November 24, 2010

Aneka Monoton

The Depreciation Guild – November




Windu pertama, adalah masa pertumbuhan dari balita menuju bocah. Hidung berfungsi dengan baik dalam menyaring udara sebelum masuk ke paru. Lidah pada awalnya hanya digunakan untuk mengecap puting milik sang induk, lebih dari 100 minggu kemudian semakin terlatih dalam mengecap manis remah biskuit juga gurih bubur tim. Sekelompok individu di luar keluarga pun hadir sebagai teman bermain pada belasan sampai puluhan bulan kemudian, dengan seragam putih-merah bermain kejar-kejaran pada lorong depan kelas. Segera pada jam istirahat menuju ruang kerja ibu untuk merengek demi receh 200 rupiah, jajan “krip-krip” di warung Mba Sulis.

Pukul 12 siang lonceng berdenting 3 kali pertanda pulang, bersamaan pula dengan habisnya jam kerja ibu. Aku hampiri beliau di ruang kerjanya lalu berjalan beriringan melewati jalan setapak di pinggir lapangan depan sekolah menuju rumah. Ayah menyusul sampai rumah pukul 13.30 kadang-kadang lebih sedikit dan tidak pernah pulang sangat telat kecuali bila ada urusan penting. Dengan buah tangan berupa nasi pecel dan kadang-kadang sate ayam untuk santap siang kami bertiga, menjadi berlima ditambah si kembar, dan digenapi si bungsu menjadi berenam.

Windu kedua, adalah masa perkembangan dari seorang bocah menuju remaja. Rumah semakin ramai oleh kehadiran si kembar dan si bungsu, ruang TV pun semakin sesak. Satu piring pisang goreng buatan ibu langsung habis dalam sekejap sambil menikmati acara infotainment sore hari. Selepas bermain sepakbola bersama teman-teman sekampung langsung bergegas mandi lalu pergi ke musholla untuk salat Maghrib berjamaah, mengaji dan pulang setelah Isya. Sesampainya di rumah, lauk makan malam sudah ditata rapi oleh ibu pada meja di ruang tengah. Ritual selanjutnya setelah santap malam adalah berjibaku dengan pekerjaan rumah yang harus dikumpul esok hari lalu tidur setelah terlebih dahulu menyimak “dunia dalam berita”.

Seragam putih-merah sudah berganti menjadi putih-biru. Perasaan kagum terhadap lawan jenis pun tumbuh bersamaan dengan munculnya bentol-bentol jerawat di permukaan pipi. Pula uang saku ikut bertambah dan kadang-kadang sengaja ditabung untuk membeli satu paket amplop dan kertas surat warna-warni. Perawakannya tinggi kurus dan rambutnya panjang layaknya model iklan shampoo, dia adalah wanita pertama sebagai target cinta-cintaan. Ketika cinta (monyet) merekah, menulis bual-bual picisan pada kertas surat menjadi kegiatan baru. Selalu gigih dan pantang menyerah mengirim surat cinta sampai si wanita gerah lalu ditolak mentah-mentah.

Jenjang sekolah menengah pertama memang masa-masa di mana banyak bocah bertingkah sok remaja. Agar eksistensinya dianggap, mulailah bocah-bocah itu bertindak di luar jangkauan dan tidak sesuai kapasitas. Sebuah gambaran umum dan juga sebagai refleksi diri sendiri, memaksakan diri untuk menghisap linting demi linting tembakau dan curi-curi menonton film dewasa sudah dilakukan pada masa itu. Mungkin ada juga yang lebih parah, tetapi hal tersebut tidak terjadi padaku. Bertingkah sok mandiri, mulai membantah orang tua, tetapi masih gemar mengumpulkan hadiah dalam kemasan “chiki”.

Windu ketiga, dari remaja belajar menjadi dewasa. Seragam putih-biru segera berubah menjadi putih-abu. Sepeda kayuh digantikan sepeda bermesin sebagai sarana berangkat sekolah. Hidup berpuluh-puluh kilometer jaraknya dari kampung halaman, dalam setahun hanya sedikit kesempatan untuk bertemu orang tua, pada momen liburan panjang dan hari raya saja. Benar-benar belajar mandiri dengan kebutuhan sehari-hari yang masih disokong dari jauh. Lingkungan baru, suasana baru, teman baru, dan kebiasaan baru. Dari yang positif sampai negatif; OSIS, kursus bahasa, olimpiade fisika, paskibraka tingkat propinsi, kejuaraan bola basket antar sekolah, pekan olahraga daerah, bolos sekolah, merokok di kantin, pulang larut malam. Persis sama dengan realita yang banyak disadur ke dalam film-film anak muda zaman sekarang.

Fase terus berkembang hingga naik ke perguruan tinggi. Pindah ke kota budaya dengan menyewa sebuah kamar kostan dengan biaya yang masih disokong dari jauh. Komputer baru, pacar baru, buku bacaan baru, organisasi, komunitas, anggur merah (dan piranti khayal yang lain), bolos kuliah, berwisata suka-suka, kerja paruh waktu, social network, musik dan film rare, wacana skripsi, dan selalu mencoba untuk menembus sikap dewasa yang masih utopia. Sepuluh semester dengan modal seratus lima puluh enam sks.

Sekarang adalah hari paling ujung di windu ketiga, tidak sampai 24 jam babakan ini akan segera berganti. Aneka gerak, aneka kegiatan, dan aneka-aneka baru sudah menanti di babak baru. Seperti kata petuah bijak: Semakin berjalan waktu semakin bertambah pula hal-hal baru yang diserap dari lingkungan sekitar, sebuah fase yang akan terus berlangsung sampai akhir hayat. Tetapi aku monoton, aku yakin sangat monoton, meski lika-liku perjalanan hidup yang sudah aku lalui memang melewati banyak aneka, yang aku rasakan selalu tetap sama sejauh ini, hambar. Mengapa hambar? Karena banyak waktu habis oleh aneka monoton, sampai sekarang, menjelang delapan tahunan babakan hidup yang akan dimulai kembali beberapa jam lagi, menuju angka empat. Semoga lekas benar-benar sembuh.



