April 7, 2010

Bawa Aku ke Sana, ke Malino!

Pernah aku terlibat perbincangan seru bersama rekan kerja membahas tentang keindahan alam yang masih tersimpan di bumi nusantara ini. Aku dengan bangganya menceritakan masa kecilku ketika hidup di kaki Bukit Barisan paling selatan Sumatera. Bersama teman sepermainan menyusuri jalan setapak membelah kebun kopi belakang rumah, berkilo-kilo meter, melintasi hutan damar sampai bertemu anak sungai yang jernih dengan bebatuan besar di daerah alirannya. Tanpa pandang bulu kami pun buka baju, buka celana, telanjang bulat lompat menuju kesegaran yang benar-benar alami, berenang di kali. Menjelang Ashar kami pun pulang, tidak lupa lebih dahulu mencari daun pandan pesanan Ibu untuk campuran bubur kacang hijau yang akan disantap sepulang mengaji.

Serasa tidak mau kalah, temanku yang asal Makassar pun unjuk cerita tentang masa kecilnya pula. Pernah hidup di daerah Gowa ketika sekolah dasar karena sang ayah yang dipindah tugas ke sana.

“Kamu tau Malino? Dulu aku pernah tinggal di sana 5 tahun waktu SD.”

Dia bercerita tentang kebiasaannya dulu bersama teman-teman SD-nya. Bermain di kebun teh, mencuri markisa, mandi di air terjun, menjelajahi hutan cemara dan menyewa kuda sembari menikmati udara pegunungan yang dingin. Tersirat sebuah kerinduan dari mimik mukanya. Rindu akan keindahan alam. Dan di akhir cerita, temanku itu mengucapkan sebuah kalimat dengan lantang: “Malino itu surganya Sulawesi, Puncak kalah deh, yang bisa nyaingin cuma Dieng!”

Berpetualang adalah kebiasaan bagi orang-orang yang mempunyai masa kecil di daerah pedalaman, bisa dilihat dari benang merah antara kebiasaanku dan kebiasaan temanku itu di masa kecil. Yang ada dalam benak hanya senang-senang, tak peduli besarnya resiko yang akan menghadang. Padahal alam masih sangat liar, ada temanku yang pernah hilang terseret arus sungai ketika hujan deras, ada pula ayah temanku yang pernah melihat sekilas Harimau Sumatera di hutan. Tapi tetap saja, jiwa anak kecil adalah jiwa serba ngga mikir, kami terlalu asyik menikmati permainan sampai tidak mempedulikan resiko, walaupun sebenarnya orang tua kami sudah sangat was-was menanti di rumah ketika kami sedang berpetualang.

Kembali ke Malino, aku penasaran dengan daerah itu. Yang aku tahu Malino adalah tempat diselenggarakannya konferensi dalam rangka membentuk Negara Indonesia Timur pada tahun 1946, bernama Konferensi Malino. Sesampainya di kost langsung kunyalakan komputer kemudian browsing lewat google langsung dengan kata kunci Malino. Kutemukan berbagai artikel dan gambar tentang suasana alam Malino yang telah disebut surga oleh temanku itu. Hamparan pegunungan, perkebunan teh, hutan cemara dan pinus, edelweiss, fauna khas Sulawesi, air terjun yang bertingkat-tingkat, kebun hijau sayur mayur, dan mungkin ada beberapa jasa wisata lain yang belum aku tahu karena belum melihatnya sendiri. Aku takjub ketika melihat gambar-gambar pemandangan dari salah satu situs wisata yang mencoba mempopulerkan Malino. Memperlihatkan sebuah perpaduan menarik antara wisata flora dan fauna. Terbesit keinginan untuk merasakan sendiri perpaduan tersebut, apakah seindah seperti yang telah digambarkan oleh situs. Mudah-mudahan bukan sekedar mitos.

mari rasuk

bila kau rindu

aku ‘kan datang segera

senada

http://redorchid.wordpress.com

(The Trees and The Wild - Malino)

-----------------------------------------------------------------------------------

Sumber: http://liburan.info, http://wisataloka.com/pelesir/malino-pesona-yang-tak-melekang

No comments:

Post a Comment