September 26, 2010

Dalam Ruang

Dia adalah sosok lelah. Energinya terkuras habis semalaman. Jari lentiknya kelelahan akibat kerja rodi, matanya sayu merindukan kamar tidur. Tapi dia sempat tersenyum ketika melihat lembaran-lembaran daun jatuh serentak dari dahan mahoni, membuat hati nyaman ujarnya. Di bangku taman dia rebah menghadap pohon sambil telinganya fokus pada sebuah lagu yang juga nyaman serta manis melebihi sebatang lolipop.

Dia, tak ada sebutan yang lebih cocok selain keras kepala, ya sangat keras kepala. Bersikeras pergi meninggalkan sarang padahal masih mempunyai hak jatah cacing dari sang induk. Dia berburu melawan waktu normal, sendirian dengan kecakapan seadanya. Dan dia memang lelah yang sebenar-benarnya. Dia rindu sang induk yang mampu membuat segar jasmani dengan belaian-belaian lembutnya. Dia menangis kemarin sore, berharap ada celah waktu untuk kembali ke sarang.

"Kita tak pernah bertemu maya sebelumnya, sampai akhirnya kita berhadapan, berbagi cermin serta rupa-rupa nyata. Susah mencari prolog atau epilog karena entah kenapa kita selalu berjalan pada inti. Termasuk saat ini, ketika susu dan biskuit cokelat tersaji di meja sedari malam untuk kita nikmati sebelum pulang. Belum berakhir, kita berubah maya lusa."



25 Agustus 2010, Lereng Bukit




1 comment:

  1. mantap nih.. tambah mantap lagi kalo objek pada puisi ini de-mention *uhuk

    ReplyDelete