January 30, 2011

Sinar Ceria, Citrakan!

Ya, sudah tercitra di sini, di ruang pribadiku, mata sembab sayumu akibat semua tindak di sekitar yang menurutmu tak layak sehingga dari pinggir kelopak tiba-tiba muncul begitu saja cairan bening penanda sedih. Ya, kamu menangis, pasti menangis, aku tahu, tapi gunakanlah juga cermin harga ratusan ribu yang terpajang sejak lama di dinding kamarmu itu. Berdirilah di depannya, perhatikan secara detail rupa-rupa lucu yang mendadak sayu itu. Jika kamu peka dan menganggap cermin adalah kiasan, tentu kamu bisa cermat menangkap sirat yang sedang kurangkum ini.

Setiap manusia layak menikmati kesedihan, begitu pula aku, aku pun sering larut di dalamnya. Tetapi, kamu selalu kalah begitu saja, kamu biarkan sebuah perasaan tak enak itu menguasaimu berlarut-larut. Aku sering larut, tapi aku selalu berusaha mencari jalan agar larutnya kembali mengkristal, tentu saja aku cepat kembali kebal. Santai lah, belum akhir dunia, mumpung masih muda, tak ada salah hura-hura. Yang di depan sudah digariskan, tinggal seberapa banyak kamu mampu mengumpulkan energi positif sekitar, itu yang menentukan kamu itu siapa dan akan menjadi apa.

Jangan selalu mengkambinghitamkan subjek, toh tidak seterusnya dia menjadi kambing dan tidak selamanya pula dia menjadi hitam. Mari, aku tuntun kamu kembali bercermin, aku curiga jangan-jangan kamu pun punya pola kambing. Nah benar, kambing di dalam dirimu malah bercorak warna-warni. Dirimu tidak selalu benar kawan, pola kambing warna-warni itu bukan keindahan, melainkan sebuah kekurangan yang selama ini tidak pernah kamu sadari. Ayo hapus gambarnya! Kembalikan murni menjadi dirimu yang seperti bayi, bersih.

Membuat bersih memang tidak bisa secepat kilat, perlu banyak tahapan yang akan terus bertahap ketika noda semakin abstrak. Jangan menyerah sebelum memulai karena masih banyak waktu. Aku sangat yakin semesta tidak akan melahap setiap umat yang sedang mencoba bangkit dari keterpurukan. Semesta adalah maha bijak serba cendikia.

Apa yang baru saja kamu alami itu, hal buruk yang membuat sembab matamu adalah sebuah sejarah hidup yang menentukan cerita-cerita berikutnya. Rangkum saja, kumpulkan ke dalam kotak yang tersedia di pusat sanubari. Netralkan dengan tawa, toh tertawamu biasanya meluap-luap seperti ombak. Tawamu bukan palsu, jangan rusak predikat aslinya hanya karena sebuah cerita hidup yang membuatmu layu. Keluarkan bahaknya, kencang! Buat orang sekitar semakin mengernyit, tak usah peduli.

Coba bayangkan, ada sebuah ladang jagung luas, letaknya berkilo-kilo meter jauhnya dari kediamanmu. Di tengah-tengah ladang terdapat sebuah ruang kosong, mirip sebuah crop circle, bentuk yang mungkin sengaja dibuat oleh si empunya ladang dengan menebas batang-batangnya, puluhan batang, sampai membentuk lingkaran bila dilihat dari sudut udara. Agak ke pinggir lingkaran terdapat sebuah payung besar, menancap kokoh berwarna kuning.

Di depan kediamanmu aku sudah menunggu dengan sepeda kayuh yang sudah kuparkir tepat di pinggir jalan. Sementara kamu masih bersiap dengan bekal, aku sudah siap dengan tas ransel berisi tape recorder lengkap dengan baterai juga selembar tikar. Ya, kita memang tampak seperti sekawan yang akan pergi bertamasya.

Kita menuju daerah agraris terpencil jauh dari metropolitan. Dengan berboncengan di atas sepeda kita menyusuri jalan tanah yang berkerikil, dan akibat gesekan roda dengan tanah muncullah debu yang semakin membuat membuat semarak jalanan. Sampai kita di ladang jagung, kemudian merangsek kita menuju tengah ladang. Aku gelar tikar dan dilanjutkan kamu menata bekal makan. Sembari menanti jam makan, kita mencoba khusyuk mendengarkan celotehan parodi 70-an Warkop Prambors dari tape recorder. Lihat, baru saja kita membuat dunia baru, walaupun serba sederhana, anggap saja sebagai dunia ceria yang mini.

Kepada sahabatku, itu tadi hanya sebuah rancangan, satu-satunya rancangan yang bisa aku buat. Yang intinya adalah mari kita pacu laju menuju wahana serba ceria, di sana aku berjanji akan memberimu sedikit hiburan, bukan wejangan, toh aku sendiri pun bukan manusia serba sempurna. Tetapi, sedikit saja bual ceria sudah cukup untuk memancing sedikit tawamu dan segera setelah itu semesta pasti berpikir untuk menarik semua energi negatif yang ada di sekitarmu. Kamu pasti kembali bersinar, secepatnya.







(Risky Summerbee & The Honeythief – Fireflies)

No comments:

Post a Comment