August 30, 2010

Tinja

Bekap..

Bekap? Peluk?

Malas mendekap. Aku mau bekap saja, mulutmu!

Apakah tidak kamu butuhkan lagi hangatnya? Atau kamu haus gigitan-gigitan kecil? Sampah, bahkan wangimu sudah tak mampu membendung busuknya.

Malas! Di tengkuk hanya ada tonjolan-tonjolan debu. Malas. Haaah…

Munafikkah ketika ternyata tonjolan itu berubah rata oleh kalori persetubuhan? Kamu tak layak berkata malas apalagi bosan karena relasi komplemen telah tercipta.

Aku sedang malas meracau, bukan malas beradu birahi..

“Kapan kita menikah?” Apakah ini tidak termasuk racau?

Kapan? Kapan aku menyebut itu? Ah, kamu bohong!

Baru petang tadi kau sebut, jangan mengelak.

Seingatku ajakan itu buat orang lain, bukan buatmu.

Tai.!!!

Beserta tinja itu menetas sepuhan merah. Sedikit demi sedikit melunturkan sakit. Tidak lagi ada perih, namun kengerian.

Pesan itu jelas terekam, untukku, bukan untuk orang lain.

Oh ya? Astaga.. Tuhan, aku tidak berniat poliandri. Hahaha

Pilih siapa?

Pilih tinja

Akulah setinja, hahaha.

Bukan kamu, tinja berdarah. Andai aku punya kantung di perut, akan aku masukkan kamu ke dalamnya. Kamu masih harus belajar bagaimana menyusu dengan baik. Keningmu terus membiakkan gurat di saat aku membuka sedikit saja tanah lapang yang kau tutupi denga rotan. Kamu berusaha berkemas-kemas, aku menebasnya lalu aku nikmati dengan cara membakar semua rotan. Dan kini tinggal tanah lapang, luas sekali sayang, kamu berlarian pun akan habis nafasmu. Lebih baik kamu mendirikan jembatan di atasnya, aku punya rotan walau sisa tapi bisa kita anyam bersama kalau kamu mau. Setelahnya aku tinggal pergi mencari air untuk wajahku yang lusuh.

Aku tidak lari. Jangan bermimpi berbagi lapang, memanjat pagar kehidupan pun kita belum. Baru setelahnya hamparan padang hijau membentang. Tak ada rotan, Sayang! Itu rumput, jelas-jelas rumput. Ah, kamu mengigau.

Tidak akan tertular kepadaku tanda di keningmu, namun aku tidak paham obat apa yang kamu suntikkan itu. Hingga semak-semak bisa kita anggap sebagai bunga, sampai-sampai terpaan angin kita anggap sebagai merdu. Memang tidak perlu terlalu tinggi, kita akan lelah merunduk, semua yang di dasar memutarkan ingatan. Kamu memang lumut yang menyamar menjadi agar-agar, terlanjur aku cicipi. Namun seperti bebatuan yang mereka adukan, warnanya pun luntur. Ternyata kamu merah, bukan jingga. Seharusnya aku tabrak saja, aku pelantingkan tubuhmu ke lembah, tidak bisa di tawar lagi! Aku mau mendobrak semua sisi otakmu. Berikan, cepat berikan! Dan tidak usah membawa gula, modusmu sudah aku petakan. Sangat picisan.

Bersamamu adalah mahodaya, sangat agung. Kebahagiaan atas kesempurnaan paling tinggi. Dan topeng kupesan sembari menunggu mokhsa, demi menutup gurat lama di mana aku adalah pesakitan. Dari luar memang tampak lumut, tapi di dalam rongga dada terdapat empat jenis daun bunga, salah satunya padma, menjadi bersinar karena cahayamu. Lebur kemudian bersenyawa hingga membentuk wujud baru, berbentuk berlian, murni. Tak ada gula pula picisan, yang aku lakukan hanyalah belajar, mandi dan makan.

