April 28, 2010

Senang Bersamamu

Sepasang pria dan wanita dengan jarak umur yang hanya berbeda beberapa tahun antara keduanya terlibat sebuah adegan panas pada ranjang ukuran 3x4. Si pria kelihatan begitu ambisius, disergapnya tanpa ampun lawan jenis di bawahnya. Si wanita tampak merintih namun matanya tak bisa bohong, tersimpan kenikmatan di dalamnya.

Adegan berhenti seketika, seperti ada meriam meledak dahsyat dan pelurunya siap menghantam sebuah bidang yang tegak lurus dihadapan, namun sayang peluru tak sampai pada sasaran karena tertahan bahan sintetis. Keduanya tersengal-sengal nafas tak beraturan.

“Gua Joni”

“Kenapa baru sekarang lo sebut nama? Kenapa ngga dari tadi pas gue baru masuk kamar? Langsung sergap aja sih lo! Hahaha.. “

“Halah, sama aja. Mau tadi mau sekarang yang penting gua sebut.”

“Ya beda dong ah. Kalo di awal tadi kita saling kenalan dan bisa ngobrol enak, maennya juga pasti lembut, ngga bakal kasar kayak tadi.”

“Gue Susi.” sembari beranjak dari tempat tidur kemudian merapikan pakaian.

“Yeee, iya gitu? Ngga ngaruh ah! Asli mana?”

“Penting ya?” disambarnya beberapa lembar uang seratus ribuan di atas bantal lalu pergi ke arah pintu.

“Eh mau ke mana?”

“Cabut udah jam segini, besok ujian skripsi!”

“Eh nomer hp!”

“Hey, gue punya agen, pesen gue lewat situ aja ya. Hihii… “

Susi menghilang dari pandangan Joni, sementara dirinya masih bengong meratapi kepergian gadis yang baru saja dia gagahi itu. Terpancar rona pesona dari wajah Susi, dan sepertinya Joni tertarik.

Joni, umur 29 tahun lulusan magister ekonomi University of London, adalah lajang sekaligus pria pekerja keras, di umurnya yang baru akan mencapai tiga puluh dia sudah diberi kepercayaan oleh keluarga untuk memimpin sebuah perusahaan.

Dan memang betul, Joni tertarik dengan Susi. Menurutnya, Susi berbeda dengan beberapa wanita yang pernah dia “beli”, kali ini tampilannya tidak ber”make-up” dan tanpa balutan rok mini. Susi sangat simple dengan sepatu kets, kaus oblong dan celana jeans skinny. Dan bahkan Joni pun salut dengan wanita ini, di sela-sela pekerjaannya yang menguras energi dia masih sempat memikirkan ujian skripsi.

Seminggu berlalu dan Joni masih saja terbayang sosok Susi yang adalah pekerja seks yang dipilihkan oleh salah satu koleganya. Kali ini Joni semakin penasaran, ingin dia tahu lebih dalam siapa Susi dan latar belakangnya dibalik sikap cueknya beberapa hari lalu.

Begeraklah Joni menghubungi agen penyedia jasa pemuas birahi tempat Susi bekerja. Dan memang benar, nama Susi ada dalam daftar menu. Harga sudah sepakat dan hotel sudah dipesan, Joni tak sabar menunggu esok hari.

Di tempat lain, Susi sedang asyik bercengkerama dengan teman-temannya di salah satu café daerah Kemang. Sekaligus merayakan kelulusannya satu minggu lalu.

Susi adalah sosok cerdas dengan pribadi menarik dan suka sepakbola. Umur 22 tahun dan baru saja lulus dari Universitas Indonesia jurusan Sosiologi dengan indeks prestasi di atas tiga koma lima, kemampuan bahasa Inggrisnya pun di atas rata-rata.

Ketika sedang asyik bercanda ria tiba-tiba selular Susi berdering.

“Halo, gimana bang?”

“Ada pesenan tuh besok malem, di Nikko”

“Jam berapa?”

“Jam 8, yang mesen pengen sekalian dinner katanya”

“Ok ok, sip lah.”

Tiba pada hari yang telah ditentukan. Joni sengaja tidak pulang kantor, mengingat rumahnya yang jauh di Jakarta Timur. Kebetulan perusahan asuransi yang Joni pegang juga berada di bilangan Thamrin, tidak jauh dari hotel tempat dia dan Susi akan bertemu nanti.

Jam menunjukkan pukul 19.50 dan Joni sudah duduk pada restorasi hotel di lantai satu. Kira-kira lima belas menit kemudian nampak sosok wanita dari pintu utama, kepalanya sibuk menoleh ke sana ke mari seperti sedang mencari-cari sesuatu.

Joni hafal raut wanita itu, di panggilnya dengan nada setengah tinggi.

“Sus… Susi!”

Wanita itu menoleh kemudian menghampiri sumber suara.

