July 21, 2010

Taring, Nisan, Tidur, dan Romantika

Taring


Aku tidak boleh lagi jatuh cinta dengan kaummu, tidak karena rasa itu tidak waras. Seperti bermain-main dengan petasan, meletup panas. Dan kita memang bukan sepasang, kita tak pernah bisa satu pasang, karena aku anti berpasang. Jadi bila pasang ialah melengkapi, kita telah lengkap sebelum. Aku cuma tahu dan belajar sekian memasang : bahagia.

Walau perihal perpasangan adalah status. Tapi tak perlu sesumbar anti berpasang. Kita gejolak, tak terbaca. Jangan mengelak karena aku siap menyatu pada Che lalu Vara. Beri tahu Che, bahkan topeng Ramon pun tak tahan lama. Kita harus bertemu lusa.

Namun aku sedang jatuh cinta, dengan seorang wanita.
Hahaha lalu kenapa? Ternyata tak perlu adidaya untuk membuka kedok Ramonmu. Logika terbalik pun dapat ditegakkan, bukan masalah. Ini menarik, sayangnya wanitamu tak membuatku cemburu. Racunku menyatu dengan candumu, kini berbalik arah, aku terkontaminasi. Kau tak bisa lari, kecil.

Sial... hahaha. Tahukah kamu, ada enam titik memerah di leher. Aku bingung ini karena si pemilik taring atau apa?

Kalau kejadiannya kurang dari 48 jam berarti bukan bekas taringku.
Lalu siapa? Siapa dia?

Mana ku tahu, kau pasti cakap menghitung mundur. Aku ingat sekali, terakhir aku menjilat liur adalah lebih dari 48 jam yang lalu. Liurmu bukan darahmu.

Sudah ada bekasnya dari dua hari yang lalu, pada akhir petualangan ujung pekan.

Maaf, baru ku ingat. Itu bekas taringku. Gila... Romansa bersemayam sejenak, atau kamu sudah membuang kamus puitis? Hahaha. Maha misteri.

Aku ngantuk.

Cepat tidur, jadilah apapun juga!

Apa jadilah?

Jadi apapun yang kamu kehendaki, bentuk mimpi!



Nisan

Aku mau pergi sebentar, mau beri salam pada nisan-nisan?

Nisan mana yang pantas diberi salam?

Nisan itu, yang terbuat dari pohon besar dengan daun tanpa klorofil dengan dahan dahan yang lebih menyerupai jaringan dalam bola matamu. Masih berapa menit? Mari mainkan lagi.

Gagak pun tak berani hinggap diatasnya. Perjalanan memang belum terhenti. Makam tersebut cuma persinggahan belaka. Mari, kencangkan genggamanmu.

Ya, aku siap.



Tidur

Maaf, aku tertidur dalam kerja.

Hahaha... Aku pun lelah. 

Kenapa tertawa? Sinting kau! Hahaha. Cepat terbang ke kamar tidur.

Memang sinting, hahaha. Beri peluk, lalu kau boleh lanjut kerja lagi.


Romantika

Hey, kamu sakit? Tuhan kamu taruh mana?

Aku sehat bugar sadar, tidak buta warna, tidak buta huruf, pendengaran normal, otak juga normal standar. Tuhan tidak aku taruh di mana-mana, Dia memilih tempatNya sendiri, semauNya saja. Dan ketika aku ingin bermain, Dia selalu menjadi partner yang baik.

Kamu butuh pemahaman lebih tentang wajar tak wajar, kita bicara kodrat serta nalar. Percuma ritual lima waktu bila kamu berdalih setiap tindakanmu pasti benar.

Romantika tidak ada batasan, romantika itu bukan ikatan. Mencintai kehidupan itu berarti tanpa pandang kaumku kaummu. Tuhanku Maha Penyayang, aku menyayangi siapa saja seperti halnya Dia selipkan berbagai jumlah rasa dalam kotak intuisiku. Aku hanya menyayangi, aku cinta ketulusan, tidak ada yang salah dengan itu. Aku pikir, sifat istimewa ”Maha” yang diberikan manusia kepada Tuhan tidak termasuk ”Maha Memaksa”. Dia tidak sesombong itu.

Coba bedakan cinta dan sayang! Kamu bilang cinta tadi pagi, dan karena aku sendiri kurang mengerti definisi cinta. Satu lagi, gugat Tuhan! Mengapa Dia ciptakan jenisku dan jenismu? Buat apa kelamin? Mengapa hasrat yang kamu punya justru ada setelah kamu lahir? Bukankah kita sudah disetting? Cukup bibirku saja yang kamu gigit, jangan bibirnya karena tidak ada dalam Kamasutra.

Memangnya Tuhan yang bilang aku ini perempuan dan kamu laki-laki?Apakah Tuhan pernah bilang padamu bila kamu pria?Kalau label pria kamu dapatkan hanya karena penismu, lalu bagaimana dengan orang berkelamin ganda?Itu juga Tuhan yang buat bukan?Dan tentang perasaan di mana kamu tiba-tiba nyaman, senang, tertawa kecil sendiri hanya karena beberapa menit mendengar suaranya, itu apa namanya? Ajarkan saya! Hey tunggu, kamu cemburu?

Hahaha, aku kalah. Tunggu sampai aku membaca kelamin ganda. Terima kasih kamu keras kepala. Bukan cemburu, ini hanya penolakan terhadap apa yang aku anggap tidak wajar.

 Kalau begitu kamus kewajaranmu yang harus diperbaiki. Menurutku ”sepasang” itu ada bukan karena konteks perbedaan, tetapi karena saling melengkapi. Sepasang sepatu itu ada bukan karena yang kanan berbeda dengan yang kiri, tetapi kanan melengkapi kiri atau sebaliknya.

Berarti masalah kewajaran di akhir pekan tidak perlu kamu gugat. Karena pada kenyataannya aku tidak komplemen dengannya.

Hahaha, aku tidak menggugat, aku juga tidak perlu memberi penilaian terhadapmu. Aku sungguh mencintai kehidupan. Dan mengenai ritual lima waktu yang dikaitkan dengan rasaku yang kamu bilang tidak wajar, prosesi itu adalah media pendekatan terhadap diriku sendiri, berdialog dengan diri, waktu untuk jiwa, dan tidak ada kaitannya dengan rasa itu.

Justru aku mengaitkannya dengan Tuhan, karena olehNya segala rasa itu ada. Jika perasaanmu memang termasuk dalam bentukan-Nya, tentu tak perlu aku menggugat apalagi sampai debat basi. Nalarku memang tidak sampai, termasuk mengkaji jalur yang Dia buat. Kita berbeda, sangat jauh jaraknya.



21 Juli 2010
AEP
TOW

6 comments:

  1. :Tantriiiiiiiiiiiii, sini sini tak cium!!!

    ReplyDelete
  2. top notch monsieur adit..

    ReplyDelete
  3. masuk masuk nih..... asik
    langsung bendel jd buku EP, haha....

    ReplyDelete
  4. a a a a aku suka se se se sekali i i i i !!!

    ReplyDelete