Loly...pop!

Menghitung mundur lebih dari 3x30 hari. Di mulai dari satu sudut kota setelah lebih dulu menghirup debu-debu pada jalan pinggir kali. Berlanjut dengan tepuk halus di pundak lalu makan siang bersama, bersenda gurau juga berhujan-hujanan. Bagai menghisap lolypop berkadar gula paling besar yang bekas manisnya tidak mudah hilang, gurat tipis pada kening dan tahi lalat itu pun masih membekas di kepala. Tertawa adalah cara yang dianggap paling bijak untuk dilakukan, menertawaimu pun merupakan satu-satunya pilihan. Karena: Hahaha... Kamu sama-sama keparat seperti dirinya!

October 10, 2010

+

"Please appreciate my choice and don't ever come to my life again as a disturbman ..."

Oleh karena sesuatu yang sentimentil seorang partner baik berubah menjadi disturbman. Anggap saja sebagai degradasi fase, dan atas dasar berkilas balik tidak selamanya buruk, seorang pengganggu pasti kembali berubah menjadi teman yang baik secepat yang dia bisa. Bila terpaksa menghilangkan pun tidak segampang laiknya menghapus coretan kapur pada papan tulis. Tetapi, apakah harus benar-benar dihilangkan?

October 5, 2010

Kunang Seribu

Praaaaak! Hancur nyata-mu

pula maya-mu,

menjadi puing,

dari puing berubah debu.

Debu tertiup angin, bercampur dengan asap tebal hitam dari segala penjuru. Terjebak gelap, hingga kunang-kunang datang memberi satu titik cahaya. Belum terang, karena yang datang baru lah satu.

Yakin pada saatnya nanti, seribu kunang akan menyerbu.

Hilang jebakan, akhirnya.

September 26, 2010

Dalam Ruang

Dia adalah sosok lelah. Energinya terkuras habis semalaman. Jari lentiknya kelelahan akibat kerja rodi, matanya sayu merindukan kamar tidur. Tapi dia sempat tersenyum ketika melihat lembaran-lembaran daun jatuh serentak dari dahan mahoni, membuat hati nyaman ujarnya. Di bangku taman dia rebah menghadap pohon sambil telinganya fokus pada sebuah lagu yang juga nyaman serta manis melebihi sebatang lolipop.

Dia, tak ada sebutan yang lebih cocok selain keras kepala, ya sangat keras kepala. Bersikeras pergi meninggalkan sarang padahal masih mempunyai hak jatah cacing dari sang induk. Dia berburu melawan waktu normal, sendirian dengan kecakapan seadanya. Dan dia memang lelah yang sebenar-benarnya. Dia rindu sang induk yang mampu membuat segar jasmani dengan belaian-belaian lembutnya. Dia menangis kemarin sore, berharap ada celah waktu untuk kembali ke sarang.

"Kita tak pernah bertemu maya sebelumnya, sampai akhirnya kita berhadapan, berbagi cermin serta rupa-rupa nyata. Susah mencari prolog atau epilog karena entah kenapa kita selalu berjalan pada inti. Termasuk saat ini, ketika susu dan biskuit cokelat tersaji di meja sedari malam untuk kita nikmati sebelum pulang. Belum berakhir, kita berubah maya lusa."



25 Agustus 2010, Lereng Bukit




September 22, 2010

Dua

Sah-sah saja ketika hal pahit sengaja dibungkus manis demi kesan pertama. Dan memang kita hanya bersenang-senang waktu itu, saling cerita pun sebatas hal manis pula dan cuma seadanya. Hari pertama penuh dengan tawa.

Tertawa pada sudut wahana olahraga dimana banyak muda-mudi saling pamer warna-warni dalam acara festival mode. Tertawa setelah diguyur hujan deras dengan dua potong ayam goreng tepungku dan satu cup kecil es krimmu. Dan sebuah tawa kecil ketika kau bilang: “Kita berpisah di sini, sampai bertemu lain kali”. Kau bilang ‘sampai’ bukan ‘semoga’, kau pintar memilih kata. Sadar karena kita pasti bertemu di kemudian hari.

Kita mengambil arah yang berbeda menuju pulang. Aku amat sangat lelah, dalam arah menuju peraduan yang terpikir hanyalah bagaimana caranya mempercepat laju karena tubuh sudah tak tahan untuk rebah. Laju melaju sampai ke kamar tidur, tubuhku sudah terlentang.

Namun otak yang seharusnya mengisyaratkan seluruh anggota tubuh untuk istirahat malah memerintahkan jemari bermain tombol selular. Sebuah racikan kalimat simpati akhirnya keluar oleh kerja sama antara salah satu anggota tubuh dan satu organ penting tersebut. “Apakah kau selamat sampai rumah?” Bukan hasil dari gerak reflek karena simpati yang lahir adalah sebenar-benar niat dan itu tertuju padamu.

Alih-alih iseng bertanya kabar, permainan nirkabel kita malah berlangsung sampai tengah malam. Tawa dan senyum masih mendominasi walau tidak berbentuk lisan. Aku bilang hahaha kau jawab hihihi, aku tulis hehehe kau balas menulis hohoho. Sudah benar-benar dini hari dan aku baru benar-benar istirahat, tidur.