Seharusnya kamu tahu, berlian itu lahir dari tangan-tangan hitam kerontang dan kamu tidak pantas menyebutnya sebagai tahta suci. Pantulannya adalah darah, sinarnya adalah jeritan. Tidak ada kebanggaan menatapnya dalam etalase.

Lagi-lagi kamu keras kepala. Kuda sedang kulaju, sampai bertemu di padang gurun. Kering.

Hei, tidak berkaca! Dengan sinis kamu muntahkan liur dan dia masih mau menelannya. Untuk aku yang singkat, belum tahu bentukmu. Kamu masih juga merapat manis. Sudah, segera tanggalkan topeng itu! Turuti saja dulu sampai akar umbaranmu, kamu mau berlayar lagi atau tidak sudah bukan urusanku.

Sejak awal, segala polah memang bukan urusanmu. Dan aku kecewa ketika cerita tiga bocah lugu pada sebuah sungai dan lereng bukit juga kamu anggap sebagai modus. Bebal.

Tidak! Itu aku yang memilih.

Enyah segala sampah! Aku pilih tidur.

Pengecut!

Ha..ha..ha.. Lonte!!!

Akhirnya keluar juga kata-kata itu. Selamat datang…

Ha..ha..ha.. Terimakasih, lonteku.

Aku bukan milikmu, bangsat!

————————————————————————————————————————————

AEPTOW

300810

August 7, 2010

Hujan

Senja dan kepulan asap, mendung. Sepasang persandingan beradu sajak gila. Lalu rintik datang memberi banyak inspirasi. Dia memfonisku gila, tak berkaca padahal bentuk rupanya sama rata dengan seorang telanjang di pinggir jalan. Masih fokus pada rentetan tombol selular.

Dia memfonisku lagi sebagai penipu. Hei, tolong carikan lilin lalu lelehkan kemudian usap rata pada seluruh permukaan wajahku! Karena deras air langit di luar tak mampu membuat luntur coretan topeng yang mendominasinya.

Akhirnya satu kalimat keluar dari otaknya malu-malu: "Satu suapan, membuatku takut adalah menipu, membuat menanti-nanti gelinjang pun aku tertipu."

Hahaha, tak sadar dia. Sudah empat suap diberi, dia bilang satu. Dan satu malam lalu bahkan dia berpura-pura gelinjang dihadapanku. Aku klimaks tiga kali, dia belum. Sampai cahaya kuning menyeruak masuk lewat pinggir tirai jendela.

Kali ini racau keluar dari mulutnya: "Iya, telunjukmu ikut masuk menari-nari bersama kotoran yang empat jam mengepung kuku. Kau bilang itu bagian dari permainan. Tapi tak perlu diaduk begitu, sayang! Itu perih."

Dia anggap aku bermain kotor. Padahal hujan kemarin sudah cukup menghapus debu hingga dalam kuku. Aku tak bohong, aku bersih. Dan segelas teh hangat yang kusajikan tepat dihadapannya murni tanpa bumbu-bumbu candu apalagi racun. Adakah aku menipu? Aku heran di mana letak perihnya.

Perih sebabnya merobek dan menandai kota. Lebih dari igauan lenguhmu, garam yang membias menjadi kristal maya. Menekan tanpa sanggup menyebut kita apa. Menenggak mimpi semalam menghampiri setinja untuk bermutasi menjadi riak tapi tak ada tenggelam, masih sedang diburu sampai kepada teriakan.

Tak peduli apa arti tetesan air tubuh berkadar garam. Sepakati semua memang belum terdefinisi. Tak akan berhenti selagi etalase masih berlabel muda.

Sekarang dia masih malu-malu. Kutantang beradu kalimat dia bilang tak mampu. Mari lihat, siapa yang sebenarnya penipu? Dua pasang yang lain sudah beranjak di kursi depan, hujan hanya tinggal rintik kemudian berganti gemerlap lampu kendaraan membelah jalan. Tidak lupa roda empat ikut merayap pelan, jumlahnya ribuan, padahal baru wilayah pinggiran. Apakabar ibukota? Dan kini hujan sudah benar-benar berhenti.



Depok, 7 Agustus 2010, pinggir jalan.