March 30, 2011

Racau: Sebuah Prosa Pesan (Repost)

Aku bilang saja, ”Kau kutuk sudut, derajat, remang serta langit-langit, aku juga ingin mengutukmu, jadi kunang-kunang berinsang. Biar kunikmati saat aku tenggelam karam maupun mengompos terbenam. Iya jadi kunang-kunang sebesar rongga kulit kepala. Biar kau setubuhi neuron, dendrit diatas mataku. Bedebah! Sudah… Sudah cukup aku tuli membiarkan ruanganmu melumeri isi kepala. Kau itu duri. Kau kedipan bunyi yang menyanggah seluruh cakra. Bagi wujud atas tanda. Beku.”

”Telah aku lewati metamorfosa paling sempurna. Cahaya pada buritan adalah kodrat lahir, dan bakal insang pun telah tumbuh sejak lama oleh kejayaan zat Tuhan. Kutukanmu hanya pelengkap. Jangankan isi kepala, aku siap meracuni setiap lapis dagingmu dan setiap mili aliran darah. Rasakan taringnya!”

Ada sisa darah lain, aku curiga. Siapa yang kau sembelih semalam? Pemantel rahim tak ada di tungku, monyet buncit bengis beruban bertato tak lagi di layar. Aku curiga, ini keranda untuk siapa?

”Itu darah lama, lebih dari 100 malam yang lalu. Tubuhnya kucabik karena keras kepala, sudah kusiapkan pemutih untuk hapus bercaknya. Hei, cobalah jeli! Keranda itu baru kubuat kemarin, seukuran jasadku, dan kulebihkan sedikit karena ada kemungkinan jasad lain turut masuk.”

Jasadmu dan hujan. Sempurnalah mimpimu barusan, di dalam peraman aku mengamuk mencari batu ginjal. Ah, peta macam apa ini. Aku pinjam dulu jarimu, nanti aku kembalikan.

”Yang kau sentuh itu adalah peta buta, tak perlu mata lacak tempat, dan segera setelah mimpi, jasadku berpadu dengan kotoran sapi. Kemudian tumbuh seribu benih di atasnya, oleh hujan, kuncup demi kuncup siap membuatmu mabuk. Jangankan jari, selanya pun kuberi.”


14 Juli 2010

March 20, 2011

Ballerina (Repost)

Sedang tersaji, gemulai lenggok dan segala pose molek yang dicitrakannya. Media rekam tak pernah luput fokus dari tubuh berbalut kostum elastis yang dilengkapi rok rumbai sampai lutut. Merah muda seperti sepatunya.

Kilat cahaya dari sekian kamera tak mengalihkan konsentrasinya. Pikir dan imajinasi perempuan itu tenggelam jauh dalam ingatan, lalu melompat jauh bersama harapan.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan.

Matanya melirik sekilas ke deretan bangku penonton, tak tampak dia, lelaki itu di sana. Dia yang dulu mengajarkan Savanna berdiri tegak dengan kaki lurus, yang memegang tangannya sambil mengatur langkah, yang selalu berteriak lantang ketika dia melompat.

“Terbang, terbang lah Savanna! Berputar di udara, dan bebaskan dirimu dari gravitasi!”

Pada deret bangku paling muka, nomer dua dari kiri. Seorang lelaki paruh baya dengan setelan jas hitam tanpa dasi, mengamati tiap detail gerak gadis itu.

“Benar itu Savanna? Sudah sebesar itu kah? Oh, tuhan, mungkin aku tak mampu mengenalinya jika bintik hitam di rona pipi itu sengaja dia hilangkan.” Laju pikiran tiba-tiba meluncur deras ke masa lalu. Rok rumbai abu, sepatu putih, jari lentik dan tumit mungil dari seorang bocah.

Savanna melangkahkan kakinya dengan gerak panjang dan lemah, seolah habis tenaga. Dia bergerak mendekati bibir panggung, kepalanya terangkat sombong ke atas. Badannya tegak, satu kaki mendorong lantai kayu, melompat. Perempuan itu terbang, berputar.

“Tantang! Lawan gravitasi, Savanna! Lawan semua hambatan!”

Lelaki paruh baya menggenggam jemarinya sendiri. Terlarut ritme tari. Savanna menggila. Dalam imajinasinya, Savanna telah lama meninggalkan dunia nyata.

Bagai hilang kontrol, lompatannya semakin menjadi-jadi.

Satu… Dua… Tiga… Hap! Satu… Dua… Tiga… Hup!

Lelaki paruh baya bahkan terpancing semangat dalam hati. Peluh mulai mengalir dari kepala menetes lewat daun telinga merambat sampai leher. Savanna menghentikan langkahnya, berjinjit, sembari curi-curi mengambil nafas, matanya juga liar menatap baris bangku.

