November 24, 2010

Aneka Monoton

The Depreciation Guild – November




Windu pertama, adalah masa pertumbuhan dari balita menuju bocah. Hidung berfungsi dengan baik dalam menyaring udara sebelum masuk ke paru. Lidah pada awalnya hanya digunakan untuk mengecap puting milik sang induk, lebih dari 100 minggu kemudian semakin terlatih dalam mengecap manis remah biskuit juga gurih bubur tim. Sekelompok individu di luar keluarga pun hadir sebagai teman bermain pada belasan sampai puluhan bulan kemudian, dengan seragam putih-merah bermain kejar-kejaran pada lorong depan kelas. Segera pada jam istirahat menuju ruang kerja ibu untuk merengek demi receh 200 rupiah, jajan “krip-krip” di warung Mba Sulis.

Pukul 12 siang lonceng berdenting 3 kali pertanda pulang, bersamaan pula dengan habisnya jam kerja ibu. Aku hampiri beliau di ruang kerjanya lalu berjalan beriringan melewati jalan setapak di pinggir lapangan depan sekolah menuju rumah. Ayah menyusul sampai rumah pukul 13.30 kadang-kadang lebih sedikit dan tidak pernah pulang sangat telat kecuali bila ada urusan penting. Dengan buah tangan berupa nasi pecel dan kadang-kadang sate ayam untuk santap siang kami bertiga, menjadi berlima ditambah si kembar, dan digenapi si bungsu menjadi berenam.

Windu kedua, adalah masa perkembangan dari seorang bocah menuju remaja. Rumah semakin ramai oleh kehadiran si kembar dan si bungsu, ruang TV pun semakin sesak. Satu piring pisang goreng buatan ibu langsung habis dalam sekejap sambil menikmati acara infotainment sore hari. Selepas bermain sepakbola bersama teman-teman sekampung langsung bergegas mandi lalu pergi ke musholla untuk salat Maghrib berjamaah, mengaji dan pulang setelah Isya. Sesampainya di rumah, lauk makan malam sudah ditata rapi oleh ibu pada meja di ruang tengah. Ritual selanjutnya setelah santap malam adalah berjibaku dengan pekerjaan rumah yang harus dikumpul esok hari lalu tidur setelah terlebih dahulu menyimak “dunia dalam berita”.

Seragam putih-merah sudah berganti menjadi putih-biru. Perasaan kagum terhadap lawan jenis pun tumbuh bersamaan dengan munculnya bentol-bentol jerawat di permukaan pipi. Pula uang saku ikut bertambah dan kadang-kadang sengaja ditabung untuk membeli satu paket amplop dan kertas surat warna-warni. Perawakannya tinggi kurus dan rambutnya panjang layaknya model iklan shampoo, dia adalah wanita pertama sebagai target cinta-cintaan. Ketika cinta (monyet) merekah, menulis bual-bual picisan pada kertas surat menjadi kegiatan baru. Selalu gigih dan pantang menyerah mengirim surat cinta sampai si wanita gerah lalu ditolak mentah-mentah.

Jenjang sekolah menengah pertama memang masa-masa di mana banyak bocah bertingkah sok remaja. Agar eksistensinya dianggap, mulailah bocah-bocah itu bertindak di luar jangkauan dan tidak sesuai kapasitas. Sebuah gambaran umum dan juga sebagai refleksi diri sendiri, memaksakan diri untuk menghisap linting demi linting tembakau dan curi-curi menonton film dewasa sudah dilakukan pada masa itu. Mungkin ada juga yang lebih parah, tetapi hal tersebut tidak terjadi padaku. Bertingkah sok mandiri, mulai membantah orang tua, tetapi masih gemar mengumpulkan hadiah dalam kemasan “chiki”.

Windu ketiga, dari remaja belajar menjadi dewasa. Seragam putih-biru segera berubah menjadi putih-abu. Sepeda kayuh digantikan sepeda bermesin sebagai sarana berangkat sekolah. Hidup berpuluh-puluh kilometer jaraknya dari kampung halaman, dalam setahun hanya sedikit kesempatan untuk bertemu orang tua, pada momen liburan panjang dan hari raya saja. Benar-benar belajar mandiri dengan kebutuhan sehari-hari yang masih disokong dari jauh. Lingkungan baru, suasana baru, teman baru, dan kebiasaan baru. Dari yang positif sampai negatif; OSIS, kursus bahasa, olimpiade fisika, paskibraka tingkat propinsi, kejuaraan bola basket antar sekolah, pekan olahraga daerah, bolos sekolah, merokok di kantin, pulang larut malam. Persis sama dengan realita yang banyak disadur ke dalam film-film anak muda zaman sekarang.

Fase terus berkembang hingga naik ke perguruan tinggi. Pindah ke kota budaya dengan menyewa sebuah kamar kostan dengan biaya yang masih disokong dari jauh. Komputer baru, pacar baru, buku bacaan baru, organisasi, komunitas, anggur merah (dan piranti khayal yang lain), bolos kuliah, berwisata suka-suka, kerja paruh waktu, social network, musik dan film rare, wacana skripsi, dan selalu mencoba untuk menembus sikap dewasa yang masih utopia. Sepuluh semester dengan modal seratus lima puluh enam sks.

Sekarang adalah hari paling ujung di windu ketiga, tidak sampai 24 jam babakan ini akan segera berganti. Aneka gerak, aneka kegiatan, dan aneka-aneka baru sudah menanti di babak baru. Seperti kata petuah bijak: Semakin berjalan waktu semakin bertambah pula hal-hal baru yang diserap dari lingkungan sekitar, sebuah fase yang akan terus berlangsung sampai akhir hayat. Tetapi aku monoton, aku yakin sangat monoton, meski lika-liku perjalanan hidup yang sudah aku lalui memang melewati banyak aneka, yang aku rasakan selalu tetap sama sejauh ini, hambar. Mengapa hambar? Karena banyak waktu habis oleh aneka monoton, sampai sekarang, menjelang delapan tahunan babakan hidup yang akan dimulai kembali beberapa jam lagi, menuju angka empat. Semoga lekas benar-benar sembuh.



1 comment:

  1. mau ulang tahun ya dit? :D:D
    selamat apa saja deh.
    tapi menarik juga lo membaginya menjadi perdelapanan. hihihi.

    ReplyDelete