehidupan malam, semua-mua tentang gambaran gelap, dan inilah yang aku sebut sebagai gula-gula. Sebuah kolaborasi dalam menjelajahi malam lewat goresan pensil yang hasilnya ternyata begitu manis, sangat hingga terlalu.

Gula-gula yang telah kusebut sebagai adiksi, selalu muncul hasrat untuk mengulanginya lagi karena manisnya selalu mendominasi ruang pikiran. Sekali lagi, ini bukan picisan karena masih banyak gula-gula lagi yang masih perlu diproduksi, dan seandainya pun suatu hari nanti akan muncul benih-benihnya, aku harus berkaca pada setengah tubuhku yang lain untuk menimbang.

Tentang gula-gula, dan mereka sangat manis, sekali…