November 22, 2014

Binar


Sebagai penghuni bumi tropis, aku sudah terbiasa dengan pembagian yang adil. Siang-malam, basah-kering, hadir silih berganti dengan masa pasti. Tak pernah kurang dan tak pernah lebih, semua hadir dan hilang - sesuai porsi. Dan ya, tentang ia, pun pergi dan datang sesuai porsi.

Aku adalah tunas, ia adalah mentari. Ia datang menghibur dari mula fajar dan pergi meninggalkan jejak rindu di senja hari. Aku tahu, tak ada lagi yang musti sering ditanya, pun tak ada gentar yang perlu banyak dirasa. Gelap adalah cobaan, toh aku masih dapat bernafas. Terang adalah anugerah, ada bahagia mengiring sinar - sinar cerianya.

Lihat, ia makin berbinar! Tak ada alasan bagiku untuk sulit tumbuh. Mulai dari sini, di sini, kini, dan dalam diam, sinarnya akan mengubahku - menjadi pohon.





April 15, 2013

Akhir Musim Kemarau (?)



"Siapa sih yang tidak rindu memandang rumput dan langit senja seperti ini dengan bebas?" begitu kau bilang. Tentu saja sebagian orang pasti akan rindu, termasuk aku. Ya, aku masuk di situ. Apalagi ketika sadar akan kondisi tamanku yang memang kering sekering-keringnya setelah lama tidak kusiram. Kini, sepertinya, musim kering sudah mulai menunjukkan tanda pergi. Titik air mulai kukumpulkan, dan memang aku telah bebas sebebas-bebasnya. Tidak ada lagi sesuatu dan lain hal yang dapat menghalangi jalanku menuju taman, menghalangi rumputku untuk disiram, dan bahkan, aku telang pasang teropong kembali - untuk simak hijaumu.


 

December 3, 2012

Halo, Dunia!


Halo, Dunia.

Apakah engkau resah menanti jejamah dan raba tanganku beberapa minggu belakangan? Hari-hari berat, Dunia. Sulit menyapamu ketika kepala masih dibebani setumpuk besi karat, berat. Ada sekian macam drama tentang kehidupan pulau tropis yang kini makin kentara kerasnya.

Ada dia Si Bayi, cecunguk kecil yang lupa daratan setelah diberi posisi yang bagus. Manis dan tampak bertanggung jawab di hadapan orang-orang dewasa. Tapi di belakang, tak ada kerjanya. Busuk!

Ada pula dia Si Tua. Bermuka dua (juga). Hidupnya mengambang di antara Si Baik dan Si Jahat, dia pandai membagi kantungnya sama rata demi keping emas dari keduanya. Setan!

Kasihan Si Baik, terombang-ambing ke sana ke mari bagai debu yang tak mengerti arah laju, kecuali bila digiring oleh sang angin. Jalan berkelok yang ia lalui makin dipersulit oleh lubang di sana-sini. Bahkan Si Jahat dengan liciknya telah menggiring Si Baik ke tepian jurang. Sekali dorong, hancur kebaikan yang telah ia ramu tiga ratus hari ke belakang.

Ya, memang sangat sulit berkelakuan baik di bumi tropis ini. Banyak kekonyolan yang bahkan mega lucunya, hingga tawa dapat seketika berubah menjadi tangis.

Begitulah berat hari-hariku belakangan, Dunia. Aku hidup pada kubu yang penuh konflik, susah mencari fokus akan utopia yang telah kuracik. Aku bagai seonggok sampah di tengah lapangan, pasrah menunggu kesadaran sosok yang rela memungut dan menempatkanku ke tujuan akhir, ke tempat sampah.

Namun, tiba-tiba muncul sosok baru yang juga baik. Lewat kotak ajaib, ia kirimkan bongkahan es ke ruang kepala. Tak disangka, kepalaku berubah dingin seketika. Putus asa belum juga jadi menenggelamkan angan, justru angan yang perlahan bangkit ke permukaan. Tak jadi buruk kondisiku, Dunia. Bahkan kini, aku siap menjamah tiap jengkal tubuhmu dengan stamina tinggi.

Betul, memang lucu bumi kita.
Arena parodi konyol mega tawa,
juga tangis,
miris.
Namun, masih tetap ada keindahan
yang terselip di beberapa lini.
  

Penuh cinta,
Jiwa.

November 21, 2012



Sudah kamu rasakan mabuknya? Kini pulanglah! Tidak lama lagi kita akan bertemu, dan luapanmu akan aku cacah di tempat yang kamu utarakan sebagai taman paling indah.


November 2, 2012