Kau pendamba filsafat pemuja tokoh revolusioner. Sangat bertolak belakang dengan si selenge’an mirip bocah tua nakal, tetapi sama-sama percaya akan energi sekitar penggerak semesta. Manis, karena esoknya sebuah mimpi kecil yang lucu merupakan pemantik percakapan-percakapan nirkabel berikutnya. Tidak cuma monoton beradu pesan saja karena mulut acapkali ikut berolahraga mengolah pita suara.

Masih dipenuhi tawa dalam rangkuman cerita-cerita film, lagu dan sedikit tentang Pramoedya. Berusaha sedikit serius, seonggok ‘Rummi’ pun pernah hadir sekilas, lebih karena aku pernah tidak sengaja mengeluarkan rangkaian kata yang mirip dengan kata mutiara beliau, tapi aku tidak tertarik untuk berlama-lama. Aku tidak menyukai filsafat, sufi, politik, faham-faham, dan semua hal yang tidak terjangkau otak. Ya, aku bodoh dan kamu pintar.

Lebih dari tujuh hari dan akhirnya terasa monoton. ‘Selamat pagi, siang, petang, malam, sedang apa’ adalah kata-kata yang selalu keluar dalam olah pesan gsm, sebenarnya tidak basi tetapi sangat kurang variasi. Pribadiku sangat tak sabar menanti agenda berikutnya.

Akhirnya, ujung pekan pada dua pekan setelah pekan kita bertemu pertama kali, siang hari, aku telah berada pada titik di mana kita pernah berpisah sebelumnya. Tidak beberapa lama sebuah tepuk halus mendarat tepat di pundak, pertemuan kedua.

Kamu yang menepuk, sosok yang sejak pertama sudah kucium bau misterinya dengan t-shirt hijau yang dimasukkan ke pinggang hampir ke pinggul, jeans hitam skinny, tas hitam di punggung mirip tempurung, dan sepatu berbahan plastik. Kau tidak merubah penampilanmu, atribut yang kamu kenakan sama persis seperti pada pertemuan pertama.

Debu panas ibukota menghantam muka, bersaing laju dengan kendaraan lain di kanan, kiri, depan, belakang, dan sesak aktivitas siang tidak mempengaruhi riak canda kita dalam membelah jalan. Agenda pertama hari itu adalah menyaksikan robot-robot lucu dengan bos pencuri yang selalu berusaha membuat ibunya terkesan dan kagum. Karena lucu kita terbahak-bahak sepanjang durasi cerita, apalagi ketika sekelompok robot bernyanyi copa cabana. Manis lagi-lagi manis, tak tampak pahitmu juga lukamu. Gelap membuatmu cantik dalam tawa.

Cerita audio visual pun berakhir, gelap berubah terang seketika. Wajahmu tampak segar, dan kali ini, kembali seperti di awal, senyum membuatmu cantik dalam misteri. Di mana pahitmu? Aku belum juga layak mengorek informasi.

Yang kemudian aku lakukan adalah mengajakmu berbagi meja pada restoran "sampah" Amerika. Kita berhadapan dan bersiap santap potongan kolesterol bertabur tepung crispy, bisa sebut junkfood, takaran pas pengobat lapar. “Tenaga bertambah hingga dua belas kali lipat” dan kita bersiap ke agenda berikutnya.

Sampai kita pada sebuah acara kesenian. Menyaksikan muda-mudi lugu berpentas seni merupakan kenyamanan tersendiri, orisinalitas sangat kentara meski dengan kemampuan seadanya. Senyaman binatang ternak tak berbusana kita tersenyum melihat ulah mereka. Lagi-lagi berbagi tawa, kali ini berkolaborasi bersama bocah jalanan pinggir kali, jauh dari pusat kota. Kemudian waktu cepat berubah malam, ibukota bertabur gemerlap lampu, kemilau.

You and me and all these weekends, I thought we’d go far…

Pertunjukan bocah-bocah lugu berakhir, namun gelaran tutup minggu tidak berakhir sampai disitu. Belum ada niat pulang karena memang tidak ingin pulang, kita bersepakat mengitari kota sampai pagi. Tetapi hanya karena terinspirasi oleh sebuah lagu, kita malah terdampar di tempat yang jauh.

Bukan metropolitan, menembus batas-batas kota satelit dan sempat berhenti sesekali untuk berteduh akibat guyuran hujan. Sejauh yang bisa kita capai, dan kita hanya mampu menjangkau lereng bukit. Lelah sudah jelas kentara pada mimik, dingin mendobrak masuk mengoyak sendi, teh hangat menjadi teman bisu siap teguk sambil kita duduk bersebelah pada sebuah kedai, memandang titik-titik kecil cahaya yang berada jauh di bawah, pada bekunya dini hari.

“Terimakasih atas perjalanan yang tak terduga kemarin. Kita berteman bukan?”

“Ya, sama-sama. Kita memang tidak lebih dari sekedar teman, itu mutlak sampai saat ini.”

Bagai sebuah mimpi kecil yang lucu. Kita bergandengan tangan pada sebuah taman sambil mendengarkan melankolia. Acuh terhadap orang-orang yang berkeliling. Kita malah rebah sambil mata lurus menatap langit, tak ada bintang. Sunyi sekaligus kelam, kita pun diam. Sampai akhirnya pecah setelah suara lirih setengah berbisik merasuk ke dalam telinga.

“Aku sakit, sudah kutahan sedari kecil.”

Matahari mengintip dari balik pohon, seorang ibu sedang bingung menanti anaknya semalaman. Kita beranjak dari taman itu, sedikit basah akibat embun. Bersiap pulang dan aku tersenyum, setidaknya sebagian dari pahitmu sudah terkuak. Tinggal tunggu sisanya karena aku adalah pendengar yang baik.

