March 20, 2011

Ballerina (Repost)

Sedang tersaji, gemulai lenggok dan segala pose molek yang dicitrakannya. Media rekam tak pernah luput fokus dari tubuh berbalut kostum elastis yang dilengkapi rok rumbai sampai lutut. Merah muda seperti sepatunya.

Kilat cahaya dari sekian kamera tak mengalihkan konsentrasinya. Pikir dan imajinasi perempuan itu tenggelam jauh dalam ingatan, lalu melompat jauh bersama harapan.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan.

Matanya melirik sekilas ke deretan bangku penonton, tak tampak dia, lelaki itu di sana. Dia yang dulu mengajarkan Savanna berdiri tegak dengan kaki lurus, yang memegang tangannya sambil mengatur langkah, yang selalu berteriak lantang ketika dia melompat.

“Terbang, terbang lah Savanna! Berputar di udara, dan bebaskan dirimu dari gravitasi!”

Pada deret bangku paling muka, nomer dua dari kiri. Seorang lelaki paruh baya dengan setelan jas hitam tanpa dasi, mengamati tiap detail gerak gadis itu.

“Benar itu Savanna? Sudah sebesar itu kah? Oh, tuhan, mungkin aku tak mampu mengenalinya jika bintik hitam di rona pipi itu sengaja dia hilangkan.” Laju pikiran tiba-tiba meluncur deras ke masa lalu. Rok rumbai abu, sepatu putih, jari lentik dan tumit mungil dari seorang bocah.

Savanna melangkahkan kakinya dengan gerak panjang dan lemah, seolah habis tenaga. Dia bergerak mendekati bibir panggung, kepalanya terangkat sombong ke atas. Badannya tegak, satu kaki mendorong lantai kayu, melompat. Perempuan itu terbang, berputar.

“Tantang! Lawan gravitasi, Savanna! Lawan semua hambatan!”

Lelaki paruh baya menggenggam jemarinya sendiri. Terlarut ritme tari. Savanna menggila. Dalam imajinasinya, Savanna telah lama meninggalkan dunia nyata.

Bagai hilang kontrol, lompatannya semakin menjadi-jadi.

Satu… Dua… Tiga… Hap! Satu… Dua… Tiga… Hup!

Lelaki paruh baya bahkan terpancing semangat dalam hati. Peluh mulai mengalir dari kepala menetes lewat daun telinga merambat sampai leher. Savanna menghentikan langkahnya, berjinjit, sembari curi-curi mengambil nafas, matanya juga liar menatap baris bangku.

“Persembahan ini bukan untukmu, sekali lagi, bukan untukmu. Tak perlu kau pasang muka puas.” Mereka beradu pandang. Dan lelaki itu bisa merasakan kecewa di mata Savanna. Di dalam tariannya, ada marah.

Savanna masih berputar di atas panggung. Melompat. Melangkah. Melompat, lalu berputar di udara. Terjatuh sempurna, kembali melangkah. Savanna mengambil posisi tepat di tengah panggung, penonton menahan nafas, inilah gerakan penutupan. Tarian persembahan.

Savanna melompat. Berputar. Melangkah dan kembali ke tengah. Satu, dua, tiga putaran.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan.

Savanna melompat. Berputar. Melangkah dan kembali ke tengah. Satu, dua, tiga, empat putaran.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan.

Muncul seorang wanita cukup berumur dengan sebuah gaun panjang yang sopan dan klasik yang masih membuatnya terlihat cantik. Berjalan anggun dari pintu utama menuju baris kursi paling belakang. Duduk sambil matanya menatap lurus ke panggung utama.

“Bagus, keluarkan buah jerih payahmu! Kita mampu tanpa dia, kita mampu!” Wanita itutersenyum Sedang Savanna makin bergerak liar. Bukan ballerina, dia penari pagan.

“Ibu, Ibu, Ibu, Ibu…” Savanna memanggil dalam hati.

Suara seorang pengasuh di panti asuhan tempat Savanna dibesarkan, terdengar di antara selingan bunyi angin yang senada dengan gerak tari memutarnya.

“Dia ayahmu…”

Savannah melompat.

“Dia ayahmu…”

Savannah berputar.

“Lelaki kemayu, banci itu, ayahmu!”

Savanna melangkah kembali ke tengah.

“Aku, ibumu!”

Satu, dua, tiga, empat, lima putaran.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan. Savanna menjelma menjadi salah satu dewi pagan.

Dewi pagan berkedok ballerina tersebut telah kembali ke pusat arena. Matanya membelalak merah tapi nanar. Seakan tak percaya dengan apa yg ada dihadapannya. Apa itu ayah, apa itu ibu??

Ibunya hanya butuh keturunan, sebagai pewaris ajaran.Dan sang ayah hanyalah pelengkap. Savanna tak hendak menjadi korban. Maka ini lah, saat ini lah, semua akan dia selesaikan. Dia muak, dan masih menganggap benar versinya. Ibu adalah sosok wanita yg tak pernah dia bertemu muka. Ayah adalah sosok jahat yg tiba-tiba hilang, padahal kegemarannya akan ballet sedang puncak-puncaknya. Belasan tahun lalu.

Savanna melakukan beberapa putaran terakhir, kepalanya terangkat, tengadah.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan.

Savanna melompat sekali lagi, berputar dengan tangan melebar, kaki kiri lurus ke bawah dan yang sebelah kanan menempel dengan posisi 90 derajat pada lutut. Dia terjatuh sempurna, bersimpuh di lantai panggung kayu. Sebuah lampu sorot di atas kepalanya jatuh pada saat bersamaan.

Lampu mendadak padam. Penonton berteriak membayangkan penari idaman terkapar mati menampung lampu dengan berat ratusan kilo. Sesaat kemudian ruangan kembali terang, Savanna menghilang.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan.

Ballerina itu telah menjelma. Menjadi legenda.

[Jakarta-Jogja, 16-17 Maret 2011]

*kolaborasoy bersama Spasiers, Dee Dee Sabrina

1 comment:

  1. wah,cerita yang bikin terbelalak.god joob.salam kenal,klu ada waktu kunjungi blog ane ya

    ReplyDelete