April 10, 2010

Ketika Regina Spektor Berganti Rupa Menjadi Wanita Indo-Jepang dan Berbahasa “medhok” Jawa


Hahaha… Judul yang saya pilih catchy bukan, atau ketci? Ok, whatever lah. Di sini saya akan melanjutkan cerita tentang kegiatan yang saya lakoni kemarin, 090410. Diawali dengan cerita pagi yang telah saya publish lebih dulu, kali ini langsung melompat menuju petang karena siang harinya saya tidak beraktivitas selain tidur pulas.


Sekitar pukul setengah enam sore lebih sedikit, saya terbangun dari tidur panjang. Komputer masih menyala sedari malam, Bombay Bicycle Club pun masih bersenandung dengan volume maksimal. Tidak lama kemudian suara burung berkicau menghantarkan sebuah mention dari seorang teman,


“Nonton Frau ga di Djendelo?”


Saya jawab “Wah ayo, jam berapa?”


Lalu percakapan kami pun pindah jalur ke media cellular dan kami bersepakat harus sudah sampai venue pukul tujuh malam. Kemarin malam terdapat sebuah gelaran di sebuah cafe vintage di Yogyakarta bernama Djendelo Koffie di mana Frau melounching albumnya yang telah rilis pada 11 Maret 2010, Starlit Carousel.


Pukul tujuh malam lebih sedikit saya sudah mencapai venue dan langsung merasuk ke dalam bersama seorang teman, takut gak bisa duduk. Ternyata di dalam belum terlalu penuh dan masih menyisakan beberapa kursi. Melihat di information board ternyata Frau tidak tampil sendiri, ada dua band yang menjadi pembuka gelaran tersebut, Sophie dan Koala.


Kira-kira pukul delapan malam Sophie membuka gelaran yang sangat minimalis sekaligus eksotis tersebut. Berjumlah empat orang yang tampil dan apabila dilihat secara umur, mereka ini termasuk golongan tua. Ya, Sophie sudah eksis di dunia permusikan Yogyakarta sejak 7-8 tahun silam. Tampil secara akustik membawakan lagu-lagu mereka yang sempat hits seperti “bawakan aku bunga” dan “pejuang asmara”.


Penampilan berikutnya disisi oleh Koala, sekelompok pemuda-pemudi bertalenta yang mungkin akan menggebrak suatu saat, melihat kepiawaian mereka dalam bermusik. Memainkan musik pop sedikit bernuansa jazz dengan karakter vokal yang anggun. Menggebrak venue dengan lagu cover “simple overture” milik White Shoes and The Couples Company juga “sabda alam” milik Ismail Marzuki yang kemudian dilanjutkan dengan lagu-lagu mereka sendiri.


Semakin malam semakin banyak pengunjung yang datang, bahkan ada yang rela berdiri atau duduk lesehan di lantai, suasana ruangan pun menjadi panas. Kira-kira pukul sembilan kurang Koala mengakhiri performance-nya.


Dan akhirnya penampilan dari Frau yang sudah sangat dinanti-nanti akan dimulai. Pembawa acara hanya berfungsi sebagai aktor pantomim karena semuanya hanya tertuju pada Frau, seluruh gerak tubuh dari gadis anggun berambut ikal yang bernama asli Leilani Hermiasih ini diperhatikan sangat detail oleh penonton.


Masuk dari arah depan area utama, melewati para penonton, membawa pula dua cangkir yang entah itu teh atau coklat panas, sontak suara tepuk tangan bergemuruh. Cangkir diletakkan di meja, menyapa dengan ramah para penonton dan kemudian tanpa basa-basi jari-jemarinya menjamah Oskar yang sudah terlentang di hadapannya. “i’m a sir” adalah lagu pembuka yang dilanjutkan dengan hits-hits lain, “glow”, “intensity, intimately”, dan “mesin penenun hujan”.


Penonton diberi kejutan yang sangat spesial ketika Frau mengajak Nadya Octaria Hatta untuk berkolaborasi membawakan “salahku, sahabatku”. Nadya adalah sosok bertalenta lain yang bisa dibilang senior Frau dalam scene indie Jogja, jari lentiknya ketika menyentuh tuts keyboard dapat menghanyutkan siapa saja menuju space luar angkasa tanpa batas, pengalamannya sudah sangat terasah melalui Armada Racun dan Individual Life. Penonton pun orgasmic, duet luar biasa dalam menjamah Oskar.