September 19, 2010

Gloomy Sunday

Mendung,

Ia masih sekedar memberi temaram dalam ruang.

Hujan,

Ia mengirimkan bau tanah ke hidungmu.

Dan... Kita sama-sama sedang terbaring, beda ruang

Suram

August 30, 2010

Tinja

Bekap..

Bekap? Peluk?

Malas mendekap. Aku mau bekap saja, mulutmu!

Apakah tidak kamu butuhkan lagi hangatnya? Atau kamu haus gigitan-gigitan kecil? Sampah, bahkan wangimu sudah tak mampu membendung busuknya.

Malas! Di tengkuk hanya ada tonjolan-tonjolan debu. Malas. Haaah…

Munafikkah ketika ternyata tonjolan itu berubah rata oleh kalori persetubuhan? Kamu tak layak berkata malas apalagi bosan karena relasi komplemen telah tercipta.

Aku sedang malas meracau, bukan malas beradu birahi..

“Kapan kita menikah?” Apakah ini tidak termasuk racau?

Kapan? Kapan aku menyebut itu? Ah, kamu bohong!

Baru petang tadi kau sebut, jangan mengelak.

Seingatku ajakan itu buat orang lain, bukan buatmu.

Tai.!!!

Beserta tinja itu menetas sepuhan merah. Sedikit demi sedikit melunturkan sakit. Tidak lagi ada perih, namun kengerian.

Pesan itu jelas terekam, untukku, bukan untuk orang lain.

Oh ya? Astaga.. Tuhan, aku tidak berniat poliandri. Hahaha

Pilih siapa?

Pilih tinja

Akulah setinja, hahaha.

Bukan kamu, tinja berdarah. Andai aku punya kantung di perut, akan aku masukkan kamu ke dalamnya. Kamu masih harus belajar bagaimana menyusu dengan baik. Keningmu terus membiakkan gurat di saat aku membuka sedikit saja tanah lapang yang kau tutupi denga rotan. Kamu berusaha berkemas-kemas, aku menebasnya lalu aku nikmati dengan cara membakar semua rotan. Dan kini tinggal tanah lapang, luas sekali sayang, kamu berlarian pun akan habis nafasmu. Lebih baik kamu mendirikan jembatan di atasnya, aku punya rotan walau sisa tapi bisa kita anyam bersama kalau kamu mau. Setelahnya aku tinggal pergi mencari air untuk wajahku yang lusuh.

Aku tidak lari. Jangan bermimpi berbagi lapang, memanjat pagar kehidupan pun kita belum. Baru setelahnya hamparan padang hijau membentang. Tak ada rotan, Sayang! Itu rumput, jelas-jelas rumput. Ah, kamu mengigau.

Tidak akan tertular kepadaku tanda di keningmu, namun aku tidak paham obat apa yang kamu suntikkan itu. Hingga semak-semak bisa kita anggap sebagai bunga, sampai-sampai terpaan angin kita anggap sebagai merdu. Memang tidak perlu terlalu tinggi, kita akan lelah merunduk, semua yang di dasar memutarkan ingatan. Kamu memang lumut yang menyamar menjadi agar-agar, terlanjur aku cicipi. Namun seperti bebatuan yang mereka adukan, warnanya pun luntur. Ternyata kamu merah, bukan jingga. Seharusnya aku tabrak saja, aku pelantingkan tubuhmu ke lembah, tidak bisa di tawar lagi! Aku mau mendobrak semua sisi otakmu. Berikan, cepat berikan! Dan tidak usah membawa gula, modusmu sudah aku petakan. Sangat picisan.

Bersamamu adalah mahodaya, sangat agung. Kebahagiaan atas kesempurnaan paling tinggi. Dan topeng kupesan sembari menunggu mokhsa, demi menutup gurat lama di mana aku adalah pesakitan. Dari luar memang tampak lumut, tapi di dalam rongga dada terdapat empat jenis daun bunga, salah satunya padma, menjadi bersinar karena cahayamu. Lebur kemudian bersenyawa hingga membentuk wujud baru, berbentuk berlian, murni. Tak ada gula pula picisan, yang aku lakukan hanyalah belajar, mandi dan makan.

Seharusnya kamu tahu, berlian itu lahir dari tangan-tangan hitam kerontang dan kamu tidak pantas menyebutnya sebagai tahta suci. Pantulannya adalah darah, sinarnya adalah jeritan. Tidak ada kebanggaan menatapnya dalam etalase.

Lagi-lagi kamu keras kepala. Kuda sedang kulaju, sampai bertemu di padang gurun. Kering.

Hei, tidak berkaca! Dengan sinis kamu muntahkan liur dan dia masih mau menelannya. Untuk aku yang singkat, belum tahu bentukmu. Kamu masih juga merapat manis. Sudah, segera tanggalkan topeng itu! Turuti saja dulu sampai akar umbaranmu, kamu mau berlayar lagi atau tidak sudah bukan urusanku.

Sejak awal, segala polah memang bukan urusanmu. Dan aku kecewa ketika cerita tiga bocah lugu pada sebuah sungai dan lereng bukit juga kamu anggap sebagai modus. Bebal.

Tidak! Itu aku yang memilih.

Enyah segala sampah! Aku pilih tidur.

Pengecut!

Ha..ha..ha.. Lonte!!!

Akhirnya keluar juga kata-kata itu. Selamat datang…

Ha..ha..ha.. Terimakasih, lonteku.

Aku bukan milikmu, bangsat!