“Persembahan ini bukan untukmu, sekali lagi, bukan untukmu. Tak perlu kau pasang muka puas.” Mereka beradu pandang. Dan lelaki itu bisa merasakan kecewa di mata Savanna. Di dalam tariannya, ada marah.

Savanna masih berputar di atas panggung. Melompat. Melangkah. Melompat, lalu berputar di udara. Terjatuh sempurna, kembali melangkah. Savanna mengambil posisi tepat di tengah panggung, penonton menahan nafas, inilah gerakan penutupan. Tarian persembahan.

Savanna melompat. Berputar. Melangkah dan kembali ke tengah. Satu, dua, tiga putaran.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan.

Savanna melompat. Berputar. Melangkah dan kembali ke tengah. Satu, dua, tiga, empat putaran.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan.

Muncul seorang wanita cukup berumur dengan sebuah gaun panjang yang sopan dan klasik yang masih membuatnya terlihat cantik. Berjalan anggun dari pintu utama menuju baris kursi paling belakang. Duduk sambil matanya menatap lurus ke panggung utama.

“Bagus, keluarkan buah jerih payahmu! Kita mampu tanpa dia, kita mampu!” Wanita itutersenyum Sedang Savanna makin bergerak liar. Bukan ballerina, dia penari pagan.

“Ibu, Ibu, Ibu, Ibu…” Savanna memanggil dalam hati.

Suara seorang pengasuh di panti asuhan tempat Savanna dibesarkan, terdengar di antara selingan bunyi angin yang senada dengan gerak tari memutarnya.

“Dia ayahmu…”

Savannah melompat.

“Dia ayahmu…”

Savannah berputar.

“Lelaki kemayu, banci itu, ayahmu!”

Savanna melangkah kembali ke tengah.

“Aku, ibumu!”

Satu, dua, tiga, empat, lima putaran.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan. Savanna menjelma menjadi salah satu dewi pagan.

Dewi pagan berkedok ballerina tersebut telah kembali ke pusat arena. Matanya membelalak merah tapi nanar. Seakan tak percaya dengan apa yg ada dihadapannya. Apa itu ayah, apa itu ibu??

Ibunya hanya butuh keturunan, sebagai pewaris ajaran.Dan sang ayah hanyalah pelengkap. Savanna tak hendak menjadi korban. Maka ini lah, saat ini lah, semua akan dia selesaikan. Dia muak, dan masih menganggap benar versinya. Ibu adalah sosok wanita yg tak pernah dia bertemu muka. Ayah adalah sosok jahat yg tiba-tiba hilang, padahal kegemarannya akan ballet sedang puncak-puncaknya. Belasan tahun lalu.

Savanna melakukan beberapa putaran terakhir, kepalanya terangkat, tengadah.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan.

Savanna melompat sekali lagi, berputar dengan tangan melebar, kaki kiri lurus ke bawah dan yang sebelah kanan menempel dengan posisi 90 derajat pada lutut. Dia terjatuh sempurna, bersimpuh di lantai panggung kayu. Sebuah lampu sorot di atas kepalanya jatuh pada saat bersamaan.

Lampu mendadak padam. Penonton berteriak membayangkan penari idaman terkapar mati menampung lampu dengan berat ratusan kilo. Sesaat kemudian ruangan kembali terang, Savanna menghilang.

Ini tarian terakhir, sebuah persembahan.

Ballerina itu telah menjelma. Menjadi legenda.

[Jakarta-Jogja, 16-17 Maret 2011]

*kolaborasoy bersama Spasiers, Dee Dee Sabrina

March 8, 2011

Hei, Perempuan...

... Jangan lalu latah mengidolai Michelle Obama dan Irene Rosenfeld, atau tiba-tiba bertingkah sangat ekstrem setelah menapaki tilas "Ibu Kartini". Pada kenyataannya, posisimu masih dibatasi seperangkat nilai dan norma yang belum memungkinkan bagimu untuk menjadi sangat aktif dalam memerangi dominan. Bijaknya, tak usah pikir adil tak adil, teruslah pantang mundur lawan dominan. Ketika lajumu masih jauh dari jalur utama, tidak berarti sulit beridentitas bukan? Menjadi bangga dengan tidak terlalu bangga dalam menyikapi kodrat adalah hal positif layak tiru, dan dengan sangat bangga pula kami mengagumimu.

Pada hari ini, bertubi-tubi kusampaikan kekagumanku kepada para perempuan. Mereka telah mengubah dunia menjadi lebih baik.

