September 26, 2010

Dalam Ruang

Dia adalah sosok lelah. Energinya terkuras habis semalaman. Jari lentiknya kelelahan akibat kerja rodi, matanya sayu merindukan kamar tidur. Tapi dia sempat tersenyum ketika melihat lembaran-lembaran daun jatuh serentak dari dahan mahoni, membuat hati nyaman ujarnya. Di bangku taman dia rebah menghadap pohon sambil telinganya fokus pada sebuah lagu yang juga nyaman serta manis melebihi sebatang lolipop.

Dia, tak ada sebutan yang lebih cocok selain keras kepala, ya sangat keras kepala. Bersikeras pergi meninggalkan sarang padahal masih mempunyai hak jatah cacing dari sang induk. Dia berburu melawan waktu normal, sendirian dengan kecakapan seadanya. Dan dia memang lelah yang sebenar-benarnya. Dia rindu sang induk yang mampu membuat segar jasmani dengan belaian-belaian lembutnya. Dia menangis kemarin sore, berharap ada celah waktu untuk kembali ke sarang.

"Kita tak pernah bertemu maya sebelumnya, sampai akhirnya kita berhadapan, berbagi cermin serta rupa-rupa nyata. Susah mencari prolog atau epilog karena entah kenapa kita selalu berjalan pada inti. Termasuk saat ini, ketika susu dan biskuit cokelat tersaji di meja sedari malam untuk kita nikmati sebelum pulang. Belum berakhir, kita berubah maya lusa."



25 Agustus 2010, Lereng Bukit




September 22, 2010

Dua

Sah-sah saja ketika hal pahit sengaja dibungkus manis demi kesan pertama. Dan memang kita hanya bersenang-senang waktu itu, saling cerita pun sebatas hal manis pula dan cuma seadanya. Hari pertama penuh dengan tawa.

Tertawa pada sudut wahana olahraga dimana banyak muda-mudi saling pamer warna-warni dalam acara festival mode. Tertawa setelah diguyur hujan deras dengan dua potong ayam goreng tepungku dan satu cup kecil es krimmu. Dan sebuah tawa kecil ketika kau bilang: “Kita berpisah di sini, sampai bertemu lain kali”. Kau bilang ‘sampai’ bukan ‘semoga’, kau pintar memilih kata. Sadar karena kita pasti bertemu di kemudian hari.

Kita mengambil arah yang berbeda menuju pulang. Aku amat sangat lelah, dalam arah menuju peraduan yang terpikir hanyalah bagaimana caranya mempercepat laju karena tubuh sudah tak tahan untuk rebah. Laju melaju sampai ke kamar tidur, tubuhku sudah terlentang.

Namun otak yang seharusnya mengisyaratkan seluruh anggota tubuh untuk istirahat malah memerintahkan jemari bermain tombol selular. Sebuah racikan kalimat simpati akhirnya keluar oleh kerja sama antara salah satu anggota tubuh dan satu organ penting tersebut. “Apakah kau selamat sampai rumah?” Bukan hasil dari gerak reflek karena simpati yang lahir adalah sebenar-benar niat dan itu tertuju padamu.

Alih-alih iseng bertanya kabar, permainan nirkabel kita malah berlangsung sampai tengah malam. Tawa dan senyum masih mendominasi walau tidak berbentuk lisan. Aku bilang hahaha kau jawab hihihi, aku tulis hehehe kau balas menulis hohoho. Sudah benar-benar dini hari dan aku baru benar-benar istirahat, tidur.

Kau pendamba filsafat pemuja tokoh revolusioner. Sangat bertolak belakang dengan si selenge’an mirip bocah tua nakal, tetapi sama-sama percaya akan energi sekitar penggerak semesta. Manis, karena esoknya sebuah mimpi kecil yang lucu merupakan pemantik percakapan-percakapan nirkabel berikutnya. Tidak cuma monoton beradu pesan saja karena mulut acapkali ikut berolahraga mengolah pita suara.

Masih dipenuhi tawa dalam rangkuman cerita-cerita film, lagu dan sedikit tentang Pramoedya. Berusaha sedikit serius, seonggok ‘Rummi’ pun pernah hadir sekilas, lebih karena aku pernah tidak sengaja mengeluarkan rangkaian kata yang mirip dengan kata mutiara beliau, tapi aku tidak tertarik untuk berlama-lama. Aku tidak menyukai filsafat, sufi, politik, faham-faham, dan semua hal yang tidak terjangkau otak. Ya, aku bodoh dan kamu pintar.

Lebih dari tujuh hari dan akhirnya terasa monoton. ‘Selamat pagi, siang, petang, malam, sedang apa’ adalah kata-kata yang selalu keluar dalam olah pesan gsm, sebenarnya tidak basi tetapi sangat kurang variasi. Pribadiku sangat tak sabar menanti agenda berikutnya.