Dan khusus ketika Frau memainkan “i’m a sir”, saya seakan berimajinasi sedang bercinta dengan Regina Spektor pada padang rumput luas nan hijau, Frau berhasil membuat saya klimaks di awal. Dan gelaran pun ditutup ketika sebuah tembang cover dari Melancholic Bitch yang berjudul “sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa” dimainkan. Frau berhasil membuat penonton puas.


Berikut beberapa dokumentasi yang secara beruntung saya dapatkan dari sebuah mesin pencari. Karena saya tidak punya kamera untuk media rekam:







Jogja, 10 April 2010

*Oskar adalah keyboard kesayangan Frau

Gambar diunduh dari sini

April 9, 2010

Cerita Pagi





Pernahkah kalian menjadi munafik atau hipokrit atau apa lah yang intinya adalah kalian ingin merubah sesuatu tetapi masih terjebak ke dalam lingkaran mitos? Bagaimana caranya agar dapat keluar dari jebakan itu? Apakah hanya cukup dengan sekedar niat? Lalu di mana letak pentingnya motivasi? Ini adalah beberapa pertanyaan yang sering berkecamuk dalam benak, hingga tak kuasa aku mengolah daya pikir, dan akhirnya lebih memilih melamun.

Pagi ini begitu abu-abu, awan mendung di atas sana pun bukan biru, hari ini sudah pasti kelabu, dan hanya mental yang sedang biru. Pernah terbayang untuk melompat dari menara kembar Petronas? Aku pernah, dan yang aku bayangkan adalah nikmatnya bungee-jumping dari menara tersebut, lalu ikatan di kaki tiba-tiba lepas, tapi aku sudah siap dengan parasut, parasut terkembang, wow aku melayang.

Aku masih sempat menyalakan mp3, berparasut sambil mendengarkan lagu adalah keren, kemudian nada-nada mengayun bersamaan dengan lengking, lengking itu sangat khas, meniru lengking pria homo dari Islandia. Tidak sadar aku hampir mencapai setengah dari tinggi menara itu, jatuhku tidak vertikal karena parasut sukses meredam gravitasi, tapi tiba-tiba badai besar datang dari Kuala Lumpur bagian timur.

Dalam hitungan detik aku terhempas ribuan kilometer, karena ketika aku menyempatkan membuka mata untuk melihat ke bawah, tiba-tiba daratan berubah menjadi lautan luas, sepertinya itu Selat Malaka. Aku terus dibawa oleh pusaran angin entah ke mana, sampai aku menemukan daratan lagi.

Kali ini kekuatan angin makin melemah, sampai akhirnya badai hilang, parasutku sudah berubah bentuk menjadi compang-camping. Aku melesat jatuh ke bawah, sangat cepat. Braaaaaaakkkkkk! Aku menghantam atap sebuah auditorium, aku mengerang, sepertinya lengan dan beberapa rusukku patah.

Eranganku bahkan sampai menggaung, tapi hiruk pikuk di bawah seakan tidak peduli, orang-orang sedang asyik berkumpul di sebuah panggung terbuka. Aku masih sempat melirik ke pusat keramaian, terpampang besar sebuah spanduk dengan tulisan yang besar pula, “Pentas Seni Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara”, aku ada di Medan.

Kemudian sound puluhan ribu watt bergemuruh, terdengar suara lengkingan yang sama persis dengan yang aku dengarkan ketika sedang berparasut, mataku terpejam tak kuasa menahan sakit. Lengkingan itu masih tetap terdengar, teratur dan senada dengan birama, dari klimaks perlahan berubah makin pelan, makin lembut sampai berubah menjadi sebuah bisikan, bisikan yang juga tidak asing bagiku, bisikan Eleanor. Seketika itu pula aku terjaga.

Ini adalah sebuah cerita pagi di mana aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun, terjaga, menghadap monitor, menyentuh tuts keyboard, lalu melamun lagi, terjaga lagi, menghadap monitor lagi, menyentuh tuts keyboard lagi sambil meresapi murungnya Eleanor Whisper dari Korine Conception.

Aku masih dalam keadaan sadar karena aku tak mampu lagi membeli piranti terbang yang harganya melonjak naik puluhan persen. Mungkin kali ini waktunya untuk mengganti kebiasaan itu, mudah-mudahan bukan sekedar mitos. Dan mengenai pertanyaan-pertanyaan yang masih saja berkecamuk mungkin akan selalu kutanggapi dengan cara melamun, karena melamun adalah satu-satunya cara bijak yang aku ambil ketika otak sudah tidak mampu berpikir mencari jawaban.