March 6, 2011

Mencoba Tunjukkan Cinta Dengan “Write About Love” (Repost)

(Review LP terbaru B&S, 2010)

Belle & Sebastian adalah band indiepop asal Glasgow, Skotlandia. Merupakan proyek bersama Stuart Murdoch dan Stuart David pada awal Januari 1996, kemudian Stevie Jackson, Isobel Campbell, Chriss Geddes, dan Richard Colbum direkrut dan melengkapi Belle & Sebastian sebagai sebuah band. Masuknya Sarah Martin (1997) dan Mick Cooke (1998) ikut meramaikan formasi band menjadi delapan orang anggota. Namun Stuart David keluar pada tahun 2000 yang digantikan oleh Bobby Kildea, menyusul kemudian Isobel Campbell pada tahun 2002, menyisakan tujuh anggota lain yang masih bertahan hingga sekarang.

Anda adalah penggemar The Beatles dan The Smiths atau anda tergila-gila dengan Blueboy juga Electric Light Orchestra, B&S bisa anda jadikan sebagai referensi pembanding. Tidak bermaksud melebih-lebihkan, tetapi empat legenda yang sudah disebut lebih dulu memiliki pengaruh yang kuat terhadap karakter bermusik B&S. Band ini telah merilis banyak single, EP, dan kompilasi serta tujuh album studio (LP), dan pada 2010 B&S merilis satu lagi album studio bertajuk Write About Love sehingga jumlah total LPnya akan menjadi delapan.

Pertama dalam empat tahun setelah album terakhir dirilis The Life Pursuit, Stuart Mordoch sang front man kembali menunjukkan cintanya kepada penggemar dengan melahirkan Write About Love yang diproduseri Tony Hoffer (juga memproduseri The Life Pursuit). Dengan produser yang sama bukan berarti album baru ini akan persis sama dengan album sebelumnya. Dalam Write About Love Stuart Murdoch tidak lagi arogan mengisi penuh vokal semua lagu, dia memberi kesempatan kepada rekannya juga artis lain untuk menjadi vokal utama pada beberapa lagu. Dengan instrumen yang lebih penuh dan nuansa psychedelic rock membuat mereka tidak bisa dikatakan sebagai band tweepop lagi.

Sedikit kasar dan simpel tapi cukup nyaman untuk didengar. Cocok bagi anda yang memiliki ketertarikan khusus terhadap indiepop, dan tidak diragukan lagi mereka akan membawa anda kembali pada saat pertama kali mendengarkan band ini. Atau anda baru benar-benar tahu B&S? Tak masalah, anda bisa langsung memulai dengan album barunya, karena Murdoch dan Sarah Martin adalah penulis lagu yang tidak begitu jelek. Yang coba diperdengarkan dalam album ini adalah musik pop dari varietas terbaik (Ian Wade, BBC).

Namun wujud cinta tidaklah selalu sempurna. Anda penggemar berat B&S pasti merasa sedikit kurang puas terhadap album ini. Ya, memang terdapat kebosanan pada beberapa titik dan sedikit tidak melodius seperti album-album mereka sebelumnya. Dan keputusan merangkul dua artis terkenal membuat album yang sekarang tidak kelihatan indie sehingga memunculkan pertanyaan “Ke mana Belle & Sebastian yang terkenal sangat DIY itu?”

Dibuka dengan lagu I Didn’t See It Coming, Sarah Martin mengisi penuh vokal, membangun dua akord piano lembut menjadi balada multi-instrumental yang sedikit mengeluh tentang kekurangan uang, tetapi juga merangkul kesenangan dalam hidup yang sederhana. Come On Sister adalah sebuah nasihat dalam balutan nada lembut dan sopan. Euforia terdapat dalam Calculating Bimbo dan duet Stuart Murdoch – Norah Jones dalam Little Lou, Ugly Jack, Prophet John adalah jawaban dari kekurangan finansial mereka selama ini, sangat mainstream dan mencoba menggiring pendengar untuk berkaca pada dirinya sendiri, tidak ada melankolia di dalamnya.

Suara seksi aktris Carey Mulligan memberi sesuatu yang segar pada single utama Write About Love, bermisi sama dengan duet pertama yaitu menjual karya, bersama Stuart Murdoch menggambarkan sebuah pasangan yang mencoba mengekspresikan bahwa tidak ada aturan dalam menyatakan cinta tetapi harus masuk akal. I’m Not Living In The Real World adalah Sukie In The Graveyard versi kasar, The Ghost Of Rockschool dan I Want The World To Stop mengingatkan kita pada karya-karya B&S sebelumnya, tidak lupa I Can See Your Future dan Sunday’s Pretty Icons tetapi dengan instrumen yang lebih ramai. Dan terakhir, petikan gitar akustik yang manis pada Read The Blessed Pages menambah warna dalam album psychedelic ini.

Secara keseluruhan, Write About Love memang sangat berbeda dengan album-album sebelumnya. Namun tidak salah untuk memutar seluruh lagunya berulang-ulang demi mendapatkan feel yang kita inginkan. Dan penggalan lirik di bawah ini adalah citra dari B&S yang sekarang:

But we don’t have the money

(money makes the wheels and the world go round)

Anda pasti tahu sebabnya.