“Yaelah, elu Jon. Ketagihan ya sama gue?” setengah berbisik

“Biasa aja. Lah kenapa dandan segala sih? Gua kan pengen liat gaya casual lo.”

“Katanya pake dinner, yaudah gue dandan, biar keliatan elit.”

“Haha..Elit mah kagak pake shopping bag model begitu.”

“Yee biarin aja kali, biar ngga keliatan kayak emak emak.”

Mereka berdua terlihat akrab walau baru dua kali bertemu, larut ke dalam canda tawa sembari menikmati hidangan malam penggugah selera.

Tampilan Susi agak berbeda malam itu, dia mengenakan gaun selutut, tas bergambar burung hantu yang lebih mirip shopping bag, berkalung iPod dan dengan wajah sedikit berbalut make-up. Berbeda terbalik dengan Joni yang berusaha tampil casual dengan celana jeans dan jaket sport. Tapi mereka tidak peduli akan keadaan mereka yang salah kostum tersebut.

“Dengerin apa lo?” Joni bertanya sambil meraih headset dari telinga Susi.

Tak sempat Susi menjawab.

“Eh buset, Bombay Bicycle Club*!”

“Kenapa emang? Gue suka gara-gara mereka dari North London.”

“Kagak ngapa-ngapa sih. Ada apa sama North London?

“Gue suka Arsenal.”

“Wow rival kita!” Joni meraih tangan Susi untuk dijabat. “Gua Tottenham!”

Lalu mereka beranjak dari restorasi menuju kamar. Selama perjalanan mereka masih asyik berbincang tentang sepakbola yang mereka idamkan.

“Ha ha ha, anjir! Ada ya di Indonesia yang ngebela tim kacrut itu. Gimana ceritanya lo bisa demen Spurs?”

“Eh jangan asal ngemeng lo, Arsenal kemaren kalah ya sama Spurs.”

“Ha ha ha, baru kemaren doang. Terus gimana itu ceritanya lo bisa demen sama itu klub bola?”

“Tadinya gua ngga demen sama sekali sama liga Inggris. Cuma pas gua S2 gua tinggal deket the lane* terus sering masuk itu stadion diajakin temen serumah nonton Spurs, dan keseringan, akhirnya suka”

Susi menghentikan langkah di pintu kamar, mengurungkan niat sejenak untuk melangkah masuk. Sedikit bernada kaget dia bertanya:

“Lo S2 di London? University of London?”

“Iya, kenapa emang?” Joni menanggapi biasa saja.

“Asik gue kencan sama orang berpendidikan.”

“Kampret, emang selama ini lo kira gua apaan?”

“Orang yang cuma bisa buang-buang duit dari warisan keluarga. Hehe.”

“Perusahaan gua emang punya keluarga, tapi tetep gua ngebayar lo pake duit hasil gua kerja!”

“Dan lo adalah seorang direktur? Haha kayaknya lo gue panggil mas aja deh atau pak.”

“Yee jangan, umur juga baru mau tiga puluh, masih cocok dibilang anak muda.”

Obrolan kemudian berpindah ke atas ranjang. Apa saja muncul ke permukaan, sepakbola, musik, film, novel, dan tema-tema anak muda lainnya. Dan Joni seperti mendapat lawan bicara yang seimbang, karena Joni menganggap dirinya tidak terlalu tua untuk membahas masalah-masalah tersebut.

Susi beranjak dari tempat tidur. Kemudian dibuka resleting bagian punggung gaunnya secara perlahan.

“Eh ntar dulu! Gua masih pengen ngobrol. Besok ngga sibuk kan lo? Temenin gua all night long ya.”

Ditariknya kembali resleting ke atas, dan Susi kembali ke tempat tidur.

“Ngga ada kerjaan sih besok.”

“Bagus, gua bayar double deh.”

Joni menunjukkan mimik muka sumringah, dia sudah menemukan titik nyaman dengan Susi. Dan tidak dapat dipungkiri sudah terbentuk garis penghubung imajiner yang bernama chemistry. Susi pun begitu, dia suka akan tingkah Joni yang masih seperti pemuda sebayanya. Berbicara musik, film dan novel di sela-sela kesibukannya sebagai direktur.

Susi pun menilai bahwa Joni berbeda dari orang-orang kaya yang pernah dia layani. Joni aktif membuka obrolan, dan dia kelihatan lebih respect dibanding yang lain. Dan latar belakangnya yang merupakan lulusan universitas ternama di London membuatnya semakin interest, karena kebetulan kota itu adalah obsesinya dan melanjutkan studi di universitas itu adalah cita-citanya.

“Eh gimana ujian skripsi kemarin?”

“Sangat lancar, dapet A gue.”

“Buset..Jago juga lo!”

“Hey jangan nilai orang dari tampilan luar doang makanya, gue gini-gini ngga bego-bego amat kali.”

“Ngga juga sih, dari awal juga gua udah nilai lo beda dari yang lain. Dan ternyata bener, lo pinter.”

“Hahaha, sudah cukup pujiannya mas?”