Akhirnya, ujung pekan pada dua pekan setelah pekan kita bertemu pertama kali, siang hari, aku telah berada pada titik di mana kita pernah berpisah sebelumnya. Tidak beberapa lama sebuah tepuk halus mendarat tepat di pundak, pertemuan kedua.

Kamu yang menepuk, sosok yang sejak pertama sudah kucium bau misterinya dengan t-shirt hijau yang dimasukkan ke pinggang hampir ke pinggul, jeans hitam skinny, tas hitam di punggung mirip tempurung, dan sepatu berbahan plastik. Kau tidak merubah penampilanmu, atribut yang kamu kenakan sama persis seperti pada pertemuan pertama.

Debu panas ibukota menghantam muka, bersaing laju dengan kendaraan lain di kanan, kiri, depan, belakang, dan sesak aktivitas siang tidak mempengaruhi riak canda kita dalam membelah jalan. Agenda pertama hari itu adalah menyaksikan robot-robot lucu dengan bos pencuri yang selalu berusaha membuat ibunya terkesan dan kagum. Karena lucu kita terbahak-bahak sepanjang durasi cerita, apalagi ketika sekelompok robot bernyanyi copa cabana. Manis lagi-lagi manis, tak tampak pahitmu juga lukamu. Gelap membuatmu cantik dalam tawa.

Cerita audio visual pun berakhir, gelap berubah terang seketika. Wajahmu tampak segar, dan kali ini, kembali seperti di awal, senyum membuatmu cantik dalam misteri. Di mana pahitmu? Aku belum juga layak mengorek informasi.

Yang kemudian aku lakukan adalah mengajakmu berbagi meja pada restoran "sampah" Amerika. Kita berhadapan dan bersiap santap potongan kolesterol bertabur tepung crispy, bisa sebut junkfood, takaran pas pengobat lapar. “Tenaga bertambah hingga dua belas kali lipat” dan kita bersiap ke agenda berikutnya.

Sampai kita pada sebuah acara kesenian. Menyaksikan muda-mudi lugu berpentas seni merupakan kenyamanan tersendiri, orisinalitas sangat kentara meski dengan kemampuan seadanya. Senyaman binatang ternak tak berbusana kita tersenyum melihat ulah mereka. Lagi-lagi berbagi tawa, kali ini berkolaborasi bersama bocah jalanan pinggir kali, jauh dari pusat kota. Kemudian waktu cepat berubah malam, ibukota bertabur gemerlap lampu, kemilau.

You and me and all these weekends, I thought we’d go far…

Pertunjukan bocah-bocah lugu berakhir, namun gelaran tutup minggu tidak berakhir sampai disitu. Belum ada niat pulang karena memang tidak ingin pulang, kita bersepakat mengitari kota sampai pagi. Tetapi hanya karena terinspirasi oleh sebuah lagu, kita malah terdampar di tempat yang jauh.

Bukan metropolitan, menembus batas-batas kota satelit dan sempat berhenti sesekali untuk berteduh akibat guyuran hujan. Sejauh yang bisa kita capai, dan kita hanya mampu menjangkau lereng bukit. Lelah sudah jelas kentara pada mimik, dingin mendobrak masuk mengoyak sendi, teh hangat menjadi teman bisu siap teguk sambil kita duduk bersebelah pada sebuah kedai, memandang titik-titik kecil cahaya yang berada jauh di bawah, pada bekunya dini hari.

“Terimakasih atas perjalanan yang tak terduga kemarin. Kita berteman bukan?”

“Ya, sama-sama. Kita memang tidak lebih dari sekedar teman, itu mutlak sampai saat ini.”

Bagai sebuah mimpi kecil yang lucu. Kita bergandengan tangan pada sebuah taman sambil mendengarkan melankolia. Acuh terhadap orang-orang yang berkeliling. Kita malah rebah sambil mata lurus menatap langit, tak ada bintang. Sunyi sekaligus kelam, kita pun diam. Sampai akhirnya pecah setelah suara lirih setengah berbisik merasuk ke dalam telinga.

“Aku sakit, sudah kutahan sedari kecil.”

Matahari mengintip dari balik pohon, seorang ibu sedang bingung menanti anaknya semalaman. Kita beranjak dari taman itu, sedikit basah akibat embun. Bersiap pulang dan aku tersenyum, setidaknya sebagian dari pahitmu sudah terkuak. Tinggal tunggu sisanya karena aku adalah pendengar yang baik.

September 19, 2010

Gloomy Sunday

Mendung,

Ia masih sekedar memberi temaram dalam ruang.

Hujan,

Ia mengirimkan bau tanah ke hidungmu.

Dan... Kita sama-sama sedang terbaring, beda ruang

Suram