June 6, 2010

Minor

Semua pasti damai dengan sendirinya. Tak perlu repot mencari tahu ketika lawan bicara tidak mau tahu. Wajar bila hati bertanya-tanya, tapi jangan gegabah menggunakan tanda tanya. Tanda tanya bisa mengintimidasi, bisa menyudutkan, dan bisa saja membuat jatuh mood siapa saja.

Bukan masalah dewasa tak dewasa, kedewasaan itu relatif. Aku tak tahu tentang ukuran kapan manusia itu dewasa. Ciri-ciri dewasa yang tersedia di banyak media adalah buatan orang-orang munafik, kita yang mencoba mengikuti termasuk pula orang hipokrit. Biarkanlah hidup mengalir dengan kematangan.

Aku matang ketika aku sudah mampu mengeluarkan sperma untuk membuahi sel telur. Aku matang ketika aku mengerti etika tanda tanya. Aku matang ketika aku mampu membedakan siapa yang bisa dipercaya dan yang tidak. Apakah matang dapat disamakan dengan dewasa? Tidak menurutku. Kedewasaan berada pada strata yang lebih tinggi dari kematangan. Dengan sangat jujur aku menganggap kedewasaan adalah utopia, semacam mimpi yang diidamkan mayoritas orang, aku pun mengidamkan itu. Kedewasaan adalah sifat yang serba baik tanpa cela.

Bukannya sok matang apalagi sok dewasa, aku pun sebenarnya sosok yang penuh cela. Suka berkomentar tanpa berkaca. Dengan sangat jujur pula aku berkata “ini adalah keluhan akibat tanda tanya yang datangnya bertubi-tubi”.

Keluhan ini pasti pedas kau rasa, tapi cobalah keluar dari jebakan kebingungan yang banyak menyita waktu. Kalau aku kau anggap sebagai yang terpercaya, bebaskan aku sejenak untuk memperbaiki konsentrasi.

Aku tahu ini sedikit menyakitkan, sedikit bukan banyak. Maka, tak usah kau keluarkan segala daya usaha demi mencari tahu apa yang sebenarnya berkecamuk di otakku. Termasuk tanda tanya itu, simpanlah untuk hal lain daripada masalah yang sebenarnya minor ini berubah mayor.

Otakku hanya berusaha kembali pada jalur yang seharusnya. Memang sempat berbelok tak tentu arah, dan sempat pula membuat jalan baru karena muak dengan jalan lama. Tapi kusadari itu adalah emosi semata. Karena masalah yang terjadi memang bukan mayor, aku berusaha menghilangkan emosi itu dan kini hanya butuh waktu untuk memutar kembali arah laju, karena aku sudah sangat berkomitmen dengan jalan lama.

Kita bersepakat ini minor. Maka tertawalah, tertawa saja sampai liurmu kering dan menghapus segala ketakutanmu. Tertawalah demi memperhalus lagi jalan kita yang makin kasar oleh banyak tanda tanya. Tertawalah walau sedikit pahit, karena dalam sedih itu kau pasti merasakan sakit termanis.

4 comments:

  1. kalimat terakhirnya. keren.

    ReplyDelete
  2. pemerkosa mata nih blog... wow!

    ReplyDelete
  3. nah ini dia seniman kawakan, ;)), betul mba ultra?

    ReplyDelete