Malam semakin larut dan ada saja obrolan sebagai pemecah jenuh. Pekik tawa bergelora merusak hening, berbagai kelakar muncul sebagai bumbu-bumbu malam. Akhirnya canda terhenti pada dua dini hari. Obrolan berubah menjadi serius ketika Joni mulai mengorek latar belakang Susi.

“Yang bikin lo kerja ginian apaan, Sus?”

Susi terkaget. Benaknya bicara, “Apa mau pria ini?”

“Maksud lo apaan?”

“Tenang, just ask, kalo ngga mau jawab ya udah. Lo kan tau gua bukan wartawan?”

Susi menghela nafas panjang. Dia tarik udara pada rongga dada kuat-kuat sebanyak dua kali. Berpaling sejenak dia dari pandangan Joni, lalu kembali pada posisi semula dan angkat bicara.

“Sinetron, kisah gue sinetron.”

“Maksudnya?”

“Orang tua gue cerai, gue ikut nyokap, terus gue kabur, terus bingung gimana biar bisa hidup, akhirnya ya kerja ginian. Klise kan? Tapi ini pilihan gue, yang nanggung ya gue, salah-benar terserah gue, apa pun itu cuma gue yang berhak ngatur. Dan ketika lo coba menyanggah dengan bilang apa yang gue lakuin ini salah, jawabannya ya tetep balik lagi kepada pilihan. Mungkin gue kurang dewasa, menyikapi kekecewaan gue sama orang tua dengan cara kabur, tapi ya udah kejadian mau di apain lagi coba? Yang jelas suatu saat gue pasti ninggalin pekerjaan ini, apalagi gue udah mau wisuda, gue bakal cari pekerjaan yang lebih layak.”

Joni sedikit tercengang. Lalu dia mencoba memberi solusi bijak.

“Ya, pelik memang. Tapi menurut gua kalo lo terus-terusan di Jakarta, gua ngga yakin lo bakal ninggalin pekerjaan ini, lo udah terjebak dan ngga bakal bisa lari, apalagi lo ini asset berharga, ke mana pun lo pergi pasti diikutin, kecuali lo perginya yang jauh sekalian.”

“Ya tapi ke mana?”

“Gimana kalo lo gua biayain S2 di London, gua tau lo pengen kuliah di sana. Untuk biaya hidup bisa lo cari sendiri, gua yakin lo bisa survive.”

Tak ada percakapan lagi kemudian.

Singkat cerita. Susi menerima tawaran Joni. Segala persiapan diurus termasuk paspor, dan beberapa bulan kemudian Susi berangkat ke Inggris, dan berhasil masuk program magister di School of Oriental and African Studies, University of London.

Dia juga mendapat induk semang yang sangat baik, yang mengantar dia kepada seorang pemilik toko buku yang kemudian menjadikannya sebagai karyawan. Dan setelah lulus tiga tahun kemudian, dia menikah dengan salah satu anak pemilik buku tempat dia bekerja.

Bersama suami, Susi meneruskan usaha mertua dengan membuka sebuah toko buku di wilayah Ashburton Grove*. Di tiap akhir pekan dia bersama suami selalu menyempatkan diri menyambangi Emirates Stadium demi menyaksikan klub kebanggaan mereka bertanding, Arsenal FC. Dan ketika senggang dia juga menyibukkan diri dengan menulis.

Dua tahun kemudian Susi dianugerahi seorang anak laki-laki, dia beri nama Joni, “Joni Adams”. Nama Joni dipakai tentu saja untuk mengenang pria baik di Jakarta sana yang juga hobi main wanita, yang sudah membantu merubah garis hidupnya dari suram menuju cemerlang. Sedangkan nama Adams, tidak jauh-jauh juga dari Arsenal, diambil dari nama belakang defender sekaligus captain legendaris klub tersebut pada periode 90an, Tony Adams.

Apakabar Joni? Om Joni tepatnya, karena umurnya sekarang merayap ke angka tiga puluh lima. Om Joni tetaplah Joni, Joni seperti ketika bertemu dengan Susi pertama kali. Seorang milyarder yang masih tetap melajang dan selalu suka menyambangi rumah bordir ketika senggang. Itu pilihan dia, dan mungkin, ketika dia sudah mendapati titik sadar, dia akan membiayai orang-orang disekitar rumahnya untuk naik haji.

Pertemuan antara Joni dan Susi tentu saja meninggalkan kesan antara keduanya. Bagi Joni, Susi adalah satu-satunya pekerja seks cerdas yang pernah dia temui. Sebaliknya bagi Susi, Joni adalah pahlawan.

Di sela-sela kehidupan mereka yang sibuk, mereka tetap berkorespondensi menggunakan surat elektronik. Dan khusus bagi Susi, setiap dia menulis cerita kepada Joni, dia selalu mencantumkan kutipan yang sama pada halaman akhir surat-suratnya,

Senang pernah bersamamu walau sebentar”.

