February 26, 2018

"Anak Rohani" (?)






Saya ingin mengenang sedikit masa-masa lewat, masa di kala awal-awal saya menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Perkenalan dengan Sthira Pradipta, yang kemudian menjadi sahabat sekaligus kawan diskusi seputar kesejarahan, Bardawansyah AdityaKardhika Cipta BinangkitSayogo WijiastoOsdi AlampratamaYuda RasyadianAdya GrahitaCiputt PutriiPattar Fg, dan seluruh penghuni Republik “chill” Sendowo, adalah cikal bakal petualangan saya di dunia subkultur pop-underground (yang tak berkesan amat sebetulnya, karena saya ini apalah).

Kami sering menonton gig-gig di seputar Jogja, bahkan pernah dengan sengaja memakai uang kuliah untuk membeli tiket konser Club 8 di Jakarta tahun 2007 silam. Asupan mixtape dari mereka juga begitu masif, berbagai genre, mulai dari Britpop, post-punk, trip-hop, twee-pop dan shibuya-kei, hingga saya mendapatkan sebuah identitas baru.

Identitas tersebut kemudian mengantarkan saya pada pertemuan dengan aktivis-aktivis pop-underground puritan macam Arkham Kurniadi, Mas Dimas WidiartoFajar MarthaIstiqlal 'markucal' RezaMuhammad Asad Bin BisyirMumu Moretti BisyirStephanus Raditya dan beberapa kawan lain di CP & IRC.

Perkenalan itu pula yang kemudian membuat saya mantap membuat penelitian sederhana tentang pergerakan pop-underground di Indonesia. Berawal dari data dan informan seadanya, penelitian ini berhasil membuat saya lulus dari UGM.

Bertahun-tahun setelahnya, tepatnya awal tahun 2018 ini, kawan-kawan dari Dialog Pustaka menemukan skripsi saya di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UGM. Dari sana, mereka berusaha mengontak saya via media sosial, mengutarakan maksud untuk menerbitkan hasil penelitian saya ke dalam sebentuk buku.

Sempat saya gamang, karena apa yang saya kerjakan tersebut telah lagi tak relevan, pun jauh dari sempurna. Namun, kawan saya yang lain, Riyanto Rachmat, memberi semacam dukungan, “Ngga apa-apalah, Dit, hitung-hitung memperkaya literasi dan bagi-bagi informasi.”, ujarnya.

Benar juga. Apalagi, beberapa tahun terakhir ada kecenderungan global dalam merilis buku/ film dokumenter bertema pop-underground: buku tentang C86 terbit tahun 2014, buku dan film tentang Sarah Records terbit setahun setelahnya. Lewat beberapa waktu perenungan, akhirnya saya mengiyakan tawaran Dialog Pustaka. Semua biaya produksi mereka tanggung, editor pun telah dipersiapkan, saya hanya terima beres.

Akhirnya, tanggal 21 Februari kemarin, buku saya telah benar-benar terbit. Sedikit terharu, tergelitik banyak, setelah melihat bentuk fisiknya untuk pertama kali. Tabik sebesar-besar saya kepada Dialog Pustaka karena telah berani berjudi, pula kepada Fajar Martha yang telah rela meluangkan waktu untuk meracik kata pengantar. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa penelitian yang saya tujukan semata sebagai syarat lulus, kini bisa dibaca khalayak ramai. Saya percaya bahwa setiap tulisan, baik atau buruk, akan menemukan pembacanya masing-masing. Sebagai lulusan Ilmu Sejarah, saya punya tugas untuk mencatat dan mengarsip peristiwa. Berkah luar biasa ketika saya bisa merekam sebuah dunia kecil yang dulu pernah begitu dalam saya hidupi.



Nb: Buku Rekah! Rekam Jejak Subkultur Indie di Indonesia 1994-2003 ini bisa dipesan langsung ke Dialog Pustaka seharga Rp 85.000, dengan cara pemesanan sbb: ketik Nama + Jumlah Pemesanan + Alamat Lengkap, kirim ke 085793309152, atau 085859816326 (WhatsApp Only).

December 3, 2012

Halo, Dunia!


Halo, Dunia.

Apakah engkau resah menanti jejamah dan raba tanganku beberapa minggu belakangan? Hari-hari berat, Dunia. Sulit menyapamu ketika kepala masih dibebani setumpuk besi karat, berat. Ada sekian macam drama tentang kehidupan pulau tropis yang kini makin kentara kerasnya.

Ada dia Si Bayi, cecunguk kecil yang lupa daratan setelah diberi posisi yang bagus. Manis dan tampak bertanggung jawab di hadapan orang-orang dewasa. Tapi di belakang, tak ada kerjanya. Busuk!

Ada pula dia Si Tua. Bermuka dua (juga). Hidupnya mengambang di antara Si Baik dan Si Jahat, dia pandai membagi kantungnya sama rata demi keping emas dari keduanya. Setan!

Kasihan Si Baik, terombang-ambing ke sana ke mari bagai debu yang tak mengerti arah laju, kecuali bila digiring oleh sang angin. Jalan berkelok yang ia lalui makin dipersulit oleh lubang di sana-sini. Bahkan Si Jahat dengan liciknya telah menggiring Si Baik ke tepian jurang. Sekali dorong, hancur kebaikan yang telah ia ramu tiga ratus hari ke belakang.

Ya, memang sangat sulit berkelakuan baik di bumi tropis ini. Banyak kekonyolan yang bahkan mega lucunya, hingga tawa dapat seketika berubah menjadi tangis.

Begitulah berat hari-hariku belakangan, Dunia. Aku hidup pada kubu yang penuh konflik, susah mencari fokus akan utopia yang telah kuracik. Aku bagai seonggok sampah di tengah lapangan, pasrah menunggu kesadaran sosok yang rela memungut dan menempatkanku ke tujuan akhir, ke tempat sampah.

Namun, tiba-tiba muncul sosok baru yang juga baik. Lewat kotak ajaib, ia kirimkan bongkahan es ke ruang kepala. Tak disangka, kepalaku berubah dingin seketika. Putus asa belum juga jadi menenggelamkan angan, justru angan yang perlahan bangkit ke permukaan. Tak jadi buruk kondisiku, Dunia. Bahkan kini, aku siap menjamah tiap jengkal tubuhmu dengan stamina tinggi.

Betul, memang lucu bumi kita.
Arena parodi konyol mega tawa,
juga tangis,
miris.
Namun, masih tetap ada keindahan
yang terselip di beberapa lini.
  

Penuh cinta,
Jiwa.

November 21, 2012



Sudah kamu rasakan mabuknya? Kini pulanglah! Tidak lama lagi kita akan bertemu, dan luapanmu akan aku cacah di tempat yang kamu utarakan sebagai taman paling indah.


September 5, 2012

Remember September





Years go by and time just seems to fly, dan ya, kita masih bermain dalam kereta yang sama. Memanjat dinding gerbong hingga ke atap, berlari di atasnya, berkejar-kejaran, tanpa mau turun ketika kereta berhenti di stasiun singgah.

"Kapan kiranya jalur baru dibangun? Menuju laut."

"Kenapa laut? Bosan tidur di bordes?"

"Bosan dengan asin peluhmu tepatnya."

"Sial..."


August 8, 2012


'Dalam banyak hal, hierarki memang harus sesering mungkin dicederai, agar si empunya hierarki tadi menyadari bahwa dirinya orang yang tidak becus kerja, orang yang tidak penting dan bukan siapa - siapa.'

- Hardi Baktiantoro -