March 12, 2010

cinta pinggiran kota


Kamu datang entah dari mana. Bibir tipismu membisikkan sesuatu manis mengoyak logika. Ya, aku tergoda, tak mampu aku berlogika. Beribu detik jari-jemari membentuk cerita menyimpang tanpa kamu peduli akan posisiku. Apa motivasimu? Jangan kamu bilang kamu hanya memanfaatkan ketidakberdayaan yang sudah beranak pinak di dalam sistem syarafku. Kamu sutradaranya dan aku selalu mencoba menghayati peran dengan segala keterbatasan. Kamu tahu? Aku tak bisa lari dari peran yang sudah kamu atur sedimikan rupa, aku terikat, aku terjebak. Ini permainanmu, tapi kamu tak pernah memberitahu aturannya.

“Hey, kamu Widowati, aku yakin kamu Widowati!”

“Aku Shinta. Lupakan semua kisah yang sudah kita buat. Aku sadar semua ini keliru. Aku harus kembali pada Rama. Maafkan aku.”

“Apakah kesabaranku tidak berhasil membuatmu simpatik? Aku tidak sesadis dan seegois Rahwana pada wayang Jawa. Aku tidak berani menyentuhmu selama kamu ada di sini. Aku menghormatimu karena kamu Widowati.”

“Rama itu ksatria, bodoh bila aku tidak memilih dia.”

“Mana buktinya kalau dia ksatria? Mana Hanoman yang katanya dia utus untuk menjemputmu? Dia tidak peduli padamu, Widowati.”

“Aku yakin dia menungguku di Ayodya sana.”

“Apakah menunggu itu ciri ksatria? Mengapa dia tidak berjuang untuk merebutmu kembali? Aku minta maaf karena telah menculikmu. Tapi aku punya ketulusan. Aku tidak mengurungmu ke dalam penjara. Aku buatkan kamu taman yang paling indah. Aku selalu sabar menunggu sampai kamu mau menjadi permaisuriku di Alengka Diraja.”

“Apakah kamu ingat masa lalumu, Rahwana? Apakabar Mandodari dan istri-istrimu yang lain? Apakah kamu mau nasibku akan sama seperti Widowati yang tidak berdaya sampai terjun ke bara api? Aku Shinta, aku bukan lah Widowati, dan bukan pula reinkarnasi dari siapa-siapa. Aku menyesal telah tertipu bujuk rayumu.”

“Itu masa lalu, aku menyesal, dan aku akan belajar dari kesalahan. Aku ingin diberi kesempatan dan aku pasti akan memanfaatkan itu sebaik-baiknya. Manis yang ku beri bukan semata-mata hanya untuk menikmati mulus tubuhmu. Aku punya ketulusan dan hati nurani.”

“Aku tetap akan pergi, Rahwana. Aku telah terlanjur jatuh hati pada Rama.”

“Apakah karena Rama lebih tampan? Apakah kamu tidak nyaman dengan bentuk fisikku yang Dasa Muka ini? Mengapa kamu tidak membaca menggunakan hati nurani? Apakah kamu tidak melihat ketulusanku?”

“Aku hanya mengikuti naskah yang sebenarnya. Kamu adalah angkara murka dan Rama adalah ksatria. Selamat tinggal.”

Parasmu seayu Widowati. Suaramu bak mutiara bernama belakang Guðmundsdóttir yang dengan puisi pagan berhasil menghipnotis dunia. Sudah kubangun patung rupa dirimu untuk kusembah. Sudah terlanjur kubuat altar persembahan pada tiap sudut ruang pikiran. Tapi mengapa kamu klise?

If this is your game,

you're the only one who makes the rules.

I've tried to play this one.

If this is your game,

but you never let me find the rules.

I'm tired to play this one.

And I loose myself for nothing.

(Lipstik Lipsing - Suburban Love)

----------------------------------------------------------------------------------

Sumber gambar ada di sini

No comments:

Post a Comment