Hingga pagi pun mau

Bila oh denganmu

Karena ku selalu

Senang bersamamu

(Naif – Senang Bersamamu)

---------------------------------------------------

Sebuah cerita pendek yang tidak pendek

  • Bombay Bicycle Club adalah Band Indierock dari London Utara
  • The Lane adalah nama lain “White Heart Lane” kandang Tottenham Hotspur, juga di London Utara
  • Ashburton Grove adalah sebuah wilayah di London Utara, tempat Arsenal FC berasal

April 26, 2010

Bicara Profesional

"banyak cerita dalam remang"

Pada gang sempit depan stasiun

Pukul 00.30. Boncel dari depan stasiun berjalan kaki ke arah jalan raya. Di seberang, Anto berdiri di mulut sebuah gang sembari menenteng plastik hitam.

“Opo kuwi?”

“Sunrise”

“Bajigur, aku bar nyantoso lek!”

“Halah cuma sepaket, gw tadi juga habis ngamer sama anak kost”

“Sik, warung sik, tuku rokok”

Dari sebuah mini market sebelah gang mereka berdua merangsek masuk ke mulut gang. Baru sekitar sepuluh langkah mereka dihadang oleh wanita paruh baya berparas menor.

“Ayo mami cariin yang paling gress”

“Ora bu!”

“Mau lihat-lihat dulu aja tante”

Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Paha mulus, belahan dada besar terpampang di kanan kiri tanpa etalase, jangan sekali-kali berniat sentuh karena bisa jadi bahan bulan-bulanan kepal tinju preman stasiun. Cukup mata saja yang menikmati, urusan sentuh-menyentuh adalah nanti ketika sudah bersepakat dengan harga.

Sampai mereka pada ujung gang, duduk kemudian pada kursi panjang sebuah warung nasi kucing.

“Wah ke mana aja mas?”

“Bar ujian semester pak, he he”

“Iya pak habis ujian”

“Bagus, kuliah sing sregep yo cah!”

“he he he” Anto dan Boncel meringis.

“Ayo pak ngombe, sunrise!”

“Wah ini nih yang bikin rusak mood jualan, ha ha ha!”

“Ha ha ha…!” Tawa mereka bertiga semakin menggelegar.

Mereka bertiga adalah sekawan yang dipersatukan oleh ruang, ruang yang kelihatan biasa saja ketika siang dan menjadi gemerlap ketika malam. Di waktu yang lain mereka punya kesibukan masing-masing.

Boncel adalah pribumi sekaligus mahasiswa jurusan teknik sipil dari universitas swasta berlabel Muhammadiyah. Anto adalah mahasiswa rantau dari Jakarta yang kuliah ekonomi di universitas negeri ternama. Dan bapak penjual nasi kucing adalah warga sekitar stasiun yang lebih memilih menjual makanan daripada menjual anak gadisnya.

“Wah mumet sirahku pak”

“Cari lobang dulu pak”

“Yoh, sana mumpung masih bisa ngaceng. Bawa salak ndak?

“Nih pak, pondoh, ha ha ha!”

Boncel dan Anto pergi meninggalkan penjual nasi kucing.

“Mau ke mana lo, Cel?”

“Mbak Yayuk”

“Ngga bosen apa?”

“Iyo sajake. Lah kowe?

“Ke depan, ada yang bening”

“Yo wes, manut.”

Tidak lama mereka sudah sampai pada losmen kecil kira-kira 20 meter dari mulut gang. Anto langsung masuk ke dalam, menghampiri sosok perampuan berparas tiga puluhan. Sementara Boncel masih berdiri di depan sambil matanya sibuk melirik ke sana ke mari, liar.

Luput sebentar pandangannya dari Anto, tiba-tiba sosok pemuda Jakarta bertubuh ceking itu sudah hilang bersama perempuan yang diajaknya berbincang tadi. Boncel lalu duduk di kursi pada teras losmen sambil matanya melihat ke dalam, mencari tubuh mana yang akan dia gagahi.

Baru sebentar Boncel duduk tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari dalam.

“Asu! Bayar mas!”

“Ogah! Buka baju dulu!”

“Bajingan..Asu! Pengen mati kowe mas!”

Anto berlari ke pintu losmen, lalu menghampiri boncel

“Ayo cel cabut!”

“Lah ngopo? Aku belum dapet ee, To.”

“Udeeh, daripada remuk kita dipukulin orang sini. Ntar gw ceritain.”

Anto dan Boncel berlari-lari kecil ke arah mulut gang, menyeberangi jalan raya menuju tempat di mana kendaraan mereka diparkir.

“Motor lo di mana, Cel?”

“Aku ora nggowo, tadi aku dianter og, numpang kowe yo!”

Anto dengan mantap menancap gas meninggalkan halaman stasiun bersama boncel. Boncel yang masih bingung dengan kejadian tadi tentu saja tidak mau diam saja.