————————————————————————————————————————————

AEPTOW

300810

August 7, 2010

Hujan

Senja dan kepulan asap, mendung. Sepasang persandingan beradu sajak gila. Lalu rintik datang memberi banyak inspirasi. Dia memfonisku gila, tak berkaca padahal bentuk rupanya sama rata dengan seorang telanjang di pinggir jalan. Masih fokus pada rentetan tombol selular.

Dia memfonisku lagi sebagai penipu. Hei, tolong carikan lilin lalu lelehkan kemudian usap rata pada seluruh permukaan wajahku! Karena deras air langit di luar tak mampu membuat luntur coretan topeng yang mendominasinya.

Akhirnya satu kalimat keluar dari otaknya malu-malu: "Satu suapan, membuatku takut adalah menipu, membuat menanti-nanti gelinjang pun aku tertipu."

Hahaha, tak sadar dia. Sudah empat suap diberi, dia bilang satu. Dan satu malam lalu bahkan dia berpura-pura gelinjang dihadapanku. Aku klimaks tiga kali, dia belum. Sampai cahaya kuning menyeruak masuk lewat pinggir tirai jendela.

Kali ini racau keluar dari mulutnya: "Iya, telunjukmu ikut masuk menari-nari bersama kotoran yang empat jam mengepung kuku. Kau bilang itu bagian dari permainan. Tapi tak perlu diaduk begitu, sayang! Itu perih."

Dia anggap aku bermain kotor. Padahal hujan kemarin sudah cukup menghapus debu hingga dalam kuku. Aku tak bohong, aku bersih. Dan segelas teh hangat yang kusajikan tepat dihadapannya murni tanpa bumbu-bumbu candu apalagi racun. Adakah aku menipu? Aku heran di mana letak perihnya.

Perih sebabnya merobek dan menandai kota. Lebih dari igauan lenguhmu, garam yang membias menjadi kristal maya. Menekan tanpa sanggup menyebut kita apa. Menenggak mimpi semalam menghampiri setinja untuk bermutasi menjadi riak tapi tak ada tenggelam, masih sedang diburu sampai kepada teriakan.

Tak peduli apa arti tetesan air tubuh berkadar garam. Sepakati semua memang belum terdefinisi. Tak akan berhenti selagi etalase masih berlabel muda.

Sekarang dia masih malu-malu. Kutantang beradu kalimat dia bilang tak mampu. Mari lihat, siapa yang sebenarnya penipu? Dua pasang yang lain sudah beranjak di kursi depan, hujan hanya tinggal rintik kemudian berganti gemerlap lampu kendaraan membelah jalan. Tidak lupa roda empat ikut merayap pelan, jumlahnya ribuan, padahal baru wilayah pinggiran. Apakabar ibukota? Dan kini hujan sudah benar-benar berhenti.



Depok, 7 Agustus 2010, pinggir jalan.

July 21, 2010

Taring, Nisan, Tidur, dan Romantika

Taring


Aku tidak boleh lagi jatuh cinta dengan kaummu, tidak karena rasa itu tidak waras. Seperti bermain-main dengan petasan, meletup panas. Dan kita memang bukan sepasang, kita tak pernah bisa satu pasang, karena aku anti berpasang. Jadi bila pasang ialah melengkapi, kita telah lengkap sebelum. Aku cuma tahu dan belajar sekian memasang : bahagia.

Walau perihal perpasangan adalah status. Tapi tak perlu sesumbar anti berpasang. Kita gejolak, tak terbaca. Jangan mengelak karena aku siap menyatu pada Che lalu Vara. Beri tahu Che, bahkan topeng Ramon pun tak tahan lama. Kita harus bertemu lusa.

Namun aku sedang jatuh cinta, dengan seorang wanita.
Hahaha lalu kenapa? Ternyata tak perlu adidaya untuk membuka kedok Ramonmu. Logika terbalik pun dapat ditegakkan, bukan masalah. Ini menarik, sayangnya wanitamu tak membuatku cemburu. Racunku menyatu dengan candumu, kini berbalik arah, aku terkontaminasi. Kau tak bisa lari, kecil.

Sial... hahaha. Tahukah kamu, ada enam titik memerah di leher. Aku bingung ini karena si pemilik taring atau apa?

Kalau kejadiannya kurang dari 48 jam berarti bukan bekas taringku.
Lalu siapa? Siapa dia?

Mana ku tahu, kau pasti cakap menghitung mundur. Aku ingat sekali, terakhir aku menjilat liur adalah lebih dari 48 jam yang lalu. Liurmu bukan darahmu.

Sudah ada bekasnya dari dua hari yang lalu, pada akhir petualangan ujung pekan.

Maaf, baru ku ingat. Itu bekas taringku. Gila... Romansa bersemayam sejenak, atau kamu sudah membuang kamus puitis? Hahaha. Maha misteri.

Aku ngantuk.

Cepat tidur, jadilah apapun juga!

Apa jadilah?

Jadi apapun yang kamu kehendaki, bentuk mimpi!



Nisan

Aku mau pergi sebentar, mau beri salam pada nisan-nisan?

Nisan mana yang pantas diberi salam?

Nisan itu, yang terbuat dari pohon besar dengan daun tanpa klorofil dengan dahan dahan yang lebih menyerupai jaringan dalam bola matamu. Masih berapa menit? Mari mainkan lagi.

Gagak pun tak berani hinggap diatasnya. Perjalanan memang belum terhenti. Makam tersebut cuma persinggahan belaka. Mari, kencangkan genggamanmu.

Ya, aku siap.



Tidur

Maaf, aku tertidur dalam kerja.

Hahaha... Aku pun lelah. 

Kenapa tertawa? Sinting kau! Hahaha. Cepat terbang ke kamar tidur.

Memang sinting, hahaha. Beri peluk, lalu kau boleh lanjut kerja lagi.


