May 30, 2010

Instrumen Itu Memabukkan


Yndi Halda - Dash and Blast (part1)


Biola, viola lalu cello berkolaborasi bersama piano, petikan gitar dan disambut dengan dentuman benda tabuh menghasilkan nada yang mengisi penuh sebuah ruang 3x4. Kolaborasi tersebut semakin lengkap ketika efek-efek ambient datang bersama piranti elektronik.

Sangat lembut di awal. Biola menggesek atmosfer menjadi lebih sejuk, viola dan cello membantu gesekannya menjadi semarak. Lalu piano datang beriringan bersama petikan gitar, tidak lupa biola memperkuat gesekannya agar drum ikut terpancing mengeluarkan tabuhannya.

Nada kemudian naik menuju atap ruang, riak kolaborasi semakin keras. Piano tidak sekedar bermain klasik, cenderung eksperimental dia membakar, tapi tidak menghasilkan panas secara lahiriyah. Panas tersebut tidak mempengaruhi sejuk atmosfer, yang ada malah mempengaruhi gitar untuk mengeluarkan pekak distorsi berbekal efek, lalu tabuhan drum semakin tak teratur. Nada yang tadinya lembut meluncur deras berbuah bising.

Belum klimaks, masih jauh dari klimaks. Dan kali ini piano bermain sendirian, sangat egois, satu ruangan terasa penuh sesak oleh dentingannya, gendang telinga teriris sedikit oleh harmoninya. Kemudian biola membelah diri menjadi dua, bersama viola dan cello membentuk string quartet yang tidak mau kalah oleh kinerja piano, sampai-sampai piano seperti menelan suaranya sendiri.

Gitar kini bersuara akustik, petik demi petik membantu jantung mempercepat debar, sangat normal tanpa noise atau pun distorsi. Dari petik berubah pelan menjadi ritmik lalu drum bersama cymbal mengiringi ibarat mengisi sebuah parade.

Alur kolaborasi naik lagi. Kali ini drum berdentum dengan kekuatan 10 kali lipat. String quartet menjadi sangat mencolok suaranya, piano menggantikan kemudian. Distorsi gitar juga kentara, pekik noise-nya juga makin melilit kepala.

Melayang aku melayang, kursi tempatku bertumpu pun ikut berputar-putar mengikuti tekstur musiknya. Alurnya tetap memberi sejuk bahkan dingin. Kepala seperti terkoyak lalu otak ikut-ikutan mencampur aduk memori. Aku puas, ini adalah klimaks. Aku orgasme hingga bulu kuduk berdiri. Lalu tempo menjadi normal kembali, sedikit demi sedikit instrument memperlirih suaranya, hingga hilang tak berjejak.

Aku tertampar telak di pipi menembus tulang. Harmoni dan melodinya mencitrakan sesuatu yang carut-marut, kacau sekacau isi kepalaku. Dan untungnya gabungan instrument tersebut tidak mengilhami untuk bunuh diri. Kemudian suasana hening seketika dan gelap sampai hilang jarak pandang. Aku rebah dari kursi menuju ranjang.

Aku terkapar, mabuk oleh harmoni dan melodi, bukan mabuk oleh piranti yang merupakan zat bersubstansi. Jika kau meresapi, mendengarkan satu kali Yndi Halda adalah sama dengan menenggak setengah botol anggur merah. Cobalah berkali-kali!




1 comment:

  1. kalau Yndi Halda emang post rock, aku bilang mereka ga kalah bagus dibandingin sama para post-rock kelas atas macam mogwai atau explot. kamu cobain The Evpatoria Report juga dh. hehe ga nyesel kan donlod 60mb yg isinya cuma 4 lagu? bilang makasih dulu dong sama yg ngasih taunya ;)) hahahaha

    ReplyDelete