July 5, 2010

Adiksi

Bukan perkara mudah untuk melupakan sebuah kisah, kronologi dan babakan lampau sebuah peristiwa. Peristiwaku peristiwamu, kisahku kisahmu, aku – kamu, kita. Hey kamu yang pertama, banyak kisah yang memang tak bisa ku lupa. Ya, aku penganut paham klasik bahwa yang pertama paling berkesan, kesan pertama susah hilang, yang kedua jelas berbeda dari yang pertama, apalagi yang ketiga dan seterusnya. Maaf wahai kedua ketiga dan seterusnya, ini wajar kata orang banyak.

Sudah lima kali pergantian tahun semenjak kita tutup cerita. Cukup lama, bahkan aku pun mampu membuat lagi dua cerita. Yang kedua setelahmu telah tamat empat semester yang lalu, dan yang ketiga sedang kutulis pada lembar lain bukan pada lembar ini, karena yang ini khusus kutulis untukmu wahai yang pertama. Sudah berapa cerita lagi yang kamu buat?

Tak bermaksud ungkit kisah apalagi mengintimidasimu untuk ingat padahal dirimu sudah tak ingat, aku tak peduli mau dirimu ingat atau tidak. Yang sedang kamu simak ini adalah yang disebut sebagai caraku berbagi cerita. Yang akan aku bagi adalah sebuah cerita tentang aku yang selalu ingat cerita lama kita. Tidak semua ceritanya karena sudah kupangkas menjadi beberapa. Dari beberapa itu kemudian aku pilah-pilih lagi yang paling berkesan, akhirnya tinggal satu cerita saja.

Ini tentang sebuah kebiasaan, sebenarnya dua yaitu kebiasaanku dan kebiasaanmu, tetapi karena berada pada moment yang sama maka bolehlah kiranya bila kuanggap menjadi satu kebiasaan. Dan sebenarnya pula yang kusebut dengan satu cerita pun agak rancu. Begini, ada banyak moment dengan satu kebiasaanmu dan satu pula kebiasaanku. Bila aku jelaskan detailnya satu per satu tentu saja akan memakan banyak waktu, toh percuma juga bila aku ceritakan semuanya karena tiap-tiap moment tersebut memiliki kesamaan makna. Singkatnya, kesemua moment tersebut akan kurangkum menjadi satu cerita.

Pada semester akhir kita di SMU. Selalu terjadi tiap kali kita bertemu pada kantin ujung barat sekolah dekat pintu gerbang belakang, jalur biasa kita berjalan kaki sepulang sekolah, sudut remang teras rumahmu di malam minggu, dan arena favorit kita bermain vandal. Mudah-mudahan kamu masih ingat, ada batu besar, satu-satunya batu besar di area pemakaman belakang rumah nenekku yang selalu kita jadikan alas duduk setelah lelah mencoret-coret permukaannya, dan satu album penuh a rush of blood to the head di dalam walkman selalu menjadi hiburan berikutnya sambil menanti jingga bentukan langit sore.

Aku yakin kamu sekarang mulai tersenyum oleh kilas balik memori yang telah aku sebutkan. Dan kalau kamu peka, ada garis imajiner yang menghubungkan empat lokasi tersebut satu sama lain. Keningmu pasti berkerut sekarang. “Apa sebenarnya yang menjadi inti cerita?”, benakmu pasti bertanya demikian. Keempat tempat tersebut adalah lokasi di mana aku bisa leluasa melakukan sebuah kebiasaan yang oleh guru dan orang tua dianggap tabu mengingat umur kita yang masih belasan, masih berseragam pula. Karena tempat-tempat itu jauh dari jangkauan mereka.

Dimulai dengan kantin di ujung barat sekolah, tempat berkumpul siswa kelas tiga, dari situ yang aku sebut sebagai kebiasaanmu itu lahir, kebiasaanmu untuk sekedar mencicipi apa yang menjadi kebiasaanku. Kebiasaan tersebut akhirnya menjadi kegiatan rutin di tiga tempat berikutnya. Rasanya tidak enak katamu, tetapi kamu selalu tertarik untuk mencobanya walau sedikit.

Kamu selalu batuk-batuk ketika menghisapnya, sangat lucu, dan masih aku ingat sampai sekarang…

Ya betul, ini tentang gulungan silindris kertas berisi tembakau itu. Yang sering aku bakar ujungnya sehabis kita makan siang di kantin. Yang aku hisap dalam-dalam aromanya di jalan setapak sepi ketika kita pulang sekolah. Yang aku semburkan kuat-kuat asapnya pada ritual apel malam minggu. Dan yang banyak aku buang sisa-sisa batangnya di pemakaman belakang rumah nenek ketika duduk menikmati sore bersamamu.

Tetapi bukan itu poin utamanya, yang sebenarnya menjadi inti adalah rasa keingintahuanmu yang teramat tinggi terhadap cita rasa tiap batangnya yang justru membuatmu tampak konyol. Kamu merengek ingin mencoba. Karena tak tega aku beri kamu kesempatan dua sampai lima kali hisap, setelah itu wajahmu memerah menahan mual dan batuk-batuk oleh sesak. Kau tampak tidak pernah jera, rengekanmu selalu berulang di hari-hari berikutnya.

“Aku pengen tau enaknya di mana.”

“Mending ngga usah sekalian kalo ngga bisa dapetin enaknya.”

“Kamu aja bisa kenapa aku ngga.”

Satu bulan lamanya kamu masih saja batuk-batuk, dan semakin konyol melihat kegigihanmu untuk terus mencari kenikmatan hisap demi hisapnya. Sampai akhirnya kita tamatkan buku perjalanan bersama kita, usahamu belum juga memberi hasil. Aku tidak tahu apakah kamu masih gigih mencoba setelahnya. Yang jelas sekarang sudah kurang lebih lima tahun kita tak berkabar. Apakah kamu sudah adiksi? Jika memang ada waktu, akan aku sisakan satu batang jatah harianku buatmu.

No comments:

Post a Comment