Romantika

Hey, kamu sakit? Tuhan kamu taruh mana?

Aku sehat bugar sadar, tidak buta warna, tidak buta huruf, pendengaran normal, otak juga normal standar. Tuhan tidak aku taruh di mana-mana, Dia memilih tempatNya sendiri, semauNya saja. Dan ketika aku ingin bermain, Dia selalu menjadi partner yang baik.

Kamu butuh pemahaman lebih tentang wajar tak wajar, kita bicara kodrat serta nalar. Percuma ritual lima waktu bila kamu berdalih setiap tindakanmu pasti benar.

Romantika tidak ada batasan, romantika itu bukan ikatan. Mencintai kehidupan itu berarti tanpa pandang kaumku kaummu. Tuhanku Maha Penyayang, aku menyayangi siapa saja seperti halnya Dia selipkan berbagai jumlah rasa dalam kotak intuisiku. Aku hanya menyayangi, aku cinta ketulusan, tidak ada yang salah dengan itu. Aku pikir, sifat istimewa ”Maha” yang diberikan manusia kepada Tuhan tidak termasuk ”Maha Memaksa”. Dia tidak sesombong itu.

Coba bedakan cinta dan sayang! Kamu bilang cinta tadi pagi, dan karena aku sendiri kurang mengerti definisi cinta. Satu lagi, gugat Tuhan! Mengapa Dia ciptakan jenisku dan jenismu? Buat apa kelamin? Mengapa hasrat yang kamu punya justru ada setelah kamu lahir? Bukankah kita sudah disetting? Cukup bibirku saja yang kamu gigit, jangan bibirnya karena tidak ada dalam Kamasutra.

Memangnya Tuhan yang bilang aku ini perempuan dan kamu laki-laki?Apakah Tuhan pernah bilang padamu bila kamu pria?Kalau label pria kamu dapatkan hanya karena penismu, lalu bagaimana dengan orang berkelamin ganda?Itu juga Tuhan yang buat bukan?Dan tentang perasaan di mana kamu tiba-tiba nyaman, senang, tertawa kecil sendiri hanya karena beberapa menit mendengar suaranya, itu apa namanya? Ajarkan saya! Hey tunggu, kamu cemburu?

Hahaha, aku kalah. Tunggu sampai aku membaca kelamin ganda. Terima kasih kamu keras kepala. Bukan cemburu, ini hanya penolakan terhadap apa yang aku anggap tidak wajar.

 Kalau begitu kamus kewajaranmu yang harus diperbaiki. Menurutku ”sepasang” itu ada bukan karena konteks perbedaan, tetapi karena saling melengkapi. Sepasang sepatu itu ada bukan karena yang kanan berbeda dengan yang kiri, tetapi kanan melengkapi kiri atau sebaliknya.

Berarti masalah kewajaran di akhir pekan tidak perlu kamu gugat. Karena pada kenyataannya aku tidak komplemen dengannya.

Hahaha, aku tidak menggugat, aku juga tidak perlu memberi penilaian terhadapmu. Aku sungguh mencintai kehidupan. Dan mengenai ritual lima waktu yang dikaitkan dengan rasaku yang kamu bilang tidak wajar, prosesi itu adalah media pendekatan terhadap diriku sendiri, berdialog dengan diri, waktu untuk jiwa, dan tidak ada kaitannya dengan rasa itu.

Justru aku mengaitkannya dengan Tuhan, karena olehNya segala rasa itu ada. Jika perasaanmu memang termasuk dalam bentukan-Nya, tentu tak perlu aku menggugat apalagi sampai debat basi. Nalarku memang tidak sampai, termasuk mengkaji jalur yang Dia buat. Kita berbeda, sangat jauh jaraknya.



21 Juli 2010
AEP
TOW

July 5, 2010

Adiksi

Bukan perkara mudah untuk melupakan sebuah kisah, kronologi dan babakan lampau sebuah peristiwa. Peristiwaku peristiwamu, kisahku kisahmu, aku – kamu, kita. Hey kamu yang pertama, banyak kisah yang memang tak bisa ku lupa. Ya, aku penganut paham klasik bahwa yang pertama paling berkesan, kesan pertama susah hilang, yang kedua jelas berbeda dari yang pertama, apalagi yang ketiga dan seterusnya. Maaf wahai kedua ketiga dan seterusnya, ini wajar kata orang banyak.

Sudah lima kali pergantian tahun semenjak kita tutup cerita. Cukup lama, bahkan aku pun mampu membuat lagi dua cerita. Yang kedua setelahmu telah tamat empat semester yang lalu, dan yang ketiga sedang kutulis pada lembar lain bukan pada lembar ini, karena yang ini khusus kutulis untukmu wahai yang pertama. Sudah berapa cerita lagi yang kamu buat?

Tak bermaksud ungkit kisah apalagi mengintimidasimu untuk ingat padahal dirimu sudah tak ingat, aku tak peduli mau dirimu ingat atau tidak. Yang sedang kamu simak ini adalah yang disebut sebagai caraku berbagi cerita. Yang akan aku bagi adalah sebuah cerita tentang aku yang selalu ingat cerita lama kita. Tidak semua ceritanya karena sudah kupangkas menjadi beberapa. Dari beberapa itu kemudian aku pilah-pilih lagi yang paling berkesan, akhirnya tinggal satu cerita saja.

Ini tentang sebuah kebiasaan, sebenarnya dua yaitu kebiasaanku dan kebiasaanmu, tetapi karena berada pada moment yang sama maka bolehlah kiranya bila kuanggap menjadi satu kebiasaan. Dan sebenarnya pula yang kusebut dengan satu cerita pun agak rancu. Begini, ada banyak moment dengan satu kebiasaanmu dan satu pula kebiasaanku. Bila aku jelaskan detailnya satu per satu tentu saja akan memakan banyak waktu, toh percuma juga bila aku ceritakan semuanya karena tiap-tiap moment tersebut memiliki kesamaan makna. Singkatnya, kesemua moment tersebut akan kurangkum menjadi satu cerita.