“Tadi ada apa toh, To?”

“Wah anjing itu lonte, masa gw udah telanjang bulet dia cuma mau buka bawahnya doang.”

“Ha ha ha, goblok!”

“Kalo mau dibayar harus servis total dong!”

“Njut piye? Kentang iki, samsat wae cah”

“Bangsat, ogah gw! Lo aja sono maenan sama bencong!”

“Serius aku cah, nek kowe ora gelem aku wae. Ayo anter!”

Pada toilet sekolah menengah

Sampai mereka pada bunderan depan Kantor Samsat, dari arah barat mereka berbelok ke utara melawan jalur normal. Lalu berhenti di depan sebuah sekolah menengah pertama.

“Gw parkir sini aja. Lo masuk sendiri sono!”

“Yoh, setengah jam yo, ha ha ha!”

Boncel berjalan ke arah gerbang sekolah, dihampirinya sekelompok manusia yang lebih mirip humanoid kloningan berbetis besar. Tahu lah jenis manusia apa itu. Didekatinya yang berbadan kurus dengan paras yang jauh dari sisi maskulin.

“Piro?” Boncel membuka negosiasi.

“Seket ewu yo mas, hi hi”

“Asu, larang banget, iki rung puluh ewu!” Boncel menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribuan kepada orang itu.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju pojok sekolahan, lalu masuk ke dalam sebuah toilet dengan pencahayaan ala kadarnya. Tidak lama kemudian, sekitar dua puluh menit Boncel keluar dengan mimik muka yang …, ha ha, deskripsikan sendiri. Berjalan santai dia ke depan sekolah menemui Anton.

“Anjir, cepet aja lo!”

“Ha ha, ho oh ki, dahsyat servisane”

“Ha ha ha, muke lo, Cel! Najis.”

“Iki baru profesional, To! Ngga kena gigi.”

“Ha ha ha!

Mereka berdua pergi meninggalkan sekolah, menembus remang-remang lampu kota pada dini hari yang dinginnya sampai menusuk tulang.

-----------------------------------------------------------------------------------

Ketika kata “profesional” jarang ditemukan pada kehidupan normal di siang hari, datanglah pada gelap malam, belajar pada waria. (ha ha ha, sinting)

Gambar diunduh di sini

April 10, 2010

Ketika Regina Spektor Berganti Rupa Menjadi Wanita Indo-Jepang dan Berbahasa “medhok” Jawa


Hahaha… Judul yang saya pilih catchy bukan, atau ketci? Ok, whatever lah. Di sini saya akan melanjutkan cerita tentang kegiatan yang saya lakoni kemarin, 090410. Diawali dengan cerita pagi yang telah saya publish lebih dulu, kali ini langsung melompat menuju petang karena siang harinya saya tidak beraktivitas selain tidur pulas.


Sekitar pukul setengah enam sore lebih sedikit, saya terbangun dari tidur panjang. Komputer masih menyala sedari malam, Bombay Bicycle Club pun masih bersenandung dengan volume maksimal. Tidak lama kemudian suara burung berkicau menghantarkan sebuah mention dari seorang teman,


“Nonton Frau ga di Djendelo?”


Saya jawab “Wah ayo, jam berapa?”


Lalu percakapan kami pun pindah jalur ke media cellular dan kami bersepakat harus sudah sampai venue pukul tujuh malam. Kemarin malam terdapat sebuah gelaran di sebuah cafe vintage di Yogyakarta bernama Djendelo Koffie di mana Frau melounching albumnya yang telah rilis pada 11 Maret 2010, Starlit Carousel.


Pukul tujuh malam lebih sedikit saya sudah mencapai venue dan langsung merasuk ke dalam bersama seorang teman, takut gak bisa duduk. Ternyata di dalam belum terlalu penuh dan masih menyisakan beberapa kursi. Melihat di information board ternyata Frau tidak tampil sendiri, ada dua band yang menjadi pembuka gelaran tersebut, Sophie dan Koala.


Kira-kira pukul delapan malam Sophie membuka gelaran yang sangat minimalis sekaligus eksotis tersebut. Berjumlah empat orang yang tampil dan apabila dilihat secara umur, mereka ini termasuk golongan tua. Ya, Sophie sudah eksis di dunia permusikan Yogyakarta sejak 7-8 tahun silam. Tampil secara akustik membawakan lagu-lagu mereka yang sempat hits seperti “bawakan aku bunga” dan “pejuang asmara”.


Penampilan berikutnya disisi oleh Koala, sekelompok pemuda-pemudi bertalenta yang mungkin akan menggebrak suatu saat, melihat kepiawaian mereka dalam bermusik. Memainkan musik pop sedikit bernuansa jazz dengan karakter vokal yang anggun. Menggebrak venue dengan lagu cover “simple overture” milik White Shoes and The Couples Company juga “sabda alam” milik Ismail Marzuki yang kemudian dilanjutkan dengan lagu-lagu mereka sendiri.


