May 13, 2010

Elephantiasis

Ketika langkah semakin berat tak bertemu ujung, itulah saat yang tepat untuk berhenti. Bukan basa-basi, sakitnya memang belum menjalar menuju kepala, tapi lelah juga bila harus berjalan pincang. Seandainya ada tongkat kayu atau mungkin besi, bisa saja hilang lelah ketika sedang bertumpu pada satu kaki. Tapi sayang, piranti tersebut tak kunjung masuk ke dalam katalog cari.

Aku menyukai yang instan. Alasannya sangat simple, aku tak suka menunggu lama proses produksi. Maka buatkan aku tongkat itu, dan pasti akan langsung kupakai. Dan segera aku melanjutkan perjalanan dan kau pun pasti senang. Terserah bila kau menganggap aku ingin menang sendiri atau serba-serbi tak mau urus sendiri.

Maaf, beribu kali maaf. Ku kunci kamar dan mengurung diri bukan berarti lari. Kau masih bisa mengintip semua gerak-gerikku, lewat jendela. Ya, lewat jendela itu kau bisa lihat, tak perlu lah pakai teropong, karena sebenarnya kau bisa lebih dari sekedar mengintip. Lihat, coba jeli kau lihat! Sebelah kakiku memang membesar bukan?

Sekarang sebelah kakiku mati rasa. Masih sulit kau percaya? Mengapa? Karena kau jauh di sana? Hey, ketika kau tak mampu capai aku punya jendela kamar, masih ada jendela virtual, jarak tak jadi masalah. Masih juga kau beralasan tak mampu pandang. Ambil kembali teropong itu dari kotak sampah, bintang seribu tahun cahaya pun dapat jelas kau lihat, apalagi sebelah kakiku. Sudah, kali ini tak ada alasan lagi.

Apa? Kau tanya keadaanku? Coba lihat sekali lagi, masuk saja sini, pintu tidak lagi kukunci. Lelah juga menjelaskan menggunakan bahasa tulis. Mungkin kau bisa membaca bahasa visual kali ini, aku yakin kau bisa karena itu adalah bidangmu.





Apakah aku baik-baik saja?

Masih juga tak bisa kau lihat?

Ah, kau memang buta.

Salam.





No comments:

Post a Comment