August 7, 2010

Hujan

Senja dan kepulan asap, mendung. Sepasang persandingan beradu sajak gila. Lalu rintik datang memberi banyak inspirasi. Dia memfonisku gila, tak berkaca padahal bentuk rupanya sama rata dengan seorang telanjang di pinggir jalan. Masih fokus pada rentetan tombol selular.

Dia memfonisku lagi sebagai penipu. Hei, tolong carikan lilin lalu lelehkan kemudian usap rata pada seluruh permukaan wajahku! Karena deras air langit di luar tak mampu membuat luntur coretan topeng yang mendominasinya.

Akhirnya satu kalimat keluar dari otaknya malu-malu: "Satu suapan, membuatku takut adalah menipu, membuat menanti-nanti gelinjang pun aku tertipu."

Hahaha, tak sadar dia. Sudah empat suap diberi, dia bilang satu. Dan satu malam lalu bahkan dia berpura-pura gelinjang dihadapanku. Aku klimaks tiga kali, dia belum. Sampai cahaya kuning menyeruak masuk lewat pinggir tirai jendela.

Kali ini racau keluar dari mulutnya: "Iya, telunjukmu ikut masuk menari-nari bersama kotoran yang empat jam mengepung kuku. Kau bilang itu bagian dari permainan. Tapi tak perlu diaduk begitu, sayang! Itu perih."

Dia anggap aku bermain kotor. Padahal hujan kemarin sudah cukup menghapus debu hingga dalam kuku. Aku tak bohong, aku bersih. Dan segelas teh hangat yang kusajikan tepat dihadapannya murni tanpa bumbu-bumbu candu apalagi racun. Adakah aku menipu? Aku heran di mana letak perihnya.

Perih sebabnya merobek dan menandai kota. Lebih dari igauan lenguhmu, garam yang membias menjadi kristal maya. Menekan tanpa sanggup menyebut kita apa. Menenggak mimpi semalam menghampiri setinja untuk bermutasi menjadi riak tapi tak ada tenggelam, masih sedang diburu sampai kepada teriakan.

Tak peduli apa arti tetesan air tubuh berkadar garam. Sepakati semua memang belum terdefinisi. Tak akan berhenti selagi etalase masih berlabel muda.

Sekarang dia masih malu-malu. Kutantang beradu kalimat dia bilang tak mampu. Mari lihat, siapa yang sebenarnya penipu? Dua pasang yang lain sudah beranjak di kursi depan, hujan hanya tinggal rintik kemudian berganti gemerlap lampu kendaraan membelah jalan. Tidak lupa roda empat ikut merayap pelan, jumlahnya ribuan, padahal baru wilayah pinggiran. Apakabar ibukota? Dan kini hujan sudah benar-benar berhenti.



Depok, 7 Agustus 2010, pinggir jalan.

No comments:

Post a Comment