Semakin malam semakin banyak pengunjung yang datang, bahkan ada yang rela berdiri atau duduk lesehan di lantai, suasana ruangan pun menjadi panas. Kira-kira pukul sembilan kurang Koala mengakhiri performance-nya.


Dan akhirnya penampilan dari Frau yang sudah sangat dinanti-nanti akan dimulai. Pembawa acara hanya berfungsi sebagai aktor pantomim karena semuanya hanya tertuju pada Frau, seluruh gerak tubuh dari gadis anggun berambut ikal yang bernama asli Leilani Hermiasih ini diperhatikan sangat detail oleh penonton.


Masuk dari arah depan area utama, melewati para penonton, membawa pula dua cangkir yang entah itu teh atau coklat panas, sontak suara tepuk tangan bergemuruh. Cangkir diletakkan di meja, menyapa dengan ramah para penonton dan kemudian tanpa basa-basi jari-jemarinya menjamah Oskar yang sudah terlentang di hadapannya. “i’m a sir” adalah lagu pembuka yang dilanjutkan dengan hits-hits lain, “glow”, “intensity, intimately”, dan “mesin penenun hujan”.


Penonton diberi kejutan yang sangat spesial ketika Frau mengajak Nadya Octaria Hatta untuk berkolaborasi membawakan “salahku, sahabatku”. Nadya adalah sosok bertalenta lain yang bisa dibilang senior Frau dalam scene indie Jogja, jari lentiknya ketika menyentuh tuts keyboard dapat menghanyutkan siapa saja menuju space luar angkasa tanpa batas, pengalamannya sudah sangat terasah melalui Armada Racun dan Individual Life. Penonton pun orgasmic, duet luar biasa dalam menjamah Oskar.


Dan khusus ketika Frau memainkan “i’m a sir”, saya seakan berimajinasi sedang bercinta dengan Regina Spektor pada padang rumput luas nan hijau, Frau berhasil membuat saya klimaks di awal. Dan gelaran pun ditutup ketika sebuah tembang cover dari Melancholic Bitch yang berjudul “sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa” dimainkan. Frau berhasil membuat penonton puas.


Berikut beberapa dokumentasi yang secara beruntung saya dapatkan dari sebuah mesin pencari. Karena saya tidak punya kamera untuk media rekam:







Jogja, 10 April 2010

*Oskar adalah keyboard kesayangan Frau

Gambar diunduh dari sini

April 9, 2010

Cerita Pagi





Pernahkah kalian menjadi munafik atau hipokrit atau apa lah yang intinya adalah kalian ingin merubah sesuatu tetapi masih terjebak ke dalam lingkaran mitos? Bagaimana caranya agar dapat keluar dari jebakan itu? Apakah hanya cukup dengan sekedar niat? Lalu di mana letak pentingnya motivasi? Ini adalah beberapa pertanyaan yang sering berkecamuk dalam benak, hingga tak kuasa aku mengolah daya pikir, dan akhirnya lebih memilih melamun.

Pagi ini begitu abu-abu, awan mendung di atas sana pun bukan biru, hari ini sudah pasti kelabu, dan hanya mental yang sedang biru. Pernah terbayang untuk melompat dari menara kembar Petronas? Aku pernah, dan yang aku bayangkan adalah nikmatnya bungee-jumping dari menara tersebut, lalu ikatan di kaki tiba-tiba lepas, tapi aku sudah siap dengan parasut, parasut terkembang, wow aku melayang.

Aku masih sempat menyalakan mp3, berparasut sambil mendengarkan lagu adalah keren, kemudian nada-nada mengayun bersamaan dengan lengking, lengking itu sangat khas, meniru lengking pria homo dari Islandia. Tidak sadar aku hampir mencapai setengah dari tinggi menara itu, jatuhku tidak vertikal karena parasut sukses meredam gravitasi, tapi tiba-tiba badai besar datang dari Kuala Lumpur bagian timur.

Dalam hitungan detik aku terhempas ribuan kilometer, karena ketika aku menyempatkan membuka mata untuk melihat ke bawah, tiba-tiba daratan berubah menjadi lautan luas, sepertinya itu Selat Malaka. Aku terus dibawa oleh pusaran angin entah ke mana, sampai aku menemukan daratan lagi.

Kali ini kekuatan angin makin melemah, sampai akhirnya badai hilang, parasutku sudah berubah bentuk menjadi compang-camping. Aku melesat jatuh ke bawah, sangat cepat. Braaaaaaakkkkkk! Aku menghantam atap sebuah auditorium, aku mengerang, sepertinya lengan dan beberapa rusukku patah.

Eranganku bahkan sampai menggaung, tapi hiruk pikuk di bawah seakan tidak peduli, orang-orang sedang asyik berkumpul di sebuah panggung terbuka. Aku masih sempat melirik ke pusat keramaian, terpampang besar sebuah spanduk dengan tulisan yang besar pula, “Pentas Seni Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara”, aku ada di Medan.