Aku ingin kesadaran, aku juga butuh pencerahan. Ingin rasanya kembali pada masa di mana kicau burung masih ramai bersahutan, udara masih terasa sejuk, dan sinar mentari sedikit meraba muka dari pusatnya yang mulai merangkak naik dari balik bukit, mengulang memori dan lalu memperbaiki kesalahan.




090410, 05:34 am

--------------------------------------------------------

Gambar diambil dari sini




April 7, 2010

Pasangan Jenius Itu Asal Indonesia

“Siapa pasangan terkeren menurut lo?”

“Ben Gibbard sama Zooey Deschanel”

“Avey Tare sama Kría Brekkan.”

“Halah jauh-jauh amat. Indonesia dong yang Indonesia!”

“Hmmm, siapa ya?”

“Kalo gw Iyub sama Anindita”

“Wow, gak kepikiran sampe ke situ gw, hahaha !”

(sedikit kutipan dari obrolan antara saya dan seorang teman di dunia maya)


Ben & Zooey

Sepasang suami-istri yang telah disebut pertama memang sangat layak diberi label terbaik terutama dalam dunia musik internasional. Di antara anak muda penggemar lagu-lagu rare, siapa yang tidak tahu Benjamin “Ben” Gibbard yang sukses dengan Death Cab for Cutie dan The Postal Service. Lalu siapa pula yang tidak kenal Zooey Deschanel, sang vokalis cantik She & Him yang juga merangkap sebagai aktris film yang juga terkenal karena aktingnya dalam beberapa film termasuk (500) Days of Summer. Kedua seniman tersebut resmi menjadi suami-istri pada sepertiga akhir 2009 kemarin.

Avey & Kria

Kemudian pasangan kedua, Avey Tare dan Kría Brekkan, pun sangat populer. Avey yang terlahir sebagai David Portner 30 tahun silam merupakan sosok jenius dari band eksperimental Animal Collective yang juga piawai memainkan instrumen synthesizer, gitar, dan perkusi. Dan istrinya, Kristín Anna Valtýsdóttir “Kría Brekkan”, pun tidak kalah jenius. Wanita lucu berbahasa Islan ini adalah seorang multi-instrumentalis yang selalu menghasilkan nada-nada atmospheric dalam setiap permainan piano atau accordionnya. Pernah menjadi salah satu otak dari band Icelandic bernama Múm yang beberapa lagunya dijadikan soundtrack andalan dari film “dingin” berjudul Wicker Park. Dan ketika memutuskan untuk keluar dari band tersebut pada 2006, dia melanjutkan kegiatan bermusiknya dengan bersolo karir dan juga membentuk duo “Avey Tare & Kría Brekkan” yang merupakan kolaborasi avant-garde ciamik dengan suaminya sendiri.

Namun, tidak melulu yang hebat dan jenius itu selalu berasal dari luar negeri, di Indonesia pun banyak yang pantas diberi label tersebut. Dunia musik avant-garde dalam negeri telah menghasilkan beberapa seniman berprestasi, salah satu contohnya adalah Santamonica. Band yang personil utamanya merupakan sepasang suami-istri, Joseph Saryuf dan Anindita. Pada awalnya band tersebut membawakan lagu-lagu yang sedikit berbau bossanova dan indiepop yang cenderung easy listening. Namun mereka merubah ke-easy listeningaannya itu kemudian dengan membuat format album yang sangat eksperimental bertajuk Curiouser And Curiouser, sebuah wonderalbum yang menjadikan Alice in Wonderland sebagai inspirasi.

Dita & Iyub

Album tersebut juga dirilis di Korea dan Jepang pada tahun 2009 dan melalui album itu pula Santamonica beberapa kali diundang oleh festival-festival musik di luar negeri, dan yang paling menggembirakan adalah ketika mereka berpartisipasi dalam Melody of life festival 2008 Bangkok yang merupakan festival bergengsi karena menyajikan banyak seniman alternatif dan independen dari berbagai negara. Lirik yang kuat, kepiawaian memainkan piranti musik elektronik, dan kemilau neon serta visual ketika live adalah kelebihan Santamonica yang menjadikan band ini dinanti-nanti oleh penggemar musik avant-garde di Indonesia bahkan Asia. Dan menurut saya, award “the best indie couple” rasa-rasanya cocok diberikan kepada mereka berdua, dan hal ini bukan tanpa alasan. hahaha.

