April 9, 2010

Cerita Pagi





Pernahkah kalian menjadi munafik atau hipokrit atau apa lah yang intinya adalah kalian ingin merubah sesuatu tetapi masih terjebak ke dalam lingkaran mitos? Bagaimana caranya agar dapat keluar dari jebakan itu? Apakah hanya cukup dengan sekedar niat? Lalu di mana letak pentingnya motivasi? Ini adalah beberapa pertanyaan yang sering berkecamuk dalam benak, hingga tak kuasa aku mengolah daya pikir, dan akhirnya lebih memilih melamun.

Pagi ini begitu abu-abu, awan mendung di atas sana pun bukan biru, hari ini sudah pasti kelabu, dan hanya mental yang sedang biru. Pernah terbayang untuk melompat dari menara kembar Petronas? Aku pernah, dan yang aku bayangkan adalah nikmatnya bungee-jumping dari menara tersebut, lalu ikatan di kaki tiba-tiba lepas, tapi aku sudah siap dengan parasut, parasut terkembang, wow aku melayang.

Aku masih sempat menyalakan mp3, berparasut sambil mendengarkan lagu adalah keren, kemudian nada-nada mengayun bersamaan dengan lengking, lengking itu sangat khas, meniru lengking pria homo dari Islandia. Tidak sadar aku hampir mencapai setengah dari tinggi menara itu, jatuhku tidak vertikal karena parasut sukses meredam gravitasi, tapi tiba-tiba badai besar datang dari Kuala Lumpur bagian timur.

Dalam hitungan detik aku terhempas ribuan kilometer, karena ketika aku menyempatkan membuka mata untuk melihat ke bawah, tiba-tiba daratan berubah menjadi lautan luas, sepertinya itu Selat Malaka. Aku terus dibawa oleh pusaran angin entah ke mana, sampai aku menemukan daratan lagi.

Kali ini kekuatan angin makin melemah, sampai akhirnya badai hilang, parasutku sudah berubah bentuk menjadi compang-camping. Aku melesat jatuh ke bawah, sangat cepat. Braaaaaaakkkkkk! Aku menghantam atap sebuah auditorium, aku mengerang, sepertinya lengan dan beberapa rusukku patah.

Eranganku bahkan sampai menggaung, tapi hiruk pikuk di bawah seakan tidak peduli, orang-orang sedang asyik berkumpul di sebuah panggung terbuka. Aku masih sempat melirik ke pusat keramaian, terpampang besar sebuah spanduk dengan tulisan yang besar pula, “Pentas Seni Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara”, aku ada di Medan.

Kemudian sound puluhan ribu watt bergemuruh, terdengar suara lengkingan yang sama persis dengan yang aku dengarkan ketika sedang berparasut, mataku terpejam tak kuasa menahan sakit. Lengkingan itu masih tetap terdengar, teratur dan senada dengan birama, dari klimaks perlahan berubah makin pelan, makin lembut sampai berubah menjadi sebuah bisikan, bisikan yang juga tidak asing bagiku, bisikan Eleanor. Seketika itu pula aku terjaga.

Ini adalah sebuah cerita pagi di mana aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun, terjaga, menghadap monitor, menyentuh tuts keyboard, lalu melamun lagi, terjaga lagi, menghadap monitor lagi, menyentuh tuts keyboard lagi sambil meresapi murungnya Eleanor Whisper dari Korine Conception.

Aku masih dalam keadaan sadar karena aku tak mampu lagi membeli piranti terbang yang harganya melonjak naik puluhan persen. Mungkin kali ini waktunya untuk mengganti kebiasaan itu, mudah-mudahan bukan sekedar mitos. Dan mengenai pertanyaan-pertanyaan yang masih saja berkecamuk mungkin akan selalu kutanggapi dengan cara melamun, karena melamun adalah satu-satunya cara bijak yang aku ambil ketika otak sudah tidak mampu berpikir mencari jawaban.

Aku ingin kesadaran, aku juga butuh pencerahan. Ingin rasanya kembali pada masa di mana kicau burung masih ramai bersahutan, udara masih terasa sejuk, dan sinar mentari sedikit meraba muka dari pusatnya yang mulai merangkak naik dari balik bukit, mengulang memori dan lalu memperbaiki kesalahan.




090410, 05:34 am

--------------------------------------------------------

Gambar diambil dari sini




No comments:

Post a Comment