Pada semester akhir kita di SMU. Selalu terjadi tiap kali kita bertemu pada kantin ujung barat sekolah dekat pintu gerbang belakang, jalur biasa kita berjalan kaki sepulang sekolah, sudut remang teras rumahmu di malam minggu, dan arena favorit kita bermain vandal. Mudah-mudahan kamu masih ingat, ada batu besar, satu-satunya batu besar di area pemakaman belakang rumah nenekku yang selalu kita jadikan alas duduk setelah lelah mencoret-coret permukaannya, dan satu album penuh a rush of blood to the head di dalam walkman selalu menjadi hiburan berikutnya sambil menanti jingga bentukan langit sore.

Aku yakin kamu sekarang mulai tersenyum oleh kilas balik memori yang telah aku sebutkan. Dan kalau kamu peka, ada garis imajiner yang menghubungkan empat lokasi tersebut satu sama lain. Keningmu pasti berkerut sekarang. “Apa sebenarnya yang menjadi inti cerita?”, benakmu pasti bertanya demikian. Keempat tempat tersebut adalah lokasi di mana aku bisa leluasa melakukan sebuah kebiasaan yang oleh guru dan orang tua dianggap tabu mengingat umur kita yang masih belasan, masih berseragam pula. Karena tempat-tempat itu jauh dari jangkauan mereka.

Dimulai dengan kantin di ujung barat sekolah, tempat berkumpul siswa kelas tiga, dari situ yang aku sebut sebagai kebiasaanmu itu lahir, kebiasaanmu untuk sekedar mencicipi apa yang menjadi kebiasaanku. Kebiasaan tersebut akhirnya menjadi kegiatan rutin di tiga tempat berikutnya. Rasanya tidak enak katamu, tetapi kamu selalu tertarik untuk mencobanya walau sedikit.

Kamu selalu batuk-batuk ketika menghisapnya, sangat lucu, dan masih aku ingat sampai sekarang…

Ya betul, ini tentang gulungan silindris kertas berisi tembakau itu. Yang sering aku bakar ujungnya sehabis kita makan siang di kantin. Yang aku hisap dalam-dalam aromanya di jalan setapak sepi ketika kita pulang sekolah. Yang aku semburkan kuat-kuat asapnya pada ritual apel malam minggu. Dan yang banyak aku buang sisa-sisa batangnya di pemakaman belakang rumah nenek ketika duduk menikmati sore bersamamu.

Tetapi bukan itu poin utamanya, yang sebenarnya menjadi inti adalah rasa keingintahuanmu yang teramat tinggi terhadap cita rasa tiap batangnya yang justru membuatmu tampak konyol. Kamu merengek ingin mencoba. Karena tak tega aku beri kamu kesempatan dua sampai lima kali hisap, setelah itu wajahmu memerah menahan mual dan batuk-batuk oleh sesak. Kau tampak tidak pernah jera, rengekanmu selalu berulang di hari-hari berikutnya.

“Aku pengen tau enaknya di mana.”

“Mending ngga usah sekalian kalo ngga bisa dapetin enaknya.”

“Kamu aja bisa kenapa aku ngga.”

Satu bulan lamanya kamu masih saja batuk-batuk, dan semakin konyol melihat kegigihanmu untuk terus mencari kenikmatan hisap demi hisapnya. Sampai akhirnya kita tamatkan buku perjalanan bersama kita, usahamu belum juga memberi hasil. Aku tidak tahu apakah kamu masih gigih mencoba setelahnya. Yang jelas sekarang sudah kurang lebih lima tahun kita tak berkabar. Apakah kamu sudah adiksi? Jika memang ada waktu, akan aku sisakan satu batang jatah harianku buatmu.

June 6, 2010

Minor

Semua pasti damai dengan sendirinya. Tak perlu repot mencari tahu ketika lawan bicara tidak mau tahu. Wajar bila hati bertanya-tanya, tapi jangan gegabah menggunakan tanda tanya. Tanda tanya bisa mengintimidasi, bisa menyudutkan, dan bisa saja membuat jatuh mood siapa saja.

Bukan masalah dewasa tak dewasa, kedewasaan itu relatif. Aku tak tahu tentang ukuran kapan manusia itu dewasa. Ciri-ciri dewasa yang tersedia di banyak media adalah buatan orang-orang munafik, kita yang mencoba mengikuti termasuk pula orang hipokrit. Biarkanlah hidup mengalir dengan kematangan.

Aku matang ketika aku sudah mampu mengeluarkan sperma untuk membuahi sel telur. Aku matang ketika aku mengerti etika tanda tanya. Aku matang ketika aku mampu membedakan siapa yang bisa dipercaya dan yang tidak. Apakah matang dapat disamakan dengan dewasa? Tidak menurutku. Kedewasaan berada pada strata yang lebih tinggi dari kematangan. Dengan sangat jujur aku menganggap kedewasaan adalah utopia, semacam mimpi yang diidamkan mayoritas orang, aku pun mengidamkan itu. Kedewasaan adalah sifat yang serba baik tanpa cela.

Bukannya sok matang apalagi sok dewasa, aku pun sebenarnya sosok yang penuh cela. Suka berkomentar tanpa berkaca. Dengan sangat jujur pula aku berkata “ini adalah keluhan akibat tanda tanya yang datangnya bertubi-tubi”.