Kemudian sound puluhan ribu watt bergemuruh, terdengar suara lengkingan yang sama persis dengan yang aku dengarkan ketika sedang berparasut, mataku terpejam tak kuasa menahan sakit. Lengkingan itu masih tetap terdengar, teratur dan senada dengan birama, dari klimaks perlahan berubah makin pelan, makin lembut sampai berubah menjadi sebuah bisikan, bisikan yang juga tidak asing bagiku, bisikan Eleanor. Seketika itu pula aku terjaga.

Ini adalah sebuah cerita pagi di mana aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun, terjaga, menghadap monitor, menyentuh tuts keyboard, lalu melamun lagi, terjaga lagi, menghadap monitor lagi, menyentuh tuts keyboard lagi sambil meresapi murungnya Eleanor Whisper dari Korine Conception.

Aku masih dalam keadaan sadar karena aku tak mampu lagi membeli piranti terbang yang harganya melonjak naik puluhan persen. Mungkin kali ini waktunya untuk mengganti kebiasaan itu, mudah-mudahan bukan sekedar mitos. Dan mengenai pertanyaan-pertanyaan yang masih saja berkecamuk mungkin akan selalu kutanggapi dengan cara melamun, karena melamun adalah satu-satunya cara bijak yang aku ambil ketika otak sudah tidak mampu berpikir mencari jawaban.

Aku ingin kesadaran, aku juga butuh pencerahan. Ingin rasanya kembali pada masa di mana kicau burung masih ramai bersahutan, udara masih terasa sejuk, dan sinar mentari sedikit meraba muka dari pusatnya yang mulai merangkak naik dari balik bukit, mengulang memori dan lalu memperbaiki kesalahan.




090410, 05:34 am

--------------------------------------------------------

Gambar diambil dari sini




April 7, 2010

Pasangan Jenius Itu Asal Indonesia

“Siapa pasangan terkeren menurut lo?”

“Ben Gibbard sama Zooey Deschanel”

“Avey Tare sama Kría Brekkan.”

“Halah jauh-jauh amat. Indonesia dong yang Indonesia!”

“Hmmm, siapa ya?”

“Kalo gw Iyub sama Anindita”

“Wow, gak kepikiran sampe ke situ gw, hahaha !”

(sedikit kutipan dari obrolan antara saya dan seorang teman di dunia maya)


Ben & Zooey

Sepasang suami-istri yang telah disebut pertama memang sangat layak diberi label terbaik terutama dalam dunia musik internasional. Di antara anak muda penggemar lagu-lagu rare, siapa yang tidak tahu Benjamin “Ben” Gibbard yang sukses dengan Death Cab for Cutie dan The Postal Service. Lalu siapa pula yang tidak kenal Zooey Deschanel, sang vokalis cantik She & Him yang juga merangkap sebagai aktris film yang juga terkenal karena aktingnya dalam beberapa film termasuk (500) Days of Summer. Kedua seniman tersebut resmi menjadi suami-istri pada sepertiga akhir 2009 kemarin.

Avey & Kria

Kemudian pasangan kedua, Avey Tare dan Kría Brekkan, pun sangat populer. Avey yang terlahir sebagai David Portner 30 tahun silam merupakan sosok jenius dari band eksperimental Animal Collective yang juga piawai memainkan instrumen synthesizer, gitar, dan perkusi. Dan istrinya, Kristín Anna Valtýsdóttir “Kría Brekkan”, pun tidak kalah jenius. Wanita lucu berbahasa Islan ini adalah seorang multi-instrumentalis yang selalu menghasilkan nada-nada atmospheric dalam setiap permainan piano atau accordionnya. Pernah menjadi salah satu otak dari band Icelandic bernama Múm yang beberapa lagunya dijadikan soundtrack andalan dari film “dingin” berjudul Wicker Park. Dan ketika memutuskan untuk keluar dari band tersebut pada 2006, dia melanjutkan kegiatan bermusiknya dengan bersolo karir dan juga membentuk duo “Avey Tare & Kría Brekkan” yang merupakan kolaborasi avant-garde ciamik dengan suaminya sendiri.

Namun, tidak melulu yang hebat dan jenius itu selalu berasal dari luar negeri, di Indonesia pun banyak yang pantas diberi label tersebut. Dunia musik avant-garde dalam negeri telah menghasilkan beberapa seniman berprestasi, salah satu contohnya adalah Santamonica. Band yang personil utamanya merupakan sepasang suami-istri, Joseph Saryuf dan Anindita. Pada awalnya band tersebut membawakan lagu-lagu yang sedikit berbau bossanova dan indiepop yang cenderung easy listening. Namun mereka merubah ke-easy listeningaannya itu kemudian dengan membuat format album yang sangat eksperimental bertajuk Curiouser And Curiouser, sebuah wonderalbum yang menjadikan Alice in Wonderland sebagai inspirasi.