Bawa Aku ke Sana, ke Malino!

Pernah aku terlibat perbincangan seru bersama rekan kerja membahas tentang keindahan alam yang masih tersimpan di bumi nusantara ini. Aku dengan bangganya menceritakan masa kecilku ketika hidup di kaki Bukit Barisan paling selatan Sumatera. Bersama teman sepermainan menyusuri jalan setapak membelah kebun kopi belakang rumah, berkilo-kilo meter, melintasi hutan damar sampai bertemu anak sungai yang jernih dengan bebatuan besar di daerah alirannya. Tanpa pandang bulu kami pun buka baju, buka celana, telanjang bulat lompat menuju kesegaran yang benar-benar alami, berenang di kali. Menjelang Ashar kami pun pulang, tidak lupa lebih dahulu mencari daun pandan pesanan Ibu untuk campuran bubur kacang hijau yang akan disantap sepulang mengaji.

Serasa tidak mau kalah, temanku yang asal Makassar pun unjuk cerita tentang masa kecilnya pula. Pernah hidup di daerah Gowa ketika sekolah dasar karena sang ayah yang dipindah tugas ke sana.

“Kamu tau Malino? Dulu aku pernah tinggal di sana 5 tahun waktu SD.”

Dia bercerita tentang kebiasaannya dulu bersama teman-teman SD-nya. Bermain di kebun teh, mencuri markisa, mandi di air terjun, menjelajahi hutan cemara dan menyewa kuda sembari menikmati udara pegunungan yang dingin. Tersirat sebuah kerinduan dari mimik mukanya. Rindu akan keindahan alam. Dan di akhir cerita, temanku itu mengucapkan sebuah kalimat dengan lantang: “Malino itu surganya Sulawesi, Puncak kalah deh, yang bisa nyaingin cuma Dieng!”

Berpetualang adalah kebiasaan bagi orang-orang yang mempunyai masa kecil di daerah pedalaman, bisa dilihat dari benang merah antara kebiasaanku dan kebiasaan temanku itu di masa kecil. Yang ada dalam benak hanya senang-senang, tak peduli besarnya resiko yang akan menghadang. Padahal alam masih sangat liar, ada temanku yang pernah hilang terseret arus sungai ketika hujan deras, ada pula ayah temanku yang pernah melihat sekilas Harimau Sumatera di hutan. Tapi tetap saja, jiwa anak kecil adalah jiwa serba ngga mikir, kami terlalu asyik menikmati permainan sampai tidak mempedulikan resiko, walaupun sebenarnya orang tua kami sudah sangat was-was menanti di rumah ketika kami sedang berpetualang.

Kembali ke Malino, aku penasaran dengan daerah itu. Yang aku tahu Malino adalah tempat diselenggarakannya konferensi dalam rangka membentuk Negara Indonesia Timur pada tahun 1946, bernama Konferensi Malino. Sesampainya di kost langsung kunyalakan komputer kemudian browsing lewat google langsung dengan kata kunci Malino. Kutemukan berbagai artikel dan gambar tentang suasana alam Malino yang telah disebut surga oleh temanku itu. Hamparan pegunungan, perkebunan teh, hutan cemara dan pinus, edelweiss, fauna khas Sulawesi, air terjun yang bertingkat-tingkat, kebun hijau sayur mayur, dan mungkin ada beberapa jasa wisata lain yang belum aku tahu karena belum melihatnya sendiri. Aku takjub ketika melihat gambar-gambar pemandangan dari salah satu situs wisata yang mencoba mempopulerkan Malino. Memperlihatkan sebuah perpaduan menarik antara wisata flora dan fauna. Terbesit keinginan untuk merasakan sendiri perpaduan tersebut, apakah seindah seperti yang telah digambarkan oleh situs. Mudah-mudahan bukan sekedar mitos.

mari rasuk

bila kau rindu

aku ‘kan datang segera

senada

http://redorchid.wordpress.com

(The Trees and The Wild - Malino)

-----------------------------------------------------------------------------------

Sumber: http://liburan.info, http://wisataloka.com/pelesir/malino-pesona-yang-tak-melekang