Keluhan ini pasti pedas kau rasa, tapi cobalah keluar dari jebakan kebingungan yang banyak menyita waktu. Kalau aku kau anggap sebagai yang terpercaya, bebaskan aku sejenak untuk memperbaiki konsentrasi.

Aku tahu ini sedikit menyakitkan, sedikit bukan banyak. Maka, tak usah kau keluarkan segala daya usaha demi mencari tahu apa yang sebenarnya berkecamuk di otakku. Termasuk tanda tanya itu, simpanlah untuk hal lain daripada masalah yang sebenarnya minor ini berubah mayor.

Otakku hanya berusaha kembali pada jalur yang seharusnya. Memang sempat berbelok tak tentu arah, dan sempat pula membuat jalan baru karena muak dengan jalan lama. Tapi kusadari itu adalah emosi semata. Karena masalah yang terjadi memang bukan mayor, aku berusaha menghilangkan emosi itu dan kini hanya butuh waktu untuk memutar kembali arah laju, karena aku sudah sangat berkomitmen dengan jalan lama.

Kita bersepakat ini minor. Maka tertawalah, tertawa saja sampai liurmu kering dan menghapus segala ketakutanmu. Tertawalah demi memperhalus lagi jalan kita yang makin kasar oleh banyak tanda tanya. Tertawalah walau sedikit pahit, karena dalam sedih itu kau pasti merasakan sakit termanis.

June 1, 2010

Takut Kamu Masuk Angin




Kamu bilang “we flood empty lakes”. Oke, danau mana yang telah kita banjiri? Aku lupa. Kamu lalu marah-marah. Aku memang lupa, bukan sengaja lupa. Kamu bilang, aku terlalu gampang melupakan moment-moment bersama. Aku jawab, selama itu tidak prinsipil wajar kalau aku lupa. Kamu marah-marah lagi. Sudahlah, mari kita bermain hoppipolla, walau hidung kita berdarah tapi kita selalu berusaha berdiri, begitu kata lagunya. Yang jelas, bila sifat buruk itu datang lagi, aku hanya bisa bilang, “illuminate my heart, my darling”. Jangan pula pedulikan angin baru di luar yang juga menawarkan banyak gelinjang, takut nantinya kamu masuk angin. Dan yang terakhir, biarkan waktu berjalan dengan semestinya, dan bebaskan harmoni berbicara dengan bahasanya sendiri.

May 30, 2010

Instrumen Itu Memabukkan


Yndi Halda - Dash and Blast (part1)


Biola, viola lalu cello berkolaborasi bersama piano, petikan gitar dan disambut dengan dentuman benda tabuh menghasilkan nada yang mengisi penuh sebuah ruang 3x4. Kolaborasi tersebut semakin lengkap ketika efek-efek ambient datang bersama piranti elektronik.

Sangat lembut di awal. Biola menggesek atmosfer menjadi lebih sejuk, viola dan cello membantu gesekannya menjadi semarak. Lalu piano datang beriringan bersama petikan gitar, tidak lupa biola memperkuat gesekannya agar drum ikut terpancing mengeluarkan tabuhannya.

Nada kemudian naik menuju atap ruang, riak kolaborasi semakin keras. Piano tidak sekedar bermain klasik, cenderung eksperimental dia membakar, tapi tidak menghasilkan panas secara lahiriyah. Panas tersebut tidak mempengaruhi sejuk atmosfer, yang ada malah mempengaruhi gitar untuk mengeluarkan pekak distorsi berbekal efek, lalu tabuhan drum semakin tak teratur. Nada yang tadinya lembut meluncur deras berbuah bising.

Belum klimaks, masih jauh dari klimaks. Dan kali ini piano bermain sendirian, sangat egois, satu ruangan terasa penuh sesak oleh dentingannya, gendang telinga teriris sedikit oleh harmoninya. Kemudian biola membelah diri menjadi dua, bersama viola dan cello membentuk string quartet yang tidak mau kalah oleh kinerja piano, sampai-sampai piano seperti menelan suaranya sendiri.

Gitar kini bersuara akustik, petik demi petik membantu jantung mempercepat debar, sangat normal tanpa noise atau pun distorsi. Dari petik berubah pelan menjadi ritmik lalu drum bersama cymbal mengiringi ibarat mengisi sebuah parade.

Alur kolaborasi naik lagi. Kali ini drum berdentum dengan kekuatan 10 kali lipat. String quartet menjadi sangat mencolok suaranya, piano menggantikan kemudian. Distorsi gitar juga kentara, pekik noise-nya juga makin melilit kepala.

Melayang aku melayang, kursi tempatku bertumpu pun ikut berputar-putar mengikuti tekstur musiknya. Alurnya tetap memberi sejuk bahkan dingin. Kepala seperti terkoyak lalu otak ikut-ikutan mencampur aduk memori. Aku puas, ini adalah klimaks. Aku orgasme hingga bulu kuduk berdiri. Lalu tempo menjadi normal kembali, sedikit demi sedikit instrument memperlirih suaranya, hingga hilang tak berjejak.

Aku tertampar telak di pipi menembus tulang. Harmoni dan melodinya mencitrakan sesuatu yang carut-marut, kacau sekacau isi kepalaku. Dan untungnya gabungan instrument tersebut tidak mengilhami untuk bunuh diri. Kemudian suasana hening seketika dan gelap sampai hilang jarak pandang. Aku rebah dari kursi menuju ranjang.

Aku terkapar, mabuk oleh harmoni dan melodi, bukan mabuk oleh piranti yang merupakan zat bersubstansi. Jika kau meresapi, mendengarkan satu kali Yndi Halda adalah sama dengan menenggak setengah botol anggur merah. Cobalah berkali-kali!