Dita & Iyub

Album tersebut juga dirilis di Korea dan Jepang pada tahun 2009 dan melalui album itu pula Santamonica beberapa kali diundang oleh festival-festival musik di luar negeri, dan yang paling menggembirakan adalah ketika mereka berpartisipasi dalam Melody of life festival 2008 Bangkok yang merupakan festival bergengsi karena menyajikan banyak seniman alternatif dan independen dari berbagai negara. Lirik yang kuat, kepiawaian memainkan piranti musik elektronik, dan kemilau neon serta visual ketika live adalah kelebihan Santamonica yang menjadikan band ini dinanti-nanti oleh penggemar musik avant-garde di Indonesia bahkan Asia. Dan menurut saya, award “the best indie couple” rasa-rasanya cocok diberikan kepada mereka berdua, dan hal ini bukan tanpa alasan. hahaha.

Bawa Aku ke Sana, ke Malino!

Pernah aku terlibat perbincangan seru bersama rekan kerja membahas tentang keindahan alam yang masih tersimpan di bumi nusantara ini. Aku dengan bangganya menceritakan masa kecilku ketika hidup di kaki Bukit Barisan paling selatan Sumatera. Bersama teman sepermainan menyusuri jalan setapak membelah kebun kopi belakang rumah, berkilo-kilo meter, melintasi hutan damar sampai bertemu anak sungai yang jernih dengan bebatuan besar di daerah alirannya. Tanpa pandang bulu kami pun buka baju, buka celana, telanjang bulat lompat menuju kesegaran yang benar-benar alami, berenang di kali. Menjelang Ashar kami pun pulang, tidak lupa lebih dahulu mencari daun pandan pesanan Ibu untuk campuran bubur kacang hijau yang akan disantap sepulang mengaji.

Serasa tidak mau kalah, temanku yang asal Makassar pun unjuk cerita tentang masa kecilnya pula. Pernah hidup di daerah Gowa ketika sekolah dasar karena sang ayah yang dipindah tugas ke sana.

“Kamu tau Malino? Dulu aku pernah tinggal di sana 5 tahun waktu SD.”

Dia bercerita tentang kebiasaannya dulu bersama teman-teman SD-nya. Bermain di kebun teh, mencuri markisa, mandi di air terjun, menjelajahi hutan cemara dan menyewa kuda sembari menikmati udara pegunungan yang dingin. Tersirat sebuah kerinduan dari mimik mukanya. Rindu akan keindahan alam. Dan di akhir cerita, temanku itu mengucapkan sebuah kalimat dengan lantang: “Malino itu surganya Sulawesi, Puncak kalah deh, yang bisa nyaingin cuma Dieng!”

Berpetualang adalah kebiasaan bagi orang-orang yang mempunyai masa kecil di daerah pedalaman, bisa dilihat dari benang merah antara kebiasaanku dan kebiasaan temanku itu di masa kecil. Yang ada dalam benak hanya senang-senang, tak peduli besarnya resiko yang akan menghadang. Padahal alam masih sangat liar, ada temanku yang pernah hilang terseret arus sungai ketika hujan deras, ada pula ayah temanku yang pernah melihat sekilas Harimau Sumatera di hutan. Tapi tetap saja, jiwa anak kecil adalah jiwa serba ngga mikir, kami terlalu asyik menikmati permainan sampai tidak mempedulikan resiko, walaupun sebenarnya orang tua kami sudah sangat was-was menanti di rumah ketika kami sedang berpetualang.

Kembali ke Malino, aku penasaran dengan daerah itu. Yang aku tahu Malino adalah tempat diselenggarakannya konferensi dalam rangka membentuk Negara Indonesia Timur pada tahun 1946, bernama Konferensi Malino. Sesampainya di kost langsung kunyalakan komputer kemudian browsing lewat google langsung dengan kata kunci Malino. Kutemukan berbagai artikel dan gambar tentang suasana alam Malino yang telah disebut surga oleh temanku itu. Hamparan pegunungan, perkebunan teh, hutan cemara dan pinus, edelweiss, fauna khas Sulawesi, air terjun yang bertingkat-tingkat, kebun hijau sayur mayur, dan mungkin ada beberapa jasa wisata lain yang belum aku tahu karena belum melihatnya sendiri. Aku takjub ketika melihat gambar-gambar pemandangan dari salah satu situs wisata yang mencoba mempopulerkan Malino. Memperlihatkan sebuah perpaduan menarik antara wisata flora dan fauna. Terbesit keinginan untuk merasakan sendiri perpaduan tersebut, apakah seindah seperti yang telah digambarkan oleh situs. Mudah-mudahan bukan sekedar mitos.

mari rasuk

bila kau rindu

aku ‘kan datang segera

senada

http://redorchid.wordpress.com

(The Trees and The Wild - Malino)

-----------------------------------------------------------------------------------

Sumber: http://liburan.info, http://wisataloka.com/pelesir/malino-pesona